LiputanIslam.com–Beberapa hari lalu adalah genap seribu hari Arab Saudi menggempur Yaman. Serangan brutal ini telah berlangsung lebih dari seribu hari,  tanpa ada kepastian kapan perang akan berakhir. Justru tanda-tanda dari lapangan dan secara politik menunjukan indikasi bahwa perang terhadap Yaman yang diprakarsai oleh Muhammad bin Salman (Saudi) dan Muhammad bin Zayid (UAE) akan memasuki tahapan baru yang lebih berat dan akan mengalami peningkatan.

Pada mulanya, sejak meletusnya perang pada tanggal 25 Maret 2015, koalisi Riyadh dan Abu Dhabi menganggap bahwa musuh utamanya hanyalah milisi Ansharullah, dalam seluruh aspek; front, politik dan pemerintahan, sehingga melumpuhkannya akan mudah. Namun setelah menggempur Yaman selama hampir tiga tahun, koalisi ini makin mendapatkan kenyataan bahwa bangsa Yaman tak semudah itu ditaklukkan.

Sebelum Ali Abdullah Saleh (Presiden Yaman sebelum krisis) membelot dari aliansinya dengan Ansharullah,  harapan Arab Saudi untuk menaklukkan Yaman melalui serangan militer sudah menemui kegagalan. Muhammad bin Salman kemudian melakukan manuver-manuver politik yang bertujuan agar Iran menekan Ansharullah untuk menyerah dalam meja perundingan. Namun, upaya ini pun mengalami kegagalan juga.

Setelah melihat fakta-fakta di lapangan seperti itu, koalisi tidak lagi mengandalkan kabilah-kabilah Yaman yang mayoritasnya cenderung mendukung Ansharullah, dan sebagian lagi bersikap netral. Koalisi kemudian berupaya menarik Ali Abdullah Saleh dari tempat-tempat strategis dan keluar dari barisan Ansharullah.

Beberapa satuan militer dari Komando Sepuluh yang dipimpin oleh Saleh menarik diri dari tempat yang strategis di Pantai Barat tanpa menghadapi tantangan dari tentara dan komite rakyat (pendukung Ansharullah) yang menganggap lebih baik tidak berkonfrontasi dengan pasukan Saleh. Sebagai akibat dari penarikan itu, kekuatan pro-Koalisi yang didukung oleh pasukan dari Sudan berhasil masuk ke kota Khowjah di selatan Hudaidah dan mengusainya, serta berhasil maju menuju wilayah lainnya.

Setelah itu, Ali Abdullah Saleh berbalik melawan Ansharullah agar dapat memberikan sabuk pengaman bagi Riyadh dan Abu Dhabi. Koalisi ini segera mendukung Saleh, baik secara diplomatik maupun di lapangan melalui serangan udara. Hanya saja perkembangan yang terjadi secara dramatis dan cepat justru menguntungkan Ansharullah.  Ali Saleh terbunuh, dan peristiwa ini mengakibatkan kegagalan yang besar bagi koalisi Saudi dan para pendukungnya. Namun, kegagalan tak jua membuat koalisi Saudi menghentikan upaya menundukkan Ansharullah. Serangan terus dilakukan dengan mengabaikan kecaman dari masyarakat internasional yang menyesalkan kondisi warga sipil Yaman yang amat buruk akibat serangan tersebut.

Ansarallah dengan semua kekuatannya bertempur melawan kekuatan-kekuatan pro-Koalisi Saudi dan berhasil merebut lagi wilayah-wilayah strategis yang telah mereka kuasai sebelumnya. Banyak korban yang jatuh di pihak Koalisi. Akibatnya, Koalisi gagal dalam membuka banyak front untuk mengubah peta kekuatan, baik di pantai maupun di pedalaman.

 

Menyusun Kekuatan Baru
Akhir-akhir ini, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab kembali mengatur kekuatan baru dengan mengadakan perundingan-perundingan bersama Partai al Ishlah-al Ikhwani untuk mengaktifkan peranan partai ini di lapangan, atau dengan melakukan rekrutmen cabang-cabangnya yang ada di Riyadh dan Kairo, yang tampak mulai bersemangat setelah kematian  Saleh.

Dalam rangka ini, telah diadakan pertemuan antara putra mahkota Arab Saudi (Muhammad bin Salman dan putra mahkota UAE (Muhammad bin Zayid) dengan dua pemimpin al Ishlah, Muhammad al Yadumi dan Abdul Wahhab al Anisi di Riyadh. Sampai saat ini belum ada kepastian apakah perundingan-perundingan itu telah menghasilkan kesepakatan, meskipun fakta-fakta mengindikasikan adanya skenario baru.

Menurut dengan informasi yang ada, dalam pertemuan itu muncul dua pandangan, salah satunya, mengarah pada rencana aksi militer yang telah disiapkan oleh Koalisi pada dua front, yaitu di pantai dan di ibu kota Yaman, Sanaa. Riyadh dan Abu Dhabi menginginkan agar al Ishlah memimpin barisan para petempur di front Sanaa, dan mengerahkan para petempurnya di Naham, Arhab, Khawlan dan kota-kota lainnya di bawah pimpinan al Yadumi dan al Anisi.
Sementara pandangan yang lain cenderung pada sikap yang lebih menahan untuk tidak terjerumus pada lubang baru, bahkan mengajak berunding dengan Ansharullah. Pandangan ini diprakarsai oleh pengikut al Ishlah yang bermarkas di Turki dan berafiliasi ke Qatar. Pandangan ini tampak tidak cukup berpengaruh jika dibandingkan dengan pandangan yang cenderung pada aksi militer. Akhirnya, aksi militer telah dijalankan di lebih dari satu front pertempuran seperti pertempuran di Naham, Masurah dan Syabwah, meskipun tidak ada keberhasilan yang signifikan.
Sejalan dengan rencana itu, mesin koalisi makin berupaya masif merajut serpihan-serpihan Partai Muktamar Sya’bi pasca terbunuhnya Saleh. Mereka mengumpulkan tokoh-tokohnya di bawah komando Ahmad, putra Saleh, yang tinggal di UAE  agar menjadi penyeimbang bagi sayap militer Ikhwan di Yaman di bawah pimpinan Ali Muhsin al Ahmar, yang juga adalah wakil presiden Hadi Mansur.

Dalam rangka itu, Ali Muhsin al Ahmar menjalin hubungan dengan beberapa pimpinan Partai Muktamar Sya’bi yang berada di Kairo, khususnya dengan Sekjen Muktamar, Sulthan al Burkani. Di saat yang sama, pemerintahan Hadi Mansur melalui Ahmad bin Dughur melakukan hubungan dengan anggota Partai Muktamar lainnya, Qasim al Kasadi dan Rasyad al Alimi. Hubungan-hubungan itu dilakukan dengan tujuan menarik pimpinan-pimpinan partai Muktamar yang masih berada di Yaman, termasuk yang berada di Yaman Selatan.
Di pihak lain, Ansharullah memahami dengan baik rencana yang dirancang oleh Koalisi. Ansharullah meyakini bahwa rencana tersebut adalah sekedar upaya menutupi rasa malu dan awal dari kegagalan mereka di Yaman. Meskipun hampir tiga tahun digempur Koalisi yang dibantu AS, serta mengalami boikot makanan dan obat-obatan, rakyat Taman tetap bertahan dan terus berjuang melawan Koalisi demi membela tanah air mereka. (HMA)

(tulisan ini rangkuman dari artikel Dua’ Suwaydan di www.al-akhbar.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*