Rudal Yaman Burkan 1

LiputanIslam.com – Timteng belakangan ini dihebohkan oleh isu rudal. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menabuh genderang sanksi terhadap Iran lantaran negara republik Islam ini mengujicoba rudal balistik jarak jauh. Dia juga bergerak untuk menghidupkan “poros Arab moderat” sebagai persiapan untuk menghadapi resiko konfrontasi militer dengan Iran.

Di Yaman, aliansi Ansarullah-Saleh secara resmi mengumumkan peluncuran rudal balistik ke  pangkalan militer di barat Riyadh, ibu kota Arab Saudi. Aliansi ini menegaskan bahwa Riyadh terjangkau oleh rudal Yaman.

Menariknya, peluncuran rudal ini terjadi hanya selang beberapa hari menjelang tahun ketiga operasi militer bersandi “Badai Mematikan”  yang dilancarkan Saudi dan sekutunya terhadap Yaman, dan beberapa hari setelah rudal Yaman menghajar kapal perang Saudi di dekat pelabuhan Hudaidah, Yaman, hingga dua tentara Saudi tewas dan tiga lainnya luka-luka.

Raja Saudi, Salman bin Abdulaziz, dalam statemennya yang dirilis dari rapat dewan menteri yang dia pimpin, Senin 6 Januari 2017, dan dibacakan oleh Menteri Penerangan Adel al-Toraifi menyatakan, “Serangan teror yang menimpa kapal fregate Saudi yang sedangkan menjalankan tugas patroli dekat pelabuhan al-Hudaidah tidak akan menghalangi kelanjutan operasi militer pasukan koalisi pendukung pemerintahan yang sah (di Yaman).”

Pernyataan dewan menteri Saudi sama sekali tidak menyinggung rudal balistik yang diluncurkan dari Yaman menuju Riyadh, berbeda dengan ketika rudal-rudal Yaman lainnya dilesatkan ke pangkalan militer Saudi di Taif, atau Bandara King Abdulaziz, Jeddah. Dalam kasus serangan rudal Yaman ke Taif dan Jeddah, rezim saudi segera menggerakkan medianya dan sejumlah negara Islam untuk mengutuk serangan ini. Tak tanggung-tanggung, rezim Riyadh bahkan mempermainkan sensibilitas umat Islam dengan menyebut serangan ke Jeddah itu sebagai serangan ke tempat paling suci di muka bumi, Mekkah al-Mukarramah.

Mengapa mereka tidak menyinggung serangan rudal Yaman ke Riyadh?

Ada beberapa spekulasi mengemuka mengenai faktor kebungkaman rezim Riyadh ini, utamanya ialah meredam heboh keberhasilan aliansi Ansarullah-Saleh mengembangkan atau memiliki rudal canggih tersebut demi mencegah atau meredakan keresahan penduduk ibu kota. Penduduk kuatir menjadi sasaran serangan para pejuang Yaman, atau takut buntut perang Yaman akan menjalar sampai ke Riyadh dan melibas mereka.

Sementara itu, Iran yang notabene rival Saudi di Timteng tercatat sebagai negara yang sukses mengembangkan teknologi rudal. Teknologi ini menjadi andalan Iran untuk menutupi kekurangannya dalam pengadaan jet tempur akibat blokade AS dan bahkan Rusia di bidang ini.

Iran mengekspor teknologi ini ke Suriah, Hizbullah di Lebanon, dan gerakan Hamas di Jalur Gaza. Banyak pengamat kemudian menduga Iran juga mengekspornya ke Yaman untuk memenuhi kebutuhan sekutunya, Ansarullah, meskipun rudal yang ada di Yaman juga berkemungkinan erat kaitannya dengan latar belakang kedekatan hubungan Yaman dengan Korea Utara dan Rusia di era kepresidenan Abdullah Saleh.

Dijadikannya Riyadh, bukan Jeddah dan Taif, sebagai sasaran tembak rudal Yaman bisa jadi dimaksudkan untuk menggugurkan klaim resmi rezim Saudi sebelumnya bahwa Ansarullah-Saleh bermaksud menghancurkan kota suci Mekkah. Kemungkinan ini tak pelak menjadi tekanan tersendiri bagi rezim Saudi sehingga memilih bungkam.

Memasuki tahun ketiga nanti, operasi “Badai Mematikan”  tidak akan disambut sedemikian meriah di Riyadh. Sebab, sampai sekarang banyak target yang diinginkan Saudi dan sekutunya dalam operasi ini sama sekali tidak tercapai, meskipun Saudi sudah menguras banyak dana dan mengorbankan banyak jiwa. Hingga kini belum ada tanda-tanda bahwa Sanaa, ibu kota Yaman, bisa “dibebaskan” oleh Saudi dan sekutunya dari aliansi Ansarullah-Saleh. (mm)

Sumber: Rai al-Youm

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL