LiputanIslam.com –  Belakangan ini beredar kabar bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan untuk menarik pasukan negara ini dari Suriah.

“Saya ingin keluar, saya ingin membawa pasukan kami pulang ke rumah,” kata Trump kepada wartawan sembari mengklaim bahwa negaranya sudah “hampir menyelesaikan tugas mengalahkan ISIS”.

Seperti dilansir USA Today, dalam konferensi pers bersama para pemimpin negara-negara Baltik di Washington, Selasa 3 April 2018, dia juga mengatakan, “Kami akan membuat keputusan dengan sangat cepat, berkoordinasi dengan orang lain di daerah itu, seperti apa yang akan kami lakukan.”

Dalam pernyataan itu dia juga menyinggung keinginan Arab Saudi supaya pasukan AS tetap dipertahankan di Suriah. Dan menariknya, dia tak segan-segan mengatakan bahwa Saudi harus bersedia membayar AS jika memang menghendaki demikian.

Dia kemudian mengeluhkan terhamburnya dana miliaran USD untuk urusan Timur Tengah, sedangkan dana itu akan lebih baik jika digunakan untuk proyek-proyek domestik.

Karena itu, pertanyaan yang lebih patut dikemukakan sekarang bukan mengenai sejauhmana kesungguhan Trump untuk menarik pasukannya dari Suriah, melainkan kapan AS puas dan berhenti memeras Arab Saudi?

Berbagai pihak di dalam maupun di luar negeri AS menilai masih terlalu dini bagi negara ini untuk menarik pasukannya dari Suriah. Jadi bukan hanya Saudi yang keberatan, meskipun Trump hanya menyebutkan nama Saudi.

“Jika Kerajaan Arab Saudi menginginkan kebertahanan kami di Suriah maka ia harus membayar minimal 4 miliar USD,” ujarnya.

Ketamakan Trump sudah melampaui batas. Apa yang ada di benaknya hanyalah jual beli, agen, dan komisi. Kebijakan internasional di matanya hanya alat hitung. Dia memandang dunia hanya sebagai angka, sebagaimana dia memandang negara-negara sekutunya hanya sebagai sapi perah yang sebagian besar, kalau bukan semua, hasil perahannya harus masuk ke lumbung AS, entah dengan dalih perlindungan militer dan Iranfobia, ataupun tanpa dalih dan cukup dengan asumsi yang semata bertolak dari  rasisme semata bahwa Arab harus diperas.

Trump berkata sejujurnya ketika dengan tanpa rasa malu dia menyebut Saudi sebagai negara kaya, dan menilai AS harus memperoleh bagian dari kekayaan ini. Celakanya lagi, Trump bahkan tak segan-segan memamerkan papan demi papan transaksi persenjataan AS dengan Saudi tepat di depan hidung  Putra Mahkota Saudi Mohammad bin Salman yang menemui Trump di Washington.

Trump menyatakan negaranya telah menghabiskan dana US$ 70 miliar di Suriah, dan US$ 7 triliun lain di Timteng selama beberapa dekade silam.  Celakanya, dana itu tidak menghasilkan apa-apa kecuali kehancuran berbagai negara serta kematian serta kesengsaraan banyak orang, dan dia seolah lupa bahwa korbannya adalah bangsa-bangsa Arab dan Muslim.

Washington rugi triliunan Dolar AS akibat kebodohan, arogansi, rasisme, dan kebenciannya kepada Arab dan umat Islam. Visi AS untuk Timteng mengacu hanya pada interes Israel semata sehingga interesnya sendiri bahkan dikorbankan.

Trump sama sekali tidak berhenti berupaya menguras habis kekayaan Arab Saudi dan negara-negara Arab Teluk lainnya, sebab upaya ini selalu mendapat respon yang sepenuhnya positif dari mereka. Aksi pemerasan ini dimulai dari transaksi senjata dan investasi untuk penyediaan lapangan kerja bagi para pengangguran di AS, dan akan berujung pada undang-undang JASTA yang menuntut pembayaran ganti rugi korban tragedi teror 11 September 2001 oleh sebagian besar negara Arab Teluk yang dituduh terlibat dalam serangan ini. Perkiraan awal menyebutkan bahwa ganti rugi bisa mencapai US$ 5 triliun. Mengerikan.  (mm/usatoday/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL