foto: merdeka.com

foto: merdeka.com

Yogyakarta, LiputanIslam.com–GKR Hemas, istri Sultan Hamengkubuwono X, mempertanyakan sikap LSM Jatisura yang melaporkan Florence Sihombing ke Polda DIY karena dinilai menghina Yogyakarta. Menurutnya, selama ini banyak oknum yang secara terbuka menghina Yogyakarta dan juga memantik kebencian di Yogyakarta seperti yang dituduhkan kepada Florence, tapi tidak ada yang melaporkan penghinaan tersebut ke ranah hukum.

Dia mencontohkan paling tidak ada dua kali secara terang-terangan menyebar kebencian dan juga menghina Sri Sultan HB X.

“Yang pertama ada yang menghina Sultan di masjid, menebar kebencian dan memerangi pluralisme, tidak ada yang melaporkan. Teman-teman ini kemana?” kata GKR Hemas kepada para pelapor Florence, seperti dikutip merdeka.com.

Peristiwa yang dimaksud GKR Hemas adalah pidato Panglima Laskar Jihad, Ja’far Umar Thalib, di Masjid Gede Kauman (8/6/2014) yang menyatakan perang melawan pluralisme. Ia bahkan juga mengecam Sultan yang dianggap selalu menyerukan pluralisme.

“Umat Islam menentang pluralisme. Biarpun Sultan bilang begitu, saya tidak takut kepada Sultan. Meskipun ratusan Kraton bersatu, saya tidak takut,” katanya Ja’far.

Selain itu, pada bulan September 2013, kompleks pemakaman keluarga Keraton Yogyakarta dirusak oleh sejumlah orang bercadar. Selain merobohkan sejumlah nisan, mereka mencorat-coret komplek makam dengan tulisan syirik, haram. (Baca: Antara Yogya dan Timbuktu)

Meski demikian GKR Hemas tidak bermaksud meminta mereka untuk selalu membela Sultan. Minimal mereka juga berani untuk membawa kasus serupa ke ranah hukum. (Baca: Florence dan Wajah Hukum Indonesia)

“Pergerakan teman-teman bukan harus selalu membela Sultan, tapi ada kasus intoleransi yang terjadi dan oknum-oknum yang mencoba merusak Yogyakarta juga dilaporkan, jangan hanya soal media sosial saja,” jelasnya.

Karena itu GKR Hemas berpesan agar kasus Florence ini dijadikan pelajaran bagi semuanya. Dia berharap segenap elemen masyarakat bersama-sama bisa menjaga Yogyakarta yang nyaman.

“Kita jadikan ini pembelajaran bersama, dan mari kita jaga keharmonisan Yogyakarta bersama,” tandasnya.

Pernyataan itu disampaikan GKR Hemas dalam forum perdamaian antara Florence dengan pihak pelapor, LSM Jatisura, di Kraton Kilen, Kamis (4/9) malam.

Dalam pertemuan itu, LSM Jatisura menyatakan memaafkan Florence tetapi tidak akan mencabut laporan mereka. Alasannya,  demi menjaga nama baik kepolisian Polda DIY. Menurut kuasa hukum LSM Jatisura, Erry Supriyanto,  jika ada kasus yang sudah berjalan namun berhenti setelah penyidikan justru akan membawa preseden buruk pada kepolisian. Namun Erry menyatakan siap memberikan surat kepada hakim agar memberikan hukuman seringan-ringannya kepada Florence.(dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL