sidang gerejaWashington, LiputanIslam.com — Sebuah gereja besar di AS, Presbyterian Church, memutuskan untuk menarik investasi di 3 perusahaan yang terkait dengan pendudukan Israel di Palestina.

Dalam Sidang Umum Presbyterian Church yang digelar Sabtu kemarin (21/6) di kota Detroit, diputuskan untuk menjual saham milik gereja tersebut di 3 perusahaan, yaitu Caterpillar, Motorola Solutions, dan Hewlett Packard, dengan total nilai $21 juta. Demikian laporan Press TV, Sabtu petang (21/6).

Gereja mengatakan perusahaan-perusahaan itu telah menyediakan peralatan dan perlengkapan yang digunakan Israel untuk menghancurkan rumah-rumah warga Palestina dan membangun pemukiman ilegal yahudi di wilayah pendudukan.

Caterpillar adalah perusahaan yang produk alat-alat beratnya digunakan untuk menghancurkan rumah-rumah warga Palestina dan membangun jalan-jalan di wilayah Palestina. Sedangkan Motorolla dan Hewlett Packard menyediakan peralatan teknologi tinggi yang digunakan aparat keamanan Israel.

“Kami mencoba untuk mengubah produk-produk dan proses pada perusahaan-perusahaan itu yang kami telah menanamkan investasi dan yang telah melukai manusia,” kata Elizabeth Terry Dunning, seorang pemimpin gereja yang bertanggungjawab atas pengelolaan keuangan gereja.

Ia menambahkan bahwa, alih-alih mengikuti saran gereja, perusahaan-perusahaan itu justru semakin memperkuat perannya dalam aksi-aksi pendudukan Israel di Palestina.

Keputusans ini muncul di tengah-tengah adanya gerakan internasional untuk memboikot institusi-institusi dan perusahaan yang terkait dengan aksi pendudukan Israel di Palestina. Gerakan internasional “Boycott, Divestment and Sanctions Movement” pun menyambut langkah gereja  Presbyterian Amerika itu sebagai kemenangan.

Gerakan yang dilancarakan “Boycott, Divestment and Sanctions Movement” dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran publik global tentang kebijakan apartheid Israel terhadap Palestina, dan pada akhirnya menghentikan pendudukan Israel atas Palestina.

Telah banyak organisasi maupun perusahaan yang bergabung dengan gerakan tersebut, terutama instisusi-institusi dan asosiasi pendidikan di berbagai belahan dunia. Tahun lalu American Studies Association (ASA), asosiasi terbesar di dunia pendidikan AS, secara penuh menyatakan bergabung dengan gerakan boikot Israel dengan menghentikan kerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan Israel.

ASA mengatakan alasan keputusan mereka adalah karena institusi-institusi pendidikan Israel telah menjadi bagian dari kebijakan pemerintah Israel yang melanggar HAM, melanggar hukum internasional.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL