boycottMinneapolis, LiputanIslam.com — Sebuah gerakan internasional di AS bernama Boycott, Divestment and Sanctions (BDS) terus menekan Israel untuk segera mengakhiri kependudukannya di Palestina. Namun para pejabat dan politisi AS mencoba membuat gerakan tersebut illegal dan melarang kebebasan berbicara para anggota gerakan, khususnya para mahasiswa.

Selama lebih dari 11 tahun, gerakan BDS telah sukses memboikot produk-produk dari Israel yang dibuat di kawasan pendudukan. Mereka juga  berhasil meyakinkan para musisi sampai pemain sirkus untuk membatalkan konser dan penampilan mereka di Israel. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah mahasiswa berhasil mendesak kampus mereka untuk memutuskan kerjasama dengan Israel.

Namun banyak pihak di AS yang berupaya menghalangi gerakan ini. Misalnya, ketika gerakan BDS berupaya menekan Israel untuk menghargai hak asasi penduduk  Palestina, seorang politisi kaya raya bernama Sheldon Adelson dan orang-orang kaya pro-Zionis lainnya rela membuka dompet mereka untuk menghentikan gerakan tersebut.

Bahkan pejabat “liberal” seperti Hillary Clinton dan Bernie Sanders menyatakan ketidaksukaan dengan gerakan-gerakan anti-Zionisme dan mencoba menghentikan gerakan para mahasiswa di kampus-kampus.

Mahasiswa yang tergabung dalam The Students for Justice in Palestine di Universitas Minnesota juga sudah terbiasa dengan ancaman dari organisasi lain di kampus itu, Students Supporting Israel. Mereka dituduh mendukung terorisme karena angkat suara atas pembunuhan anak-anak muda Palestina yang tak bersenjata. (ra/mintpressnews)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL