LiputanIslam.com –  Sebuah pertemuan fenomenal telah terjadi di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, Ahad lalu (21/5/2017).  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah berkunjung ke negara kaya minyak ini dan di Riyadh mengadakan pertemuan bukan hanya dengan raja dan para petinggi negara ini, melainkan juga dengan para pemimpin dan kepala negara dari 55 negara Arab dan Islam.

Para pemimpin Arab dan Islam sebanyak itu semestinya bernyali untuk menyebutkan kata “Palestina” barang sekali dalam deklarasi yang dihasilkan oleh pertemuan puncak yang disponsori oleh Saudi tersebut. Paling tidak mereka harus berani menyebutkan kata Palestina untuk sekedar basa-basi pemanis bibir, mengingat Palestina adalah bangsa yang sudah lebih dari enam dekade hidup di bawah aksi penindasan dan pendudukan kaum Zionis Israel yang didukung secara tanpa batas oleh dunia Barat.

Tak seperti mereka, Trump malah blak-blakan membela sekutunya, Israel, ketika berbicara di depan mereka. Tak tanggung-tanggung, dia menyebut faksi pejuang Palestina yang gigih membela bangsanya di depan Israel sebagai organisasi ekstremis dan teroris. Dia tak segan-segan mengimbau negara-negara Arab dan Islam supaya membantu Israel memerangi dan menumpas Hamas dengan dalih bahwa faksi ini mengancam keamanan dan perdamaian di Timteng.

Sesuai desakan Trump ini, Deklarasi Riyadh lantang berbicara mengenai ekstremisme dan terorisme sembari menuding Iran sebagai negara sponsor fenomena terkutuk ini. Deklarasi ini menegaskan “penolakan mereka sepenuhnya terhadap aksi pemerintah Iran mengacaukan keamanan stabilitas regional dan global serta konyuitasnya mendukung terorisme dan radikalisme.” Jelas bahwa “terorisme dan radikalisme” yang disponsori Iran bukanlah ISIS, Jabhat al-Nusra dan kelompok-kelompok ekstremis semisalnya, sebab semua kelompok ini memiliki para pendukungnya sendiri yang jelas di mata khalayak.

Deklarasi Riyadh jelas mengadopsi pendirian Israel ketika berbicara mengenai program rudal pertahanan Iran dengan menyebutkan poin “bahaya program rudal balistik Iran”, sementara tak satupun pemimpin Arab dan Israel berani angkat bicara mengenai bahaya instalasi nuklir beserta rudal balistik dan berbagai senjata destruksi massal yang dimiliki Israel. Mereka terlihat tidak ingin membangkitkan kegusaran tamu besar Saudi tersebut.

Tak kalah anehnya, Deklarasi Riyadh menegaskan, “Pertemuan puncak ini menjadi titik balik sejarah dalam hubungan dunia Arab dan Israel dengan Amerika Serikat, dan akan membuka cakrawala yang lebih kondusif bagi masa depan hubungan antara mereka.” Tak jelas bagaimana cakrawala itu akan terbuka sementara Trump sudah lama dikenal sebagai sosok intoleran, melarang masuknya orang Islam ke AS, dan berpikir keras untuk menyukseskan rencana pemindahan Kedubes AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis (Yerussalem).

Deklarasi ini juga terkesan asal-asalan ketika berbicara mengenai isu penumpasan ISIS. Deklarasi ini menegaskan, “Para pemimpin Arab dan Islam menyambut gembira kemajuan yang telah dicapai di lapangan dalam perang anti ISIS, terutama di Suriah dan ISIS.“ Padahal semua orang mengetahui bahwa pihak-pihak yang serius dan gencar memerangi ISIS adalah Iran, Hizbullah, serta tentara dan kelompok-kelompok relawan yang ada di negara-negara yang diacak-acak ISIS semisal Irak, Suriah, Lebanon dan Yaman.  Fakta ini diakui dan ditegaskan oleh negara-negara korban ISIS tersebut. Iran dan sekutunya dalam perang ini bahkan telah mempersembahkan banyak martir dan korban luka dalam perjuangan melawan terorisme ISIS.

Para pemimpin yang hadir dalam pertemuan puncak Riyadh menyambut baik “kesiapan sejumlah negara Islam berpartisipasi dalam koalisi militer Islam untuk memerangi terorisme dan menyiapkan pasukan cadangan sebanyak 34,000 untuk mendukung operasi-operasi anti organisasi-organisasi teroris di Irak dan Suriah apabila diperlukan.” Tak perlu dijelaskan di sini bahwa terorisme yang akan ditumpas oleh pasukan ini tidak mungkin Israel, sebagaimana juga bukan al-Qaeda dan kawan-kawannya karena dianggap moderat, juga bukan ISIS. Organisasi-organisasi “teroris” yang dimaksud tak lain adalah kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak dan Suriah.

Deklarasi Riyadh juga menegaskan “komitmen negara-negara peserta pertemuan puncak untuk memerangi teroris dengan segala bentuknya, membasmi akar-akar pemikirannya, dan mengeringkan sumber-sumber donasinya,” serta menekankan “pentingnya memperbarui dan meluruskan retorika-retorika pemikiran agar sejalan dengan manhaj Islam moderat yang mengajak kepada toleransi, kecintaan, kasih sayang, dan perdamaian.”

Deklarasi ini juga mengapresiasi “langkah besar dengan menyatakan niat mendirikan ‘aliansi strategis Timteng di kota Riyadh’ yang akan diikuti oleh sejumlah negara untuk andil dalam upaya mewujudkan perdamaian dan keamanan di kawasan dan dunia. Pendirian aliansi ini akan dirampungkan, dan akan dimaklumkan pula kebergabungan negara-negara peserta pada tahun 2018.”

Tak jelas pula bagaimana aliansi ini akan menjadi mesin perang pemikiran terhadap ISIS, al-Qaeda dan kelompok-kelompok takfiri  lainnya sementara ideologi yang dianut oleh semua kelompok ekstrem ini, tanpa kecuali, adalah faham Wahabisme, dan ini adalah fakta yang juga diketahui oleh para pemimpin yang telah meneken Deklarasi Riyadh.

Terakhir, pertemuan di Riyadh dengan segala gempita propagandanya, termasuk dalam menyudutkan Iran dan kubu perlawanan terhadap AS dan Israel, tidaklah lebih dari aksi Trump secara blak-blakan mengeruk harta negara-negara kaya Arab  tanpa disertai komitmen AS untuk membela mereka. Ketika berbicara mengenai “agresi”, Trump justru mengingatkan mereka supaya tidak menunggu AS dalam mengatasi agresi. Ini tak lain karena dia tahu persis bahwa Iran maupun negara-negara Islam lainnya sama sekali bukan ancaman bagi mereka. Sebaliknya, negara-negara kaya Arab inilah yang menjadi korban  penjarahan kekayaan ratusan miliar USD oleh AS di siang bolong. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL