libyaaanato libya 10

liputanislam.com– Oleh Barat, saya dikatakan gila. Mereka tahu kenyataan yang sebenarnya tetapi mereka terus berbohong. Mereka tahu bahwa tanah kami mandiri dan merdeka, tidak dalam cengkraman kolonial, bahwa misi saya telah jelas bagi semua orang bahwa saya akan berjuang hingga nafas terakhir saya untuk mempertahankan kemerdekaan ini, semoga Allah Swt membantu kita agar tetap setia dan merdeka. (Kolonel Ghaddafi)

Libya kembali bergolak. Hanya saja pergolakan di Libya sepi dari pemberitaan media massa. Tidak seperti Suriah yang beritanya di update tiap menit di seluruh dunia, berita tentang Libya agak susah dilacak, walau begitu, kehadiran satu blog independent yang bernama Libya Against Super Power Media cukup banyak membantu. Dunia tidak banyak yang tahu bahwa kini di Libya di jalan -jalan mulai dibanjiri demonstran dengan membawa bendera hijau dan foto Ghaddafi. Apakah Ghaddafi telah hidup kembali? Sepertinya, rakyat Libya kini tengah dilanda rindu. Rindu era Ghaddafi yang serba gratis. Green Resistance (kelompok pro-Ghaddafi kini telah kembali ke Libya, dan rakyat Libya pun mulai mendukungnya.

Berikut ini adalah rangkuman dari bebrapa kondisi terakhir yang terjadi di Libya

18 Januari  2014– Pemerintah Libya dalam upaya menumpas pemberontakan bersenjata di wilayah Libya Selatan, telah meluncurkan serangan udara terhadap gerilyawan. Di  Sabha, 770 km dari kota Tripoli, milisi bersenjata menyerang pangkalan angkatan udara.  Yang dituding sebagai pelaku penyerangan adalah green resistance- Pro Ghaddafi. Sebelumnya, Jendral Kongres Nasional Libya mengumumkan keadaan darurat untuk situasi di kota Sabha, dan selama bentrokan berhari-hari, sedikitnya 31 orang dinyatakan tewas menurut laporan AFP.

20 Januari 2014 – Bom yang dijatuhkan dari pesawat tempur yang diterbangkan oleh pilot asing yang direkrut oleh al-Qaida, dalam serangan yang dilancarkan oleh Dewan Transisi Libya dukungan AS dan al-Qaida, terhadap perlawanan rakyat Libya dibawah bendera Green Resistance yang bangkit di lebih dari selusin kota-kota wilayah selatan, termasuk kota terbesar, Sabha.

Menurut sumber-sumber suku Libya, Ayman al-Zawahiri, pemimpin al-Qaida, telah muncul di Misrata-Libya, dalam beberapa hari terakhir untuk melakukan pengaturan dengan “Abdul Hakim Belhaj”, terkait operatif al-Qaeda di Tripoli.
Abdul Hakim Belhaj telah diidentifikasi sebagai penyelenggara utama dari serangan teror di Benghazi yang mengakibatkan kematian Duta Besar AS Christopher Stevens (menjadi pro-kontra di Internal Pemerintah dan rakyat AS). Abdul Hakim Belhaj juga telah bergabung dengan pemerintah Libya untuk mengatur serangan udara terhadap perlawanan rakyat Libya dibawah bendera Green Resistance yang telah menguasai wilayah Sabha.

Via Skype, sumber-sumber Libya menyediakan foto-foto dan video yang menunjukkan pesawat militer yang dioperasikan oleh Dewan Transisi Nasional Libya beroperasi diatas wilayah Sabha. Sumber-sumber mengatakan, Para pilot direkrut oleh al-Qaida dari Qatar, Turki dan Sudan setelah pilot dari militer Libya menolak untuk menjatuhkan bom pada sesama warga Libya.

WND sebelumnya telah melaporkan, seorang pemimpin suku Libya yang diwawancarai via Skype, dari Libya mengatakan, bahwa Presiden Obama dan NATO bertanggung jawab untuk destabilisasi politik di Libya dengan memungkinkan kelompok al-Qaeda dan faksi-faksi radikal turut mengontrol negara. WND menunjukkan bahwa tujuan awal dari misi khusus CIA di Benghazi adalah untuk memasok senjata bagi kelompok-kelompok Al-Qaeda dan “pemberontak” radikal lainnya melawan Gadhafi, dan setelah kejatuhan Gadhafi, misi khusus CIA di Benghazi adalah untuk mengkoordinasikan pengiriman senjata dari Libya pada kelompok-kelompok pemberontak yang menentang pemerintah Suriah saat ini.

21 Januari 2014 – Pemerintah Libya kekurangan tentara sehingga mereka mendatangkan combatan dari Qatar dan tentara bayaran NATO untuk memperkuat pasukan Libya bersama dengan 240 milisi lainnya.
Gerakan perlawanan Green Resistance berhasil mengambil-alih Pangkalan Militer di wilayah Sabha dari tangan Pasukan Perdana Menteri Zeidan. Perdana Menteri Zeidan telah sepakat dengan Ikhwanul Muslimin, elemen Al-Qaeda dan Milisi Misurata untuk campur tangan dan mencoba untuk merebut kembali bandara dari penguasaan Green Resistance – namun mereka tidak berhasil.
Sementara itu pesawat tempur Qatar membombardir wilayah Sabha tanpa pandang bulu terhadap combatan maupun warga sipil.
Green Resistance, rakyat Sabha dan para pejuang dari suku-suku lain telah datang bersama-sama untuk berdiri melawan penjajah NATO/Ikhwanul Muslimin/Al-Qaeda/Anshar Al-Syariah dan Milisi Misrata, yang membunuh anak-anak dan orang dewasa dengan sesuka hati.

22 January 2014– Ribuan warga Libya menyelamatkan diri dari pertempuran yang kembali pecah di Libya, dimana mereka menyeberang ke negara tetangga, Tunisia.

Laporan Tataouine radio station Tunisia mengklaim bahwa terjadi peningkatan dalam bentrokan bersenjata antara pasukan pemerintah boneka NATO di Libya dengan Partai Keadilan dan Pembangunan (JCP), sayap politik Ikhwanul Muslimin yang berada di dalamnya melawan para pejuang yang setia kepada mendiang pemimpin Libya Kolonel Muammar Gaddafi, “Green Force”.

Radio mengutip sumber keamanan Tunisia mengatakan bahwa hampir tiga ribu warga Libya menyeberangi perbatasan setiap hari, mengingat jumlah kendaraan yang menunggu di sisi Libya dari perbatasan, mereka mengatakan bahwa angka ini cenderung meningkat. Eksodus, kata Tataouine, menyerupai apa yang terjadi setelah Revolusi Libya pada bulan Februari 2011 saat front dukungan NATO dan Ikhwanul Muslimin menggulingkan Presiden Libya, Muammar Ghaddafi.

24 January 2014 – Perselisihan yang terjadi dalam internal pemerintahan dukungan NATO di Libya mengancam negara tersebut terjerumus lebih jauh ke dalam kegelapan.
Tarik tambang kepentingan yang pecah antara Perdana Menteri Libya Ali Zeidan dan Islamic Minister mengancam untuk lebih melumpuhkan pemerintah Libya yang sudah lemah oleh perlawanan Rakyat (Green Resistance).

Persengketaan terbaru meletus ketika Partai Keadilan dan Pembangunan (JCP), sayap politik dari gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) Libya, menarik mundur lima menterinya dari kebersamaan mereka selama ini dalam pemerintahan dukungan NATO dibawah kepemimpinan Perdana Menteri Libya Ali Zeidan.

Perselisihan yang meruncing antara gerakan Ikhwanul Muslimin terhadap pihak Liberal di dalam pemerintahan dibawah kepemimpinan Perdana Menteri Libya Ali Zeidan, dimana hal tersebut mengancam “untuk mendorong negara itu terperosok lebih jauh ke dalam kegelapan,” tambah analis politik Khaled Tajuri.

Pada bulan Juli 2012, Libya memilih General National Congress (GNC) — Libya’s top political authority, dalam pemilu bebas pertama mereka setelah tergulingnya Kadhafi, memberikan mandat 18 bulan untuk mengarahkan negara menuju pemilihan umum setelah mengadopsi konstitusi. Tapi GNC kemudian diperpanjang mandatnya pada bulan Desember, sampai akhir 2014, memicu protes di Libya oleh demonstran yang memperingatkan “revolusi baru” jika transisi tersebut dilanggar.
Human Rights Watch telah memperingatkan bahaya “anarki” di Libya, dan mengatakan bahwa pihak berwenang tidak dapat memaksakan aturan hukum dan tak mampu melindungi masyarakat.

Sementara itu, info sementara, pasukan pemerintah Libya dukungan Blok Barat (AS, NATO, dll) yang beraliansi dengan Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Qatar, dll melakukan serangan dengan menggunakan senjata kimia untuk menghadapi perlawanan rakyat Libya.
Keterangan senjata kimia: Sulfur mustard
Mustard sulfur, atau mustard sulfur, umumnya dikenal sebagai gas mustard, adalah kelas sitotoksik terkait dan agen senjata kimia yang menyebabkan bengkak dengan kemampuan untuk membentuk lepuh besar pada kulit terbuka dan di paru-paru.
Agen Mustard diatur dalam Konvensi Senjata Kimia 1993 (CWC).

Tiga kelas bahan kimia yang dipantau berdasarkan Konvensi ini, dengan sulfur dan nitrogen mustard dikelompokkan dalam listing, sebagai zat dengan tidak ada gunanya selain dalam perang kimia.
Agen Mustard biasanya digunakan ke medan perang dengan cara peluru artileri, bom udara, roket, atau dengan penyemprotan dari pesawat tempur.
Dua setengah tahun setelah penggulingan rezim Ghaddafi, keamanan dan ekonomi telah hancur di Libya.

25 January 2014- Seorang juru bicara Kementerian Libya Luar Negeri mengatakan pada hari Sabtu, bahwa lima diplomat Mesir telah diculik oleh sekelompok orang bersenjata tak dikenal semalam di ibukota Libya, Tripoli.

Para pria bersenjata pertama menculik atase administrasi pada Jumat malam, kemudian empat diplomat lagi, termasuk atase kebudayaan, secara terpisah diculik pada hari Sabtu pagi. Duta besar bukan merupakan salah satu yang diculik, juru bicara MFA Mesir dikonfirmasi. Penculikan terjadi beberapa jam setelah koordinator Libya Revolusioner Operation Room (ROR) yang berbasis di Mesir, Shaaban Hadeya, juga dikenal sebagai Abu Obaida al-Zawy, telah ditangkap oleh pihak berwenang Mesir di kota pantai Alexandria.

ROR memainkan peran penting dalam penggulingan mantan Presiden Libya (Alm) Moammar Qadhafi pada tahun 2011.
Seorang anggota ROR, Hamad Boqrein, menuduh penangkapan oleh Pemerintah Mesir itu sebagai tindakan “sewenang-wenang”, dengan menjelaskan bahwa Hadeya tidak dituntut dengan kejahatan apapun, dan menyerukan pembebasannya segera.

Parlemen Libya juga mengutuk penahanan Hadeya oleh Pemerintah Mesir, dan meminta pemerintah Libya dukungan NATO dan duta besar Libya di Kairo untuk bertindak cepat untuk membebaskannya. Parlemen Libya meminta pemerintah Mesir untuk mengungkapkan alasan penangkapan ini.

Dalam pernyataan kepada AFP, Juru bicara ROR mengutuk penangkapan Hadeya dengan mengatakan bahwa; “Anggota gerakan pro Ghaddafi Libya banyak yang berada di Mesir (Green Resistance).  Mereka tidak ditangkap oleh aparat keamanan Mesir, namun pihak Mesir justru menangkap pihak pihak pengguling Ghaddafi’.”

Menjadi catatan, ROR sebelumnya telah dituduh melakukan penculikan terhadap Perdana Menteri Libya Ali Zeidan. Namun, kemudian saat tuntutannya menyebar luas, ROR kemudian dianeksasi (digabungkan kedalam bagian dari) Pasukan Pemerintah Libya saat ini.

26 January 2014 – Pemerintah Libya dukungan NATO, Ikwanul Muslimin, dan lainnya terus terdesak.

Seluruh wilayah selatan Libya tidak lagi di bawah kendali pemerintahan boneka dan para pendukungnya. Wilayah Sabha dan semua kota-kota selatan lainnya telah dibebaskan oleh Green Resistance.
Warga Libya dari wilayah yang telah dibebaskan mendukung para pejuang Green Resistance, yang membersihkan negara mereka dari pemerintah boneka dan semua kelompok yang mendukungnya.

Pejuang-pejuang suku di Libya juga telah bergabung dengan Green Resistance.
Keterangan dari Kementerian Kesehatan Libya mengatakan dalam dua minggu pertempuran yang berkobar di Libya, setidaknya telah menewaskan sedikitnya 154 orang dan melukai 463 lainnya.

Kementerian itu mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Sabtu bahwa korban tewas berjatuhan di wilayah Sebha dan Wershefana, dari mana perlawanan rakyat bangkit. Perlawanan rakyat Libya dibawah bendera Green Resistance telah berkibar dikota-kota antara lain:
Tobruk, Amsaad, City Dome, City Tamimi,White,City Afattaúh, Prairie City, Talmith, Aldersah, Drianh, Alakorah
Precise, Biar, Sellouk, Ajdabiya, Alumblytanih, Qmins, Brega, Ras Lanuf, Sellouk, Ddina, Sabah, dan banyak kota-kota lainnya. (liputanislam/memonitor/libyaagainst superpowemedia/vorindonesia/AF)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:
Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL