mideast-iran-syria-presidential-electionLiputanIslam.com – Rakyat Suriah akhirnya memilih menyukseskan pemilihan umum presiden (pilpres) di tengah kecamuk senjata yang masih terjadi di sebagian wilayah negara ini. Pemilu yang dimenangi oleh presiden petahana (incumbent) Bashar al-Assad itu berlangsung dua tahap, pertama untuk warga negara Suriah di luar negeri yang berlangsung tanggal 28 Mei lalu, dan kedua untuk warga yang berada di dalam negeri Suriah sendiri yang berlangsung tanggal 3 Juni lalu.

Di tengah suasana krisis dan kecamuk kekerasan, kesuksesan pilpres Suriah tak pelak menjadi fenomena politik yang spektakuler. Apalagi, ketika pihak-pihak oposisi berulangkali menyerukan boikot pemilu, dan negara-negara Barat dan beberapa sekutunya sejak jauh hari menyebut pemilu itu sebagai lelucon, dagelan, parodi dan lain sebagainya, peserta pemilu ternyata justru membludak.

Pada pemilu tahap pertama, dunia dikejutkan oleh “serbuan” ratusan ribu warga negara Suriah ke gedung Kedutaan Besar (kedubes) Suriah di Beirut, ibu kota Lebanon, untuk menyukseskan pilpres, mengakibatkan panitia pemilu dan aparat keamanan kewalahan sehingga masa pemungutan suara diperpanjang dari satu menjadi dua hari.

Sedangkan pada tahap kedua, rakyat Suriah juga berbondong-bondong mendatangi kotak-kotak suara yang disebar di 9,601 lokasi. Tempat-tempat pemungutan suara yang seharusnya tutup pada pukul 19.00 waktu setempat terpaksa diperpanjang hingga pukul 24.000. Karena itu, tak aneh ketika akhirnya tercatat bahwa tingkat partisipasi dalam pilpres Suriah menyentuh angka 95 persen, jauh berbeda dengan pemilu Mesir yang juga baru selesai dengan tingkat partisipasi yang terpuruk di angka 47 persen.

Referendum

Dengan gambaran seperti di atas, tidaklah berlebihan apabila pilpres ini dipandang bukan sekedar pilpres, melainkan lebih menyerupai referendum di mana rakyat Suriah memilih kata “tidak” pada perang yang dipicu oleh pemberontakan kubu oposisi serta kekerasan bernuansa sektarianisme yang mereka kobarkan bersama kelompok-kelompok ekstrimis asing, khususnya yang berafiliasi dengan jaringan teroris al-Qaeda.

Pilpres Suriah berlangsung ketika Tentara Arab Suriah (SAA) tidak lagi dalam posisi defensif dan pasif di depan aksi pemberontakan. Sebaliknya, operasi militer pasukan pemerintah Suriah itu sudah memasuki babak penumpasan dan pembersihan kelompok-kelompok gerilyawan bersenjata dan perebutan kembali beberapa kawasan yang masih dikuasai gerilyawan.

Karena itu, ketika pilpres Suriah sukses begitu gemilang maka pesan yang terkandung di dalamnya ialah penolakan rakyat negara ini terhadap campurtangan dan solusi-solusi yang ditawarkan oleh pihak asing. Bagi rakyat Suriah, problematika negara mereka harus diselesaikan oleh bangsa Suriah sendiri melalui sebentuk referendum yang kini termanifestasi dalam pilpres.

Dari sisi lain pilpres ini juga menjelma sebagai demonstrasi politik Presiden Incumbent Suriah Bashar al-Assad untuk membuktikan loyalitas rakyat Suriah kepada pemerintahannya. Pemilu yang diperjuangkan Assad mirip dengan apa yang dilakukan oleh kubu oposisi sebelum pecang perang, yaitu ketika mereka mengerahkan ribuan massa setiap hari Jumat di beberapa kota, sebelum akhirnya mereka mengangkat senjata untuk merobohkan Assad dengan bantuan negara-negara asing. syrian-election

Selama sekian tahun Suriah dilanda krisis, opini yang dikembangkan kubu oposisi serta raksasa media Barat ialah bahwa pemerintahan Assad sama sekali tidak didukung oleh rakyat. Karena itu, kesuksesan pilpres Suriah sedemikian gemilang praktis menjadi ledakan politik yang melumat opini negatif yang telah digelembungkan oposisi dan media Barat. Gambar dan poster-poster Bashar al-Assad yang dibawa oleh banyak warga Suriah ketika mendatangi lokasi-lokasi pemungutan suara menandai keberhasilan cara Assad tersebut. Mereka sama sekali tidak menunjukkan simpati kepada oposisi. Aksi mereka juga sekaligus menandai penolakan terhadap sikap kalangan yang tidak peduli kepada kondisi negaranya yang memburuk akibat pemberontakan.

Pengaruh Pilpres

Pertanyaan yang mencuat sekarang ialah apakah kesuksesan pemilu ini akan dapat mempengaruhi sikap para pendukung gerilyawan pemberontak dan teroris? Pertanyaan ini tentu akan terjawab dengan sendirinya di masa mendatang. Hanya saja, hampir pasti bahwa kalangan yang sudah menabrak jalan buntu dalam obsesinya untuk menciptakan transformasi politik di Suriah melalui jalur militer tidak mudah mengabaikan kesuksesan pemilu itu, walaupun mereka tetap mencibir dan meremehnya. Indikasinya, di negara-negara barat yang melarang penyelenggaraan pemilu di kedubes Suriah, termasuk Perancis dan Inggris, larangan itu mendapat kecaman masif dari berbagai kalangan independen.

Membayangkan kesuksesan pilpres Suriah akan dapat memecahkan krisis Suriah dalam waktu cepat memang sulit. Namun, pada perkembangan situasi sekarang, penyelesaian krisis justru sedang berproses melalui gerak maju pemerintah Suriah dalam upayanya merebut kembali seluruh kawasan yang masih dikuasai gerilyawan. Sejauh ini, pemerintah Damaskus sudah menguasai penuh 80 persen wilayah Suriah. Karena itu, perkembangan situasi di lapangan ini akan sangat menunjang faktor pemilu dalam penyelesaian krisis.

syria_presidential_electionPerkembangan militer itu juga mempengaruhi sikap Barat. Barat semula bersikukuh untuk mengatasi krisis Suriah sesuai selera dan interes mereka melalui jalur militer sertai suplai dana dan senjata kepada kelompok-kelompok bersenjata, termasuk para teroris takfiri. Namun dalam enam bulan terakhir ini terjadi polemik di negara-negara Barat. Di Perancis, Inggris dan AS yang notabene pemain besar di balik krisis Suriah, misalnya, telah berkembang protes publik terhadap blunder pemerintah masing-masing dalam membuat kebijakan terkait krisis dan perang Suriah. Opini, komentar dan analisis yang bertaburan di berbagai media Barat menandai berkembangnya kekesalan masyarakat terhadap kegagalan rezim-rezim Barat menangkap realitas di Suriah sehingga terjebak pada kebijakan-kebijakan yang serba naif.

Barat menyadari dan mengakui kekandasannya. Karena itu, Barat yang semula menjadikan tumbangnya pemerintahan Assad sebagai harga mati belakangan malah mengajukan usulan resmi supaya Assad tetap bertahan berkuasa hingga beberapa tahun lagi tanpa pemilu, namun usulan ini ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Suriah. Damaskus tetap bersikukuh pada penyelenggaraan pemilu. Semua ini menunjukkan bahwa Barat boleh dikata sudah frustasi terhadap jalur militer.

Efek Perkembangan Situasi Internasional

Perkembangan yang terjadi dalam krisis Suriah juga tidak lepas perkembangan situasi regional dan internasional, mulai dari Krisis Ukraina hingga beberapa revolusi yang telah menciptakan berbagai perubahan di sejumlah negara Arab yang semuanya ini menunjukkan bahwa kartu kemenangan tidak selalu ada di tangan Barat. Terbukti bahwa ke negara manapun tangan Barat hendak menancapkan dominasinya pasti akan diwaspadai dan direaksi serius oleh rakyat negara setempat. Suriah adalah bagian dari fenomena penolakan terhadap Barat sebagaimana yang juga terjadi di Irak dan Afghanistan dan yang telah memaksa AS untuk berpikir keras agar dapat keluar sepenuhnya dari dua negara itu secara terhormat tanpa kehilangan pamor.

Alhasil, perkembangan yang terjadi di Suriah, meski harus dibayar mahal, cenderung mengarah pada solusi seperti yang diharapkan oleh negara-negara independen seperti Iran. Yakni solusi melalui jalur diplomatik, dan solusi ini sekarang tengah berproses dan tertunjang oleh kesuksesan pilpres Suriah. (mm/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL