LiputanIslam.com –  Perang Suriah sudah berlangsung hampir tujuh tahun, dan kini tanda-tanda kemenangan pemerintahan Bashar al-Assad semakin terlihat dalam pertempuran yang berlangsung di beberapa front serta dalam langkah cepat yang menghasilkan tiga pukulan telak terhadap kubu musuhnya.

Selama perang ini badai propaganda anti pemerintah Suriah terus dihembuskan secara sistematis dan terorganisir berbarengan merebaknya terowongan-terowongan ekstrimis bawah tanah, penyergapan, dan suplai senjata besar-ebsaran dari berbagai negara untuk membela apa yang disebut Barat “revolusi Suriah.”

Perang yang terjadi di Suriah menyerupai perang Afghanistan yang telah menyungkurkan tentara Uni Soviet dan perang Irak yang membenamkan tentara Amerika Serikat (AS), padahal keduanya adalah pasukan adidaya dunia. Perang ini membuktikan bahwa kekuatan peralatan militer bukanlah segalanya, karena terbukti gagal menaklukkan resistensi pasukan semisal Pasukan Arab Suriah (SAA) dan para pejuang Hizbullah Lebanon yang selain handal di medan tempur juga pantang takut mati selagi kematian diyakini berada di jalur kesyahidan.

Berikut ini tiga pukulan yang telah dihantamkan secara telak oleh Suriah terhadap gerombolan besar musuh-musuhnya yang dikomando oleh AS;

Pertama, Hantaman Militer

Sudah terlihat jelas bagaimana kawanan teroris yang diandalkan AS dan sekutunya untuk mengganyang pemerintah Suriah akhirnya menderita kekalahan demi kekalahan telak di berbagai front pertempuran.

Dalam perkembangan terbaru, SAA dan sekutunya melancarkan serangan masif dan mematikan dalam operasi militernya di kawasan Badiyah Suriah. AS mengenyam pahitnya peristiwa ini sehingga secara perlahan mulai menarik para agennya dari kawasan timur Suriah dengan helikopter-helikopter khusus.

Mereka yang terdiri atas para komandan militer AS dan Inggris itu dilarikan dari kawasan Abu Lail di bagian timur provinsi Suriah, padahal mereka yang berjumlah 6-8 orang itu sebelumnya bermain di balik barisan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang menduduki sebagian besar provinsi itu. Ini menandakan betapa Washington menyadari bahwa keberhasilan SAA dan sekutunya menerobos masuk ke Deir Ezzor telah membuat ISIS berada di ujung tanduk. Cepat atau lambat ISIS di provinsi ini akan terberantas habis oleh SAA dan sekutunya.

Badai serangan militer SAA ke seluruh bagian wilayah Suriah terus menerjang dan bertubi di berbagai front pertempuran. Hari demi hari selalu ada saja kawasan yang berhasil dibebaskan oleh SAA di berbagai provinsi, termasuk Hama, Homs, Damaskus, Aleppo, dan al-Badiah.

Kedua, Hantaman Ekonomi

Di tengah suasana keamanan yang masih tergolong rawan, pemerintah Suriah sukses menggelar Damascus International Fair 2017. Peristiwa ini tergolong spektakuler karena tak kurang dari 43 negara ikut berpartisipasi dalam pameran ini. Perekonomian Suriah juga mulai menggeliat dan secara bertahap akan berpengaruh pada perbaikan nilai mata uang Lira Suriah. Proses ini dimulai dengan terjalinnya beberapa kontrak besar Suriah dengan Cina dan Rusia.

Kemudian, ladang-ladang gas dan minyak yang menjadi sumber kekayaan negara juga telah berhasil dibebaskan satu persatu dalam waktu yang relatif cepat hingga mencapai kawasan perbatasan Yordania dan Irak, sementara pabrik-pabrik besar di Aleppo yang sudah lama mangkrak akibat perang juga sudah beroperasi lagi.

Ketiga, Hantaman Politik

Tak kurang, Menlu Inggris Boris Johnson blak-blakan mengatakan, “Al-Assad dapat berpartisipasi dalam pemilu presiden secara demokratis di masa mendatang.” Sebelumnya, Menlu Arab Saudi Adel al-Jubeir mendesak kubu oposisi Suriah supaya mengajukan gambaran baru mengenai sikap mereka terhadap al-Assad.

Dua pernyataan ini menandakan bahwa pihak-pihak yang mendalangi krisis Suriah akhirnya terpaksa menerima al-Assad bertahan sebagai presiden Suriah. Mereka membuat statemen-statemen politik semata demi menjaga pamornya.

Perang Suriah sudah semakin cepat mendekati ujung tuntasnya. Pesatnya gerak maju SAA tahap demi tahap telah menghadapkan kawanan teroris hanya pada dua pilihan, menyerah atau mati. SAA bergerak lancar menuju Deir Ezzor setelah membebaskan kota al-Sukhnah, sebagaimana ditegaskan oleh militer Rusia dalam statemennya belum lama ini.

SAA bergerak mengejar ISIS dari tiga arah, dan tak ada jalan piluhan bagi ISIS kecuali kabur menuju kawasan Irak, tapi di situpun mereka sudah dinanti oleh gempuran tentara dan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi.

Di pihak lain, Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) yang didukung AS dan disebut-sebut sebagai aliansi Kurdi-Arab bukanlah kekuatan yang sedemikian solid ketika di kawasan Deir Ezzor juga terdapat gerakan-gerakan pasukan adat dalam jumlah besar yang akan membantu akselarasi proses kebinasaan ISIS.

Pada gilirannya, Aliansi Rusia dan Iran akan membuat prakarsa-prakarsa baru dan besar di kawasan yang tentunya tidak mengejutkan bagi Washington dan Tel Aviv, tapi keduanya juga tidak akan duduk manis berpangku tangan di depan sepak terjang Moskow dan Teheran pada babak-babak selanjutnya. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL