iran dan P5 plus 1LiputanIslam.com – Kesepakatan kerangka kerja nuklir Iran dengan enam negara besar dunia yang disebut P5+1, yaitu lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman, menyita perhatian banyak kalangan yang sebagian besar menyambut baik perkembangan terkait proyek nuklir Iran yang memang sudah lama menjadi isu global tersebut.

Kesepakatan awal itu dicapai Kamis lalu (2/4/2015) setelah kedua pihak melakukan pembicaraan secara maraton selama delapan hari di Laussane, Swiss, dengan tujuan mengatasi kecurigaan berbagai negara, terutama negara-negara Barat, terhadap program nuklir Iran.

Kesepakatan itu dicapai ketika Iran selama ini bersumpah tidak akan pernah melepaskan haknya menjalankan aktivitas nuklir untuk tujuan damai, sementara Israel, negara-negara Barat dan sebagian negara Timur Tengah kuatir dan menuduh program itu akan disalahgunakan Teheran untuk membuat senjata dan bom nuklir.

Berikut ini Liputan Islam menghimpun tanggapan dan komentar beberapa negara, PBB serta pernyataan Presiden Iran sendiri mengenai kesepakatan tersebut;

Tanggapan Saudi, AS dan Mesir

Pemerintah Arab Saudi yang selama ini terlihat tertekan oleh isu perundingan nuklir Iran akhirnya terlihat menyesuaikan diri dengan perkembangan yang mengasilkan respon positif terhadap kesepakatan tersebut.

Raja Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi tidak menunjukkan reaksi kecewa atas kesepakatan itu. Sebaliknya, dia hanya mengungkapkan harapannya supaya kesepakatan itu terus mengarah kepada “kesepakatan final yang mengikat serta menunjang penguatan keamanan dan stabilitas regional dan global.”

Sebagaimana dilansir kantor berita resmi Saudi, SPA, Jumat kemarin (3/4/2015) harapan itu dia kemukakan kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama yang menghubunginya via telefon, Kamis lalu (2/4/2015).

Gedung Putih sendiri dalam statemennya Kamis lalu juga menyatakan Obama telah menghubungi Raja Saudi dan membicarakan masalah “tindakan politik yang telah dicapai P5+1 serta Uni Eropa dan Iran mengenai kerangka kerja bersama terkait proyek nuklir Iran.”

Gedung Putih menyebut kesepakatan itu sebagai langkah awal yang baik dan akan berdampak pada kemajuan yang signifikan.

Sumber Gedung Putih mengatakan, “Presiden menekankan bahwa kerangka itu merupakan kemajuan signifikan menuju solusi terbaik dan komprehensif guna menutup semua jalur Iran dalam pengembangan senjata nuklir.”

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Mesir juga berkomentar mengenai kesepakatan nuklir Iran dan menyebutnya sebagai langkah awal menuju kesepakatan final yang diharapkan dapat membantu tegaknya stabilitas Timur Tengah.

Mengutip laporan kantor berita resmi Mesir, MENA, Reuters menyebutkan, juru bicara Kemlu Mesir Badr Abdel Atti menyatakan Kairo berharap akan dapat dicapai kesepakatan final yang dapat membantu stabilitas regional serta mencegah persaingan senjata.

Reaksi dan Kekecewaan Israel

Berbeda dengan sikap yang ditunjukkan pemerintah Saudi dan Mesir maupun AS, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu tak dapat menyembunyikan kekecewaannya terhadap kesepakatan P5+1 dengan Iran. Sebagaimana dilaporkan AFP, Jumat kemarin dia menyebut kesepakatan itu membukakan jalan bagi Iran untuk menjamah senjata nuklir sehingga menjadi ancaman besar bagi eksistensi Israel.

Hal itu praktis menunjukkan kegagalan Obama meredakan kegusaran Tel Aviv mendengar berita kesepakatan nuklir Iran.

Kemarahan Netanyahu itu dinyatakan oleh juru bicaranya, Mark Regev, melalui akun Twitter. “PM Netanyahu kepada Presiden Obama: Sebuah kesepakatan berlandaskan kerangka kerja ini akan mengancam kelangsungan hidup Israel,” tulisnya.

Kantor Netanyahu sendiri juga merilis statemen yang menyebut kesepakatan itu “sangat berbahaya bagi Israel serta kawasan regional dan global.” Statemen itu menambahkan bahwa kesepakatan itu memberi legitimasi kepada program nuklir Iran, memperkuat ekonomi Iran, dan menambah agresi dan terorisme Iran di Timur Tengah dan kawasan lain.

“Kesepakatan demikian tidak mungkin dapat menghadang Iran. Sebaliknya, justru membukakan jalan baginya untuk menjangkau bom nuklir,” ungkap statemen tersebut, sebagaimana dikutip Alalam.

Sambutan Sekjen PBB dan PM Inggris

Sekjen PBB Ban Ki-moon Kamis lalu mengungkapkan apresiasinya atas kesepakatan awal Iran – P5+1. Dia optimis kesepakatan itu akan membukakan kesempatan bagi penguatan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.

“Kesepakatan komprehensif itu akan menyediakan batasan-batasan substansial bagi program nuklir Iran serta menghapus semua sanksi,” ungkap Ban dalam statemen yang dibacakan oleh juru bicaranya, sebagaimana dilaporkan laman UN News Centre.

Dia menambahkan, “Perjanjian ini akan menghormati kebutuhan dan hak Iran apabila memberikan jaminan kepada khalayak internasional bahwa aktivitas nuklirnya akan selalu dikhususkan untuk tujuan damai.”

Tanggapan optimistik juga dikemukakan oleh Perdana Menteri Inggris, David Cameron. Dia menyambut baik apa yang disebutnya “kesepakatan kuat” yang telah dicapai dalam perundingan mengenai program nuklir Iran, serta menilainya “berpotensi untuk membuat dunia kita semakin aman.”

“Sekarang yang kita perlukan ialah menuntaskan rincian, namun pada jantung apa yang disebutkan bahwa jalur Iran untuk senjata nuklir telah diblokir,” ungkapnya kepada ITV, Jumat.

“Ada pemeriksaan yang tepat sehingga mereka (Iran) tidak dapat mundur dari perkataan mereka, dan ini memiliki potensi untuk membuat dunia kita semakin aman, jadi kami sudah melihatnya adanya terobosan penting,” lanjutnya.

Dia juga mengatakan, “Yang lebih krusial lagi ialah bahwa sanksi-sanksi -yang telah membuat Iran terdorong ke meja perundingan- tidak akan dicabut sebelum Iran memenuhi janji-janjinya dalam kesepakatan ini.”

Pesan Presiden Iran

Presiden Iran sendiri, Hassan Rouhani, menyebut kesepakatan itu sebagai peristiwa yang terpahat dalam ingatan sejarah bangsa Iran dan membuat bangsa ini layak mendapatkan apresiasi dan penghargaan atas resistensinya yang luar biasa di depan badai tekanan yang selama ini menerjang mereka.

“Hari ini adalah hari yang akan lestari dalam ingatan sejarah bangsa Iran, hari yang menurut saya adalah penghargaan dan apresiasi bagi bangsa Iran yang besar. Dengan solid dan resistensinya rakyat Iran telah menjejakkan satu lagi langkah di jalur peraihan cita-cita tinggi nasionalnya,” ungkap Rouhani dalam pesan televisinya kepada rakyat Iran di Teheran, Jumat, sebagaimana dilansir kantor berita resmi Iran, IRNA.

Dia mengatakan, “Apa yang kemarin dikatakan orang bahwa pengayaan uranium di Iran adalah ancaman bagi kawasan dunia hari ini semua orang menerima bahwa pengayaan uranium di Iran bukanlah ancaman bagi siapapun… Saya di sini berterus terang bahwa pengayaan uranium dan semua teknologi nuklir kita semata-mata demi pembangunan Iran. Pengayaan uranium dan teknologi ini tidak akan pernah mengancam negara manapun, di kawasan regional maupun global.”

Dia melanjutkan, “Sekarang dunia mengakui dengan baik bahwa Iran mengejar tujuan-tujuan damai. Dalam rangka ini, (instalasi nuklir) Arak akan aktif dengan teknologi yang lebih modern. Sedangkan (Instalasi nuklir) Fordow yang oleh sementara orang dibayangkan akan ditutup ternyata akan dibuka untuk selamanya. Di Fordow akan dipasang sebanyak lebih dari 1,000 mesin sentrifugal, dan aktivitas serta teknologi-teknologi nuklir dan fisika lain akan dilakukan di sana.”

Rouhani mengingatkan, “Sesuai perjanjian ini, semua sanksi keuangan, ekonomi dan perbankan akan dicabut tepat pada hari pelaksanaan perjanjian… Pada hari itu, semua resolusi anti Iran, yakni enam resolusi, akan dicabut.”

Lebih jauh dia mengatakan, “Pendirian kita ialah bahwa di dunia masa kini ancaman terhadap pihak-pihak lain sudah tidak berharga. Tekanan terhadap pihak-pihak lain tidak bernilai, dan semua harus berusaha mendapatkan ‘win-win solution’; kesepakatan yang menguntungkan semua pihak, saling hormat, (menjaga) kepentingan bersama, dan mencapai tujuan kolektif.”

Dia menambahkan, “Sebagian orang beranggapan bahwa kami harus harus berperang melawan dunia, atau jika tidak maka kita harus menyerah kepada kekuatan-kekuatan besar. Kami berkeyakinan bahwa opsinya bukan demikian, melainkan masih ada jalan ketiga. Kita dapat bekerjasama dengan dunia. Hanya saja, mereka mengatakan bahwa perundingan terbayangi oleh tekanan, namun mereka sendiri mengetahui bahwa pernyataan demikian ini tidak berdasar.”

Presiden Iran menepis anggapan bahwa sanksi-sanksi selama ini diterapkan untuk menyeret Iran ke meja perundingan, sebagaimana disebutkan oleh PM Inggris.

“Mereka menjatuhkan sanksi supaya kita menyerah, namun ketika mereka melihat ternyata tidak mungkin kita menyerah dan merekapun merasa berhadapan dengan sebuah bangsa yang bersatu, kompak dan pemberani, mereka lantas mengklaim bahwa sanksi adalah demi perundingan. Padahal sebelum ada sanksipun kita sudah berunding dengan dunia, dan di tengah sanksipun kita juga bernegosiasi dengan dunia.”

Di bagian akhir pesannya dia mengatakan, “Pendirian pemerintah ialah bahwa jika pihak-pihak lain menghormati kita dan tidak mengintimidasi kita maka balasan penghormatan mereka itu adalah penghormatan pula, kita menghormati mereka, dan sekarang mereka menyadari kenyataan bahwa di depan penghormatan adalah penghormatan, bukan ancaman, bukan sanksi dan bukan pula tekanan. Keberhasilan besar pendirian ini menunjukkan kebenaran pendirian ini.” (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL