iran mesirLiputanIslam.com – Presiden Interim Mesir Adly Mansour Senin 2 Juni lalu mengundang Presiden Iran Hassan Rouhani supaya menghadiri upacara pelantikan Abdel Fattah al-Sisi sebagai presiden Mesir yang akan diselenggarakan pada hari Minggu 8 Juni 2014. Undangan ini mendapat komentar positif dari berbagai kalangan di Mesir, sedangkan di Iran terdapat beragam komentar yang sebagian di antaranya bernada kritis.

Sejumlah pengamat di Mesir menilai undangan itu dapat membuka cakrawala baru dalam hubungan antara Kairo dan Teheran yang pada gilirannya sangat menunjang upaya meredam kemelut regional Timur Tengah, di samping akan menjadi kunci penyelesaian bagi sejumlah persoalan yang masih tersisa dalam hubungan bilateral Mesir-Iran sendiri.

“Pendekatan antara Mesir dan Iran relefan dengan kepentingan kedua negara, menunjang terwujudnya stabilitas regional, dan dapat menciptakan sebentuk perimbangan strategi. Sebab Iran dan Mesir sama-sama merupakan kekuatan penting di kawasan. Keduanya juga sama-sama Muslim dan memiliki kesamaan historis. Ada agenda-agenda Amerika Serikat dan Rezim Israel untuk mengatur kawasan (Timur Tengah). Pendekatan antara Iran dan Mesir pada gilirannya akan mengalir sesuai kepentingan kedua negara dan berguna bagi stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan,” ungkap Ketua Redaksi Majalah al-Demokratiyyah, Bashir Abdul Fatah, kepada TV al-Alam yang bermarkas di Teheran, Iran.

Hal senada juga dikemukakan oleh Mohammad Abu al-Nour, pengamat Mesir urusan Iran. Dia menilai Mesir pasca tergulingnya diktator Hosni Mubarak oleh revolusi rakyat memerlukan mitra-mitra baru. Mesir yang semula terpinggirkan di masa lalu dan rentan benturan dengan sejumlah negara Islam lainnya harus kembali ke posisinya semula.

“Ketika pihak Turki mengambil sikap permusuhan terhadap Mesir pasca peristiwa 3 Juli (pelengsearan Presiden Morsi oleh tentara Mesir pada tahun 2013), Mesir menunjukkan konsen relatif besar kepada pemain Iran sebagai ganti pemain Turki dalam percaturan regional untuk menghadapi infiltrasi Israel yang kian tumbuh sesudah tahun 1948,” ujar Abu al-Nour.

Pihak Iran sendiri menyatakan menghormati aspirasi yang mengemuka dalam revolusi Mesir. Karena itu banyak kalangan di Mesir berharap undangan supaya Presiden Iran menghadiri upacara pelantikan al-Sisi sebagai presiden baru Mesir dapat membuka lembaran baru dalam hubungan kedua negara.

Reporter al-Alam di Kairo, Aboul Magd, menyebutkan bahwa para pengamat di Mesir menilai pendekatan hubungan Iran-Mesir tidak hanya akan membuka celah penting bagi hubungan kedua negara, melainkan juga akan memberikan pengaruh besar bagi dunia Arab secara umum. Mereka menilai tidak ada orang yang meragukan besarnya pengaruh Iran dan Mesir bagi stabilitas dan keamanan nasional bangsa-bangsa Arab.

Undangan itu sendiri disampaikan oleh Kepala Seksi Kepentingan Mesir di Iran, Khaled al-Said Amari, kepada kepala staf kepresiden Iran, Mohammad Nahavandian.

Menanggapi undangan itu, Nahavandian menyatakan harapannya agar dalam proses demokratisasi di Mesir rakyat negara ini dapat berdaulat dan semua kelompok pemikiran serta tokoh yang berpengaruh dapat terlibat.

Sebagaimana diberitakan lembaga pemberitaan ABNA, dia juga mengakui adanya ikatan historis dan kultural antara kedua bangsa Iran dan Mesir serta kedudukan penting keduanya di dunia Islam. Dia juga menyebutkan kedua bangsa sama-sama telah melahirkan peradaban besar. Semua ini, menurut Nahavandian, menjadi alasan bagi keharusan adanya komunikasi dan interaksi antara kedua bangsa.

Sementara itu FNA melaporkan, anggota senior parlemen Iran berpendapat bahwa pasca kemenangan al-Sisi yang sudah dapat diprediksi sebelumnya dalam pemilu, pemerintah baru Mesir praktis akan berusaha “membeli” legitimasinya di mata dunia, dan undangan al-Sisi tersebut adalah undangan yang mengarah pada upaya tersebut.

“Pemerintah baru Mesir berusaha mendapatkan legitimasi untuk dirinya di dalam dan di luar negeri dengan cara mengundang presiden Iran ke negara itu,”ujar Ahmad Shohani, anggota Komisi Keamanan dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, sebagaimana dikutip FNA.

Menurut Shohani, pasca kemenangannya dalam pemilu al-Sisi mengadopsi kebijakan multifacet dan berusaha mendapatkan reputasi internasional melalui pemulihan hubungan dengan negara-negara berpengaruh semisal Republik Islam Iran.

“Saya kira dia (Presiden Rouhani) tidak akan mau terlibat dalam perjuangan politik dengan pemerintahan baru Mesir. Dia juga akan menahan diri dari menghadiri upacara pengambilan sumpah (al-Sisi) karena al-Sisi terlibat dalam penggulingan pemerintahan Ikhwanul Muslimin yang sah dan legal,” imbuh Shohani.

Hubungan antara Mesir dan Iran sangat mesra pada masa pra-revolusi Islam Iran pada tahun 1979. Pasca revolusi ini hubungan kedua negara menurun dan fluktuatif. Pada tahun tersebut Iran bahkan memutus hubungan diplomatiknya dengan Mesir sebagai protes terhadap Perjanjian Camp David antara Kairo dan Tel Aviv.

Namun, pasca revolusi Mesir tahun 2011 yang menggulingkan diktator Hosni Mubarak terjadi upaya-upaya signifikan untuk perbaikan hubungan kedua negara, meskipun upaya demikian sebenarnya juga sudah dimulai dalam beberapa tahun terakhir era kepemimpinan Mubarak. (mm/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL