iran saudi00LiputanIslam.com – Hubungan antara Iran dan Arab Saudi dewasa ini memasuki babak yang terburuk dalam sejarah fluktuasinya selama ini menyusul gejolak situasi politik di Yaman. Yaman rupanya menjadi menjadi bola yang paling panas dalam sejarah perselisihan Teheran-Riyadh pasca revolusi Islam Iran.

Hubungan keduanya nyaris tak pernah pernah reda dari gejolak sejak tergulingnya rezim Syah Iran yang notabene mitra dan sekutu Riyadh pada tahun 1979, dan kini gejolak itu menemukan puncaknya di Yaman. Sebelum krisis Yaman, keduanya sudah terlibat pergesekan yang cukup panas akibat perbedaan keduanya dalam menyikapi perkembangan situasi di Timur Tengah, khususnya Suriah, Bahrain, dan kemudian Irak.

Tahun 2013, ketika Hassan Rouhani terpilih sebagai presiden Iran, terdapat sinyalemen hubungan keduanya akan membaik. Namun, tingginya akumulasi perkara yang dipertikaikan serta cepatnya perkembangan situasi telah menimbulkan hambatan baru dan serius bagi upaya rekonsiliasi kedua negara.Iran-Saudi03

Sebelum Rouhani naik, hubungan keduanya cenderung memburuk. Di masa kepresidenan Mahmoud Ahmadinejad, ketika terjadi perang Hizbullah-Israel pada tahun 2006, pemerintah Riyadh menuding Hizbullah dan dua negara pendukungnya, Iran dan Suriah, melakukan “petualangan berbahaya”. Saudi mengingatkan bahwa Hizbullah harus siap menerima resiko petualangan itu.

iran saudi02Di masa kepresidenan Hashemi Rafsanjani di Iran, hubungan Teheran – Riyadh mengalami perbaikan signifikan. Keduanya bahkan meneken perjanjian keamanan dan militer bilateral, dan praktis hubungan diplomatik dan ekonomi kedua negara menjadi stabil. Tak hanya itu, suasana kondusif bagi semangat pendekatan antarmazhab Islam juga tercipta di tengah negara-negara Teluk, Yaman dan belahan utara Benua Afrika.

Pada dua periode kepresidenan Mohammad Khatami dan sebelumnya, periode Rafsanjani, Iran – Saudi berhasil mencairkan kebekuan hubungan yang bermula sejak kemenangan revolusi Islam di Iran dan berlanjut bahkan hingga dekade 1990-an.

Pada tahun 1980-an terjadi dua peristiwa besar yang memperkeruh hubungan kedua negara. Pertama, Saudi dan negara-negara Arab Teluk menyokong serangan rezim Saddam Hossein di Irak terhadap Iran. Kedua, bentrokan antara polisi Saudi dan jemaah haji Iran yang menewaskan sekitar 400 jemaah haji Iran. Insiden ini yang kemudian dikenal dengan “Tragadi Jumat Berdarah” itu terjadi ketika polisi Saudi membubarkan pawai anti Amerika Serikat dan Israel dalam aksi yangdigelar dan  disebut jamaah haji Iran sebagai “Bara’ah min al-Musyrikin” (berlepas tangan dari orang-orang musyrik). Pemerintah Saudi menyatakan aksi itu melanggar undang-undang.M

Secara garis besar, perselisihan dalam hubungan antara Republik Islam Iran dan kerajaan Arab Saudi dipicu oleh beberapa faktor sebagai berikut;

Pertama, persaingan pengaruh di Timur Tengah.

Kedua, hubungan dengan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat.

Ketiga, faktor minyak.

Keempat, program nuklir Iran.

Kelima, kebijakan dalam menyikapi isu-isu Palestina dan gerakan perlawanan terhadap Israel. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL