Washington, LiputanIslam.com—Gedung Putih menuduh mantan kandidat presiden AS Hillary Clinton telah “berkolusi” dengan pemerintah Rusia.

Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih, Sarah Huckabee Sanders, mengatakan hal tersebut dalam pertemuan media pada Rabu (12/7/17). Menurutnya, investigasi terkait kolusi dengan Rusia seharusnya ditujukan untuk  Democratic National Convention (DNC) dan keluarga Clinton daripada Trump.

“Jika kita meneliti hubungan Rusia dengan siapapun, itu pasti tertuju ke keluarga Clinton,” ujar Sanders, dengan menyebut bahwa Clinton pernah menjual “sepertiga uranium dunia” kepada Rusia.

Penjualan itu terjadi antara Rusia dan perusahaan tambang Kanada, Uranium One, yang menurut laporan dari New York Times “mengontrol seperlima produksi uranium di Amerika.”

Karena sifat strategis uranium, perjualan itu harus ditandatangani oleh sejumlah komite pemerintah federal, termasuk Departemen Negara, yang saat itu dipimpin oleh Hillary Clinton.

Berdasarkan laporan dari Times, selama pembelian hasil tambang bertahap oleh Rusia antara tahun  2009 dan 2013, yayasan keluarga pengusaha Uranium One mendonasikan $2.35 juta kepada Yayasan Clinton.

Tak lama setelah penjualan itu disahkan, suami Hillary, Bill Clinton, memberikan pidato di Rusia dengan bayaran $500,000 dari bank Rusia yang saat itu mempromosikan stock Uranium One.

Selain itu, Sanders juga mempertanyakan aktivitas kampanye Clinton dengan Ukraina dalam rangka menjatuhkan Trump.

“Jika ada bukti kolusi pada tahun 2016, itu pasti terjadi antara DNC dan pemerintah Ukraina,” katanya, merujuk kepada laporan Politico yang dirilis pada Januari lalu.

Tuduhan baru Gedung Putih terhadap Clinton ini keluar tak lama setelah Trump terang-terangan menyatakan dalam wawancara bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin lebih memilih Clinton sebagai presiden AS dibanding dirinya. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL