LiputanIslam.com –  Pada 16 Januari 1992 intelijen Israel berhasil menghabisi Sekjen Hizbullah Syahid Sayyid Abbas Al-Musawi dengan merudal mobilnya dari helikopter. Sejak itu mereka tak henti-hentinya mengincar penerus al-Musawi, Sayyid Hassan Nasrallah.

Nasrallah juga bukan sembarang orang. Dia telah dua kali berhasil menekuk pasukan Israel. Pertama, ketika Hizbullah berhasil memaksa mereka angkat kaki dari Lebanon Selatan secara sepihak pada tahun 2000 setelah mereka menderita kerugian jiwa dalam jumlah besar diterjang badai operasi militer Hizbullah. Kedua, ketika pada tahun2006 pasukan Zionis merasa yakin akan dapat menamatkan riwayat Israel tapi perang yang berlangsung 33 hari membuahkan hasil sebaliknya, mereka kalah lagi dan pamornya sebagai pasukan tangguh dan tak terkalahkan semakin runyam.

Belakangan ini media Israel intensif mengangkat isu mengenai rencana negara ilegal Zionis ini untuk mereror Nasrallah, dan yang terbaru di antaranya ialah laporan situs intelijen Israel, Walla, Selasa 6 Maret 2018, mengenai pengadaan tim gabungan badan-badan keamanan Israel, termasuk MOSSAD dan Shin Bet, untuk menghimpun informasi seputar Nasralah dan pemantauan terhadap pergerakannya untuk kemudian menghabisinya secara fisik.

Sudah 26 tahun badan-badan keamanan keamanan Zionis tak sanggup menembus lingkaran sempit yang mengitari Nasrallah. Pihak intelijen Hizbullah dapat mengatasi intelijen lawannya yang bersumbar sebagai dinas rahasia tercanggih di dunia.

Dalam Perang Juli 2006 jet-jet tempur Israel tak menyisakan satupun rumah yang berkemungkinan ditinggali Nasrallah di kawasan Dahieh, Beirut selatan, tapi hasilnya nihil. Sebabnya sepele, yaitu karena dia berpindah-pindah, di atas maupun di bawah tanah, bergerak leluasa dan nyaris normal, dan dengan pendapatan hanya sebesar 1200 USD/bulan dia hidup di tempat-tempat sederhana di tengah orang-orang yang bersahaya sehingga tidak mungkin akan shopping di kawasan semisal Hamra Street di Beirut.

Jurnalis Ghassan bin Jiddo, pemred TV Al-Mayadeen, dalam sebuah rangkaian acara yang mengangkat kenangannya tentang Perang Hizbullah-Israel Juli 2006 mengaku telah beberapa kali bertemu Sayyid Nasrallah saat pertempuran sedang memuncak, satu di antaranya di lantai dasar sebuah bangunan, dan satu lainnya di balkon sebuah rumah di Beirut selatan. Menurut Ghassan, sama sekali tidak terlihat kesan takut dalam gerak-gerik Sayyid Nasrallah. Seorang tokoh pejuang Palestina mengaku telah beberapa kali berjumpa dengannya di rumah-rumah yang sangat sederhana dan dengan sistem pengamanan yang minimal.

Pada Senin 5 Maret lalu para aktivis medsos mengunggah sebuah foto baru dan langka Sayyid Nasrallah dengan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Jenderal Qasem Soleimani di “sebuah tempat” tanpa mengenakan serban hitam.  Sebuah penggalan video langka juga telah beredar namun tampak merekam peristiwa lama ketika dia asyik menjalani hobinya bermain bola di masa muda.

Tentu wajar jika dalam banyak keadaan dia dijaga secara ketat, mengingat dia adalah sosok yang diincar bahkan oleh kalangan Arab sendiri sebelum Israel. Betapapun demikian, semua ini tak menghalanginya untuk menerima para delegasi dan tokoh Arab yang berkunjung ke Beirut di mana yang terbaru di antaranya ialah kunjung para delegasi kelompok-kelompok pejuang Palestina, termasuk gerakan Fatah yang hubunganya sangat terbatas dengan Hizbullah.

Pembicaraan mengenai penugasan tim-tim khusus, termasuk tim Caesarea untuk mengendus jejak Sayyid Nasrallah, sesekali memang mengemuka di tengah publik Israel manakala badan-badan keamanan Israel sedang mengalami tekanan mental.  Dalam konteks perang urat saraf mereka mencoba menenangkan publiknya yang ketar-ketir terhadap perkembangan militer Hizbullah, terutama setelah Sayyid Nasrallah belum lama ini mengancam akan merudal anjungan-anjungan migas lepas pantai serta mengingatkan warga Zionis agar menyingkir secepatnya jika tidak ingin menjadi mangsa perang di masa mendatang.

Sebagaimana dikatakan oleh para pakar militer Israel sendiri, satu-satunya pasukan Arab Islam yang dapat mengancam dan menebar keresahan pada rezim pendudukan Palestina ini adalah Hizbullah yang keahlian dalam perang kini jauh semakin tarasah, memiliki lebih dari 150,000 rudal, dan berbekal banyak pesawat nirawak, perahu cepat, dan fasilitas infrastruktur industri militer bawah tanah.

Pasukan Zionis mengincar nyawa Sayyid Nasrallah karena dialah otak di balik keberhasilan berdirinya sebuah organisasi militer dan keamanan yang mutakhir, melampaui para sesamanya di kawasan, dan yang lebih penting lagi ialah membawa  bendera resistensi serta memperkuat budaya resistensinya di tengah arus normalisasi hubungan Arab dengan Israel.

Badan-badan intelijen Israel memang berhasil membunuh para tokoh Hizbullah semisal Imad Mughniyah pada tahun 2012 serta Samir Qintar di penjara Israel dan Jihad Mughniyah pada tahun 2015. Namun, gugurnya para pahlawanan adalah bagian tak terpisahkan dalam sejarah setiap perjuangan dan pengorbanan di medan laga, dan di Hizbullah terbukti selalu ada ganti dan kader penerus yang tak kalah hebatnya.

Semua ini menunjukkan bahwa Sayyid Nasrallah telah membangun sebuah organisasi yang sempurna dan matang. Artinya, Hizbullah bukanlah organisasi yang bergantung pada satu figur sehingga jika ia gugur maka tamatlah riwayat organisasi ini. Buktinya, Hizbullah justru semakin solid, tangguh, dan resisten terhadap Israel setelah Sayyid al-Musawi gugur.

Israel akan terus mengangkat isu rencana-rencana terornya yang menempatkan Sayyid Nasrallah, Jenderal Solaimani, Ismail Haniyeh, Yahya Sinwar, dan Saleh al-Arouri sebagai target operasi intelijennya. Dan pasti, Sayyid Nasrallah dan kawan-kawan menyimak isu-isu itu sembari tersenyum, sebab siapa bermain air memang sudah seharusnya tidak takut basah. (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*