LiputanIslam.com –
 Invasi militer Arab Saudi dan sekutunya terhadap Yaman telah melewati masa 1000 hari.  Pihak Saudi mengabaikan fase tiga tahun ini, sedangkan pihak Ansarullah (Houthi) di Yaman memperingatinya dengan cara unik, yaitu melesatkan rudal balistik bersayap menuju sasaran berupa Istana Yamamah, Riyadh selatan, tempat Raja Salman bin Abdulaziz mengendalikan urusan kenegaraannya.

Ansarullah mengumumkan peringatan 1000 hari resistensinya dan menegaskan bahwa rudal itu menyasar Istana Yamamah ketika Raja Salman sedang memimpin rapat kabinet untuk mengumumkan anggaran tahunan negaranya. Pemimpin Ansarullah, Abdel Malik Al-Houthi, menyatakan, “Setelah 1000 hari resistensi sekarang istana rezim Saudi serta fasilitas minyak dan militernya berada dalam jangkauan rudal-rudal kami.” Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa serangan rudal-rudal lain juga akan menyusul.

Mengenai apakah rudal itu mengena sasaran atau tidak, terdapat penjelasan dalam dua versi sebagai berikut;

Pertama, keterangan resmi Saudi yang menyatakan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil merontokkan rudal Yaman itu di angkasa. Saudi menampilkan penggalan video amatir yang dianggapnya mendukung klaim ini.

Kedua, keterangan yang termuat di majalah National Interest yang berspesialisasi di bidang militer.  Menurut keterangan ini, sistem pertahanan udara Patriot gagal merontokkan rudal Yaman tersebut sebagaimana sistem buatan Amerika Serikat (AS) ini juga gagal menghancurkan serangan rudal Yaman terhadap bandara internasional King Khalid, Riyadh, pada November lalu.

Pakar rudal Rusia menyatakan Patriot gagal mencegat rudal Yaman, namun rudal Yaman ini juga tidak mengena sasaran akibat adanya kerusakan, sementara serpihan yang ditemukan bukanlah akibat ledakan di udara, melainkan karena jatuh sendiri.

Pergunjingan mengenai kegagalan rudal Patriot menyergap rudal Yaman menghiasi kajian di berbagai majalah dan laman Barat yang berspesialisasi di bidang militer, dan bisa jadi kegagalan inilah yang mendorong Saudi untuk membeli sistem S-400 dari Rusia yang disebut-sebut lebih efektif daripada Patriot.

Dalam serangan ke Riyadh kali pertama November lalu, Saudi melesatkan tujuh rudal Patriot untuk merontokkan rudal Yaman. Sedangkan pada serangan Selasa lalu Saudi meluncurkan lima rudal Patriot. Dalam dua peristiwa ini sistem Patriot sama-sama gagal menghancurkan rudal balistik “Burkan H-2” milik Ansarullah, dan ini praktis sangat meresahkan pemerintah AS dan Saudi.

Saluran TV resmi Saudi, Al-Ekhbariya, menyatakan bahwa sejauh ini Ansarullah telah melesatkan 81 rudal balistik ke beberapa kota Saudi sejak 2015, yakni sejak Saudi dan sekutunya memulai operasi militer bersandi “Badai Mematikan” terhadap Yaman. Jika untuk merontokkan satu rudal balistik Yaman diperlukan rata-rata lima rudal Patriot maka Saudi telah berusaha menyergap rudal-rudal Yaman itu dengan sedikitnya 400 rudal Patriot, sementara setiap satu unit Patriot berharga  US$ 4-7 juta.

Sebuah teori militer Barat kini sedang berkembang luas dan menyatakan bahwa serangan rudal balistik Ansarullah Yaman merupakan strategi untuk mencapai dua tujuan:

Pertama, menghabiskan rudal Patriot Saudi secepatnya, karena untuk proses kesepakatan penggantiannnya dengan sistem baru memerlukan banyak waktu.

Kedua, memindah perang ke wilayah Saudi dan menciptakan ketakutan di tengah publik Saudi yang selama ini merasa aman sepanjang  80 tahun usia negara kerajaan ini. Selama ini Saudi belum pernah terjangkau rudal atau serangan udara kecuali serangan rudal Scud Irak yang menimpa gedung Kemendagri Saudi pada tahun 1991.

Warga Saudi mendengar suara ledakan rudal Yaman yang menerjang Riyadh, baik yang pertama maupun yang kedua. Sebagian serpihannya bahkan dilaporkan jatuh di halaman rumah aktor ternama Saudi Abdullah Al-Sadhan. Ini berarti bahwa selanjutnya rudal-rudal Yaman lainnya juga berpotensi menimpa dan meledak di kawasan permukiman, seperti dikatakan para analis militer.

Di sisi lain, Saudi menuai pernyataan simpati dari sejumlah negara Arab atas adanya serangan rudal Yaman ke Riyadh. Hanya saja, pernyataan simpati itu justru kontrapoduktif di depan publik Arab seperti terlihat dari maraknya kecaman di media sosial Arab terhadap pernyataan itu. Khalayak menyoal mengapa negara-negara itu menyatakan simpati kepada Saudi, sedangkan pernyataan serupa tidak mereka ungkapkan kepada bangsa Yaman atas jatuhya ribuan korban jiwa dan puluhan ribu korban luka di Yaman akibat operasi militer Badai Mematikan? Publik bertanya-tanya apakah ini karena Saudi kaya raya, sedangkan bangsa Yaman miskin?

Saudi tentu berusaha menghentikan serangan rudal Yaman. Namun, cara yang paling efektif untuk ini ialah bernegosiasi langsung dengan Ansarullah untuk mendapat solusi yang memuaskan semua pihak, menyelesaikan perang, dan memulihkan stabilitas dan keamanan. Saudi dan sekutunya, Uni Emirat Arab, diam-diam pernah berunding dengan mantan diktator Yaman Ali Abdullah Saleh yang juga musuh mereka setelah tiga tahun mereka menolaknya. Mereka bahkan telah mencapai kesepakatan-kesepakatan politik dengan Saleh beberapa hari menjelang keterbunuhan Saleh. Lantas mengapa mereka tidak melakukan hal yang sama dengan Ansarullah daripada melanjutkan pertumpahan darah? Jalur perundingan tetap harus diupayakan, betapapun sulit dan peliknya sehingga membutuhkan banyak waktu. (mm/rayalayoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*