warga Gaza mengungsi di gereja (foto: AP)

warga Gaza mengungsi di gereja (foto: AP)

Gaza, LiputanIslam.com–Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, gereja Ortodoks Yunani di Gaza City penuh sesak, karena memberikan perlindungan kepada ratusan warga Palestina yang meninggalkan rumah mereka yang dibom Israel.
Sekitar 600 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, berlindung di kompleks gereja yang berlokasi di sektor lama Kota Gaza. Mereka melarikan diri darineraka’ di wilayah-wilayah sekitar Gereja, misalnya Shejaiya.

Gereja Saint Porphyrios dan sebuah masjid di dekatnya telah membuka pintu mereka untuk menunjukkan solidaritas antar agama, menawarkan makanan, minuman dan tempat tinggal bagi semua warga Gaza, apapun agama mereka.

Sejumlah besar perempuan dan anak-anak, bayi, mereka tidak memiliki rumah,” kata Uskup Agung Alexios kepada kantor berita AFP.

Banyak dari mereka, rumah mereka hancur. Banyak orang telah terluka atau terbunuh. Jadi kami mencoba untuk membantu mereka,” lanjutnya.

Sabah AlMbyat adalah di antara mereka yang telah mengungsi di gereja setelah melarikan diri Shejaiya, yang mendapatkan serangan dahsyat dari Israel. Gereja adalah tempat keempat yang Mbyat melarikan diri. Awalnya, ia berlindung di rumah seorang kerabat, di tetangga, dan kemudian di sekolah yang dikelola oleh badan pengungsi Palestina PBB (UNRWA).

UNRWA mengkoordinir perlindungan di 69 sekolah, yang menampung lebih dari 100.000 orang. Namun fasilitas yang ada sangat minim dan situasi penuh sesak.

Di sekolah PBB kami menemukan ada begitu banyak orang,” kata Mbyat.

Akhirnya mereka mendengar gereja menerima orang. Di gereja, mereka telah melindungi kami, menyambut kami. Kami sudah merasa sedikit lebih aman di sini, katanya.

Komunitas Kristen di Kota Gaza, seperti rekan-rekan mereka di tempat lain di Timur Tengah, telah menyusut karena konflik dan pengangguran. Jumlah mereka kini sekitar 1.500. Kristen Ortodoks kebanyakan dari mereka Yunani, sementara populasi Muslim Sunni di Gaza berjumlah. Gereja Kuno di pinggir laut Mediterania ini pernah memiliki komunitas Kristen yang berkembang, terutama di bawah mandat Inggris Palestina yang berakhir pada tahun 1948 bersamaan dengan pembentukan negara Yahudi.

Anwaar Jamal tiba di gereja telah melarikan diri Shejaiya dalam serangan yang mengerikan.

Ada pesawat di atas kita, hal-hal yang terbakar,” katanya. Kami sangat takut, kami nyaris tidak bisa berjalan,” kata Jamal.

Tapi komplek gereja tidak kebal terhadap pemboman.  Uskup Agung Alexios mengatakan, lima atau enam peluru telah menghantam wilayah gereja dan masjid pada Senin malam.

“Ini adalah situasi yang sangat buruk, orang-orang berteriak, wanita, anak-anak,” katanya, menambahkan bahwa taman kanak-kanak yang dijalankan oleh masjid dan gereja telah rusak.

Dr Hassan Ezzedine adalah relawan di gereja. Ia membagi-bagikan obat-obatan dan menangani pengungsi yang sakit.

Kasus-kasus yang kami dapati sebagian besar menimpa anak-anak. Mereka menderita diare berat, masalah pernapasan, dan beberapa shock,katanya kepada AFP.

Uskup Agung Alexios mengatakan gereja akan tetap terbuka untuk mereka yang mencari perlindungan.

Bersama-sama, Kristen dan Muslim, adalah satu keluarga, bangsa Palestina, maka kami mencoba untuk membantu orang-orang kami untuk berlindung,” kata warga negara Yunani yang telah tinggal selama lebih dari satu dekade di Gaza ini.

Kami mencoba untuk membantu sebanyak yang kami bisa, memberikan cinta, itu saja. Ini adalah yang paling penting, untuk memberikan cinta bagi mereka yang membutuhkan. “(dw/AFP)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL