tragedi mina saudi4LiputanIslam.com –   Terkait dengan tragedi Mina yang menjatuhkan ribuan korban tewas dan luka pada Kamis (24/9), pemerintah Arab Saudi sampai sekarang tetap bersikukuh melempar tanggungjawab sembari mengambing hitamkan jemaah haji. Meski demikian, sebagaimana dilaporkan BBC Bahasa Arab, Rabu (30/9),rezim Riyadh terus dihantam gelombang kecaman dari berbagai pihak serta dianggap lalai dan tak becus menangani ibadah superkolosal haji.

Berikut ini saduran laporan media yang berbasis di London, Inggris, tersebut;

Tugas menyelenggarakan dan mengelola ibadah haji selama ini menjadi kebanggaan keluarga kerajaan sehingga mereka menyandang gelar “Khadim al-Haramain” (Pelayan Dua Kota Suci Mekkah dan Madinah).  Mereka merasa sukses menjalankan tugas ini dan sudah mengeluarkan milyaran dolar Amerika Serikat  (AS) untuk membangun prasarana dan jalur-jalur transportasi bagi jutaan jemaah haji.

Namun demikian, berbagai insiden yang terjadi belakangan, terutama Tragedi Mina, tak pelak mengundang keraguan banyak orang terhadap kapabilitas dan kompetensi rezim Saudi dalam mengantisipasi kejadian-kejadian mengerikan sedemikian rupa.

Keraguan dan Kecaman

Raja Saudi, Salman bin Abdulaziz, berjanji akan mengumumkan hasil penyelidikan. Tapi apapun dan bagaimanapun hasilnya orang akan tetap curiga terhadap adanya campur tangan emir atau politisi Saudi . Otoritas Saudi menyalahkan jemaah haji dan menyebut mereka tak patuh pada panduan yang sudah dipublikasikan, namun ini tidak lantas dapat membuat Saudi lolos dari gelombang kecaman.

Adalah Iran negara yang memulai badai kecaman terhadap Saudi. Pemimpin tertinggi Iran Grand Ayatollah Ali Khamenei menuntut tanggungjawab pemerintah Saudi, sementara para pejabat senior Iran lainnya juga ramai-ramai menuding Saudi tak becus mengelola, mengatur dan mengamankan penyelenggaraan ibadah haji.

Di Suriahpun, semua media juga ramai-ramai mengikuti sikap Iran. Harian al-Baath milik pemerintah Suriah menyatakan pemerintah Saudi gagal mengatur manasik haji.

Kecaman terhadap Riyadh datang bukan hanya dari Iran dan Suriah yang memang tak akur dengan Saudi. Ketua panitia penyelenggara haji Nigeria, Sanusi Lamido Sanusi, misalnya, juga tak puas terhadap perlakuan otoritas Saudi.

“Ada berbagai ketidak jelasan yang perlu dilihat dari dalam terkait terjadinya tragedi ini,” ujar Sanusi.

Dia menambahkan, “Sebelum segala sesuatunya, kita semua tahu insiden ini terjadi bukan ketika berlangsung pelontaran jumrah, melainkan di jalur-jalur khusus keluar masuk jemaah haji dari dan ke Jamarat, dan ini tidak seharusnya terjadi… Karena itu kami menyerukan kepada otoritas Saudi supaya tidak melemparkan kesalahan kepada jemaah haji dan mengatakan bahwa mereka tidak mengikuti petunjuk.”

Di berbagai media sosial juga muncul hastag “الإدارة_السعودية_الفاشلة” (Administrasi Saudi Gagal)  yang berhasil menjaring banyak user. Setelah itu juga muncul reaksi berupa hastag lain yang menyerukan kepada orang-orang Saudi supaya membela negaranya melawan apa yang disebutnya sebagai “konspirasi”.

Saorang saksi mata Tragedi Mina menceritakan kepada BBC bagaimana dia dapat selamat dan lolos dari tragedi mematikan itu.

“Ada perselisihan antara kami (jemaah haji) dan mereka (petugas Saudi),” katanya.  Dia melanjutkan, “Di sebalah kanan dan kiri kami terdapat perkemahan, tapi mereka malah menutup pintu-pintu perkemahan sembari berkata, ‘Sayang sekali, kami tak dapat membiarkan siapapun memasukinya.’ Saya bertanya kepada salah seorang di antara mereka, ‘Jika kalian membukakan pintu-pintu kalian, maka orang-orang dapat masuk ke perkemahan selama 5-10 menit, dan dengan demikian maka tak akan ada orang yang mati.’”

Kesaksian-kesaksian seperti ini jelas menyulitkan pemerintah Saudi, karena secara implisit menunjukkan bahwa meskipun dana milyaran dolar sudah digunakan untuk pengembangan tempat-tempat suci, namun pada level kemanusiaan bisa jadi tidak ada kepedulian yang memadai dalam perlakuan mereka terhadap jemaah haji.

Kesenjangan Sosial di Kota Suci

Selera pemerintah Saudi dalam pengembangan tempat suci Mekkah, Madinah dan lain-lain yang telah menelan milyaran dolar AS selama ini juga mengundang kontroversi dan kecaman, terutama ketika proyek itu dibarengi dengan penghancuran situs-situs sejarah era Nabi Muhammad saw.
Vandalisme itu bisa jadi mendapat sambutan baik dari para ekstrimis Wahabi, tapi umat Islam lainnya menyesalkan dan mengecam penghapusan situs-situs yang tak tergantikan oleh apapun dalam sejarah Islam itu.

Tak hanya itu, hotel-hotel yang baru didirikan, demikian pula pusat-pusat perdagangan raksasa di Mekkah al-Mukarramah juga dipandang banyak kalangan telah mengusik rasa dan kejiwaan orang terhadap kesucian kota ini. Hotel-hotel raksasa nan mentereng juga menampilkan pemandangan betapa di kota suci ini kesenjangan yang seharus dapat dipersempit sedapat mungkin sebagaimana pesan yang terlihat dalam kesederhanaan dan keseragaman pakaian ihram ternyata malah diperlebar, sebab hotel-hotel berupa menara pencakar langit itu dibangun jelas bukan untuk jemaah haji biasa, melainkan untuk jemaah yang berkantong tebal dan banyak andil dalam keuntungan milyaran dolar AS yang dikeruk Saudi dari penyelenggaraan ibadah haji.  (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL