Syeikh Ahmad Karimah

Syeikh Ahmad Karimah

LiputanIslam.com –  Bukan rahasia lagi bahwa Dunia Islam sudah lama dilanda fenomena merebaknya faham  Salafisme/Wahabisme, sebuah faham keislaman yang selama ini menjadi pedoman para ekstrimis dan bahkan teroris di berbagai penjuru dunia, serta subur di mana-mana berkat kekuatan dana raksasa para juragan dan rezim-rezim petrodolar Arab di kawasan Teluk Persia.

Faham ini melanda semua negara Islam, tak terkecuali Mesir yang selama ini menjadi benteng dan lumbung pemikiran Islam Ahlussunnah Waljamaah. Konon, merebaknya Wahabisme di Negeri Piramida ini bermula sejak awal dekade 1970-an, yaitu ketika ribuan orang Mesir berbondong-bondong mencari pekerjaan di negara-negara Arab Teluk Persia kemudian pulang membawa sekeranjang oleh-oleh berupa faham Wahabisme.

Sejak itu, ikon-ikon Wahabi di Mesir  bermunculan di mana-mana bak jamur di musim hujan dalam bentuk masjid, pusat kajian, yayasan, sekolah dan jam’iyyat yang serba mentereng berkat derasnya dana dari negara-negara kaya minyak di Teluk Persia. Fenomena ini tak pelak mengancam wibawa dan kebesaran Universitas al-Azhar, seperti diakui oleh para pemukanya.

Sejak itu pula, suara keagamaan Mesir yang dikenal moderat dan direpresentasikan secara elegan dan nyata oleh al-Azhar dan para tokohnya seakan mereda, entah karena gengsi meladeni Wahabi, atau karena mengalah dan memilih jalan aman, mengingat kaum Wahabi didukung dana, fasilitas, dan media raksasa sehingga siapapun akan kewalahan jika mendapat tekanan dari kaum Wahabi lokal yang didukung penuh oleh rekan-rekan mereka di negara-negara Teluk, khususnya Arab Saudi.  Tokoh sehebat apapun akan mudah ditekan dan diboikot hanya lantaran berani mengritik Wahabisme.

Ketegaran Syekh Ahmad Karimah

Syeikh Ahmad Karimah, guru besar ilmu syariat Universitas al-Azhar, adala tokoh dan ulama besar Mesir yang paling menjadi bulan-bulanan kaum Salafi/Wahabi. Dia tergolong tokoh yang paling peka terhadap ancaman bahaya Wahabisme terhadap faham Islam Ahlussunnah Mesir sehingga merasa bahwa harus ada orang yang berani bangkit melawan fenomena Wahabisme sebelum terlambat.

Maka tampillah dia dengan suara paling lantang menghadapi barisan Salafi/Wahabi. Dia berjuang mengibarkan apa yang sudah pernah dikibarkan oleh para pendahulunya di al-Azhar, yaitu gerakan “taqrib bain al-madzahib al-Islamiyyah”, pendekatan antarmazhab Islam. Dia berkeyakinan bahwa Wahabisme akan kehabisan oksigen untuk bernapas apabila gerakan ini sukses, sebab Wahabisme tak betah hidup di lingkungan masyarakat yang damai, tentram dan toleran, karena Wahabisme identik dengan perilaku takfiri, yaitu  kegemaran menyalahkan,  menyesatkan dan bahkan mengafirkan orang lain yang tak sejalan dengan faham ini.

Setelah meluncurkan misinya itu dan mendapat sambutan dari berbagai kelompok dan aliran Islam, kecuali Salafi/Wahabi, Syeikh Karimah menjadi target tekanan masif kaum Wahabi, apalagi setelah ruang gerak mereka di Mesir mulai dirasa tak nyaman menyusul digelarnya Muktamah Ahlussunnah Waljamaah di Cechnya. Dia yang tak sudi mengafirkan Syiah dan bahkan cukup dekat dengan kalangan Syiah akhirnya dituduh Syiah dan kafir.

Belum lama ini, Syeikh Karimah menjadi narasumber dalam sebuah acara stasiun TV Mesir. Di situ dia membolehkan penyelenggaraan peringatan peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Madinah maupun peringatan-peringatan lain yang ada dalam tradisi sebagian umat Islam yang berlangsung bersamaan dengan pergantian tahun Hijriah. Kalau di Indonesia, tradisi demikian misalnya ialah Festival Tabuik yang menjadi tradisi masyarakat Minangkabau di daerah pantai Sumatera Barat, khususnya di Kota Pariaman, dalam rangka memperingati hari kesyahidan cucu Nabi Muhammad saw, Imam Husain ra.

Namun, pada sesi kontak dengan pemirsa, tiba-tiba ada seorang Salafi/Wahabi bernama Mahmud Amir mengontak dan langsung mengumbar kata-kata vulgar tanpa mengindahkan tatakrama berbicara di depan publik, sebagaimana sudah menjadi kebiasaan kaum Wahabi dalam berperilaku. Dia juga menyebut acara-acara peringatan itu sebagai bid’ah.

Berikut ini adalah terjemahan penggalan kalimat-kalimat utuh yang meluncur dari Mohammad Amir dalam kontak telefon tersebut;

“Orang yang terhubung dengan agama (Syekh Karimah) seharusnya membantu kekuatan-kekuatan perdamaian melawan orang yang menghancurkan dan membunuhi anak-anak kecil, bayi-bayi menyusu, dan para lansia di Aleppo. Tapi Syeikh Karimah hatinya ada di Najaf.

“Jika orang ini (Syeikh Karimah) mendatangi Anda dalam acara, kemudian setiap orang dari kita diberi waktu setengah jam tanpa intervensi, niscaya saya akan mendebatnya mengenai kekafiran yang dinisbatkan orang kepadanya.

“Andaikan perkataan yang dinisbatkan kepada Ahmad Karimah benar, maka segera saja dia diminta bertaubat, dan pemerintah mengetahui siapa Mahmud Amir.”

Pernyataan kasar dan bernada pengkafiran sedemikian rupa di depan publik tentu mengherankan jika dilakukan oleh orang biasa, tapi mungkin tidak demikian jika pelakunya adalah orang Wahabi, sebab mereka sudah dikenal sebagai kalangan bersumbu pendek atau mudah naik pitam ketika menyaksikan orang lain tak sependapat dengan mereka.

Menanggapi pernyataan itu, Syeikh Karimah berkata, “Mengenai tuduhan-tuduhan yang dia katakan itu, saya mengadukannya kepada Allah. Adapun ajakannya untuk berdebat, saya siap berdebat dengan alim (ulama). Jika ada penyandang gelar doktor dalam kuliah syariat yang diakui negara maka saya menyambut baik (marhaban) dialog.”

Dia menambahkan, “Adapun berdialog dengan para artisan dan profesional maka, dengan segala hormat saya kepada setiap artisan dan profesional, kedudukan saya terlalu mulia untuk demikian, dan al-Azhar al-Syarif tempat saya berasal dan saya merasa bangga dengannya terlalu agung untuk berdebat dengan orang awam.”

Haus fitnah dan perselisihan antarumat Islam membuat kaum Wahabi tak tahan melihat orang yang berjuang merekatkan sesama umat Islam semisal Syeikh Karimah. Demi membunuh karakter dan reputasi guru besar al-Azhar ini bahkan di medsos ArabTimteng terlihat adanya gerakan masif cyber army atau pasukan maya kaum Wahabi untuk mem-bully  Syeikh Karimah.

Pihak yang paling diuntungkan oleh gerakan anti toleransi Wahabi ini tentunya Rezim Zionis Israel dan kekuatan-kekuatan imperialis lain pendukungnya.  Bagi kubu mustakbirin ini, tak ada senjata yang lebih ampuh untuk mengacak-acak barisan dan solidaritas umat Islam daripada gerakan intoleransi aliran Salafi/Wahabi.

Gerakan berdana fantantis ini dapat mereka andalkan untuk mengganyang kubu muqawamah/ resistensi bangsa-bangsa Arab dan umat Islam terhadap Israel dan neo-imperialisme. Karena itu tak berlebihan apabila sebagian orang menilai tipis sekali perbedaan antara bahaya Salafi/Wahabi takfiri dan bahaya Zionisme. Keduanya sama-sama paling merugikan dan mengancam masa depan Arab dan umat Islam.

Betapapun demikian, berkat keberadaan tokoh-tokoh Islam moderat semisal Imam Besar al-Azhar Syeikh Ahmad al-Tayyip dan Syeikh Ahmad Karimah, Universitas al-Azhar hingga kini masih eksis sebagai benteng kokoh Ahlussunnah Waljamaah sejati di Mesir maupun di dunia. (Baca: Blak-Blakan Muktamar Aswaja Sedunia Soal Wahabisme) Di tengah fenomena badai fanatisme,intoleransi dan radikalisme yang terus dikembangkan oleh kaum Salafi/Wahabi mereka tetap berdiri tegar menggalang pendekatan antarmazhab Islam.  (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL