LiputanIslam.com –   Pernyataan para pejabat tinggi Arab Saudi serta ulasan berbagai media terkemuka yang dekat dengan pihak kerajaan di negara ini mengenai perkembangan krisis Yaman menunjukkan adanya pengakuan bahwa perang Yaman dalam bentuknya seperti yang ada sekarang gagal mewujudkan sebagian besar tujuannya meskipun operasi militer  “Badai Mematikan” yang dilancarkan oleh pasukan koalisi pimpinan Saudi sudah berjalan dua setengah tahun.

Karena itu, wacana yang mengemuka sekarang adalah opsi altenatif, terutama solusi melalui jalur damai, dan jika solusi ini tidak tercapai maka Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) tetap akan menarik diri secara bertahap dari krisis Yaman dan memasrahkan semua persoalan kepada pihak-pihak di Yaman sendiri untuk terus bertikai dan berperang sampai mereka kelelahan lalu terpaksa menjalin kesepakatan satu sama lain, atau sebagian pihak menang secara militer atas pihak yang lain kemudian memaksakan pendapatnya dengan kepalan tangan besi, atau jika tidak demikian maka Yaman terpecah menjadi kantung-kantung milisi.

Kesimpulan demikian telah diisyaratkan oleh Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir dalam pernyataannya beberapa hari lalu. Dia mengakui bahwa solusi militer tidak lagi bisa diandalkan untuk menuntaskan perkara di Yaman sehingga negaranya mulai cenderung menyokong solusi politik bagi Yaman, sebagaimana bagi krisis Suriah.

Perubahaan sikap resmi Arab Saudi disebabkan oleh faktor dua perkembangan utama sebagai berikut;

Pertama, mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh dalam pernyataannya kepada al-Yaman al-Youm telah mengungkap kabar bahwa Maroko menarik diri dari koalisi Arab pimpinan Saudi. Saleh juga menduga bahwa dua negara lain juga akan mengikuti jejak Maroko. Lebih jauh dia mengimbau negara-negara anggota koalisi ini agar menuntaskan urusan mereka dengan Iran di luar wilayah Yaman.

(Saleh: Maroko Keluar Dari Koalisi Arab, Dua Negara Lain Berpotensi Menyusul)

Kedua, artikel i koran Asharq al-Awsat, Senin (1/10/2017), yang ditulis oleh Abdul Rahman al-Rashid, jurnalis yang dikenal dekat dengan Mohammad Bin Salman, Putera Mahkota merangkap Menteri Pertahanan yang secara de facto telah menjadi penguasa tertinggi di Saudi. Artikel berjudul “Menuju Sa’dah” itu merekomendasi pengarahan pertempuran menuju kota Sa’dah yang notabene basis asal kelompok Ansarullah (Houthi) demi mencegah eksistensi Iran di wilayah perbatasan selatan Saudi. Al-Rashid menyebut Ansarullah sebagai Kuda Troya tempat orang-orang bersembunyi di dalamnya.

Para pejabat dan media Saudi sedang mencari pembenaran untuk kemungkinan keputusan Riyadh menarik pasukan secara berharap dari perang Yaman yang juga telah merenggut banyak korban jiwa dan materi di pihak mereka serta mencoreng citra Riyadh di berbagai forum internasional.

Mereka beralasan bahwa pasukan pemerintahan yang sah menurut mereka telah menguasai sepertiga Yaman, terutama Aden, “ibu kota kedua Yaman”, dan bahwa Saudi cukup mendukung pasukan ini saja, memusatkan upaya penumpasan Ansarullah di Sa’dah saja, dan berupaya merebut hati pemimpin kabilah-kabilah yang ada di wilayah utara Yaman serta mempekerjakan mereka dalam perang ini sebagaimana biasa terjadi pada dekade-dekade sebelumnya.

Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa sebagaimana rezim-rezim Arab lainnya, rezim Saudi mengondisikan keadaan untuk keputusan-keputusan besar dan strategisnya dengan menggerakkan para penulis, media massa, dan pejabatnya agar turut memberikan penjelasan tentang itu melalui berbagai artikel dan statemen.

Pengondisian ini tampaknya sudah dimulai sehingga tidak tertutup kemungkinan akan ada keputusan yang mengubah kebijakan-kebijakan militer dan politik signifikan dalam beberapa pekan mendatang mengenai penarikan diri Saudi secara bertahap dari krisis Yaman. Upaya militer sudah membentur jalan buntu, dan nasib yang sama disebut-sebut juga menimpa misi Ismail Ould Cheikh Ahmed, Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Yaman. Celakanya, beban intevensi militer Saudi ini terlampau besar untuk ditanggung Riyadh di tengah krisis moneter, merebaknya kecaman internasional, dan memburuknya tragedi kemanusiaan yang diderita rakyat Yaman.

Koalisi pimpinan Saudi bisa jadi akan segera berubah menjadi aliansi yang lebih bercorak politik daripada militer seperti yang digalang semula pada dua setengah tahun silam. Karena itu sekarang statemen para pejabat Riyadh selanjutnya tentang ini layak dinanti. (mm)

Sumber: Ray al-Youm

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL