LiputanIslam.com –  Dunia tiba-tiba digemparkan oleh sebuah peristiwa yang sangat langka, sistem pertahanan udara Suriah berhasil menembak jatuh jet tempur F-16 milik Angkatan Udara Rezim Israel. Hebatnya lagi, jet rezim penjajah Palestina itu tertembak bahkan di wilayah Israel sendiri alias wilayah pendudukan Palestina 1948.

Peristiwa ini tak pelak membuka babak baru di mana Kubu Resistensi dapat bergeser dari posisi defensif ke posisi ofensif, dapat membidik sasaran di kedalaman wilayah Israel. Dunia telah menyaksikan betapa jet tempur canggih buatan Amerika Serikat (AS) itu tersulap menjadi serpihan sampah yang mengerikan di tanah rerumputan di sisi sebuah jalan pinggiran Shefa-‘Amr di kawasan Galilee (Al-Jalil), Israel.

Reaksi Suriah kali ini sangat berbeda, karena mencerminkan suatu perubahan prinsipal dalam keseimbangan militer di mana zona udara Suriah dan Lebanon kini tidak lagi terbuka dan aman bagi jet tempur maupun rudal Israel. Hizbullah yang bersekutu dengan Suriah menyebut peristiwa ini “awal tahap strategis baru yang menetapkan batasan bagi pelanggaran zona udara dan darat Suriah.”

Iran yang juga sekutu Suriah menyatakan peristiwa ini menunjukkan bahwa “setiap kesalahan Israel di kawasan tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa reaksi.”

“Tertembak jatuhnya jet tempur Israel sistem pertahanan udara Suriah telah mengubah kondisi ketidak seimbangan kekuatan di kawasan,” ungkap Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Ali Samkhani.

Sedangkan Suriah sendiri melalui Wakil Menlunya, Faisal Mekdad, bersumbar,  “Siapapun yang nekat mengagresi Suriah hendaknya bersiap menghadapi nasib seperti yang dialami jet tempur F-16 Israel, dan Suriah bertekad untuk menundukkan musuh-musuhnya.”

Peristiwa ini sedemikian menggemparkan sehingga otoritas Israel membuka kamp-kamp pengungsiannya di Haifa dan Tel Aviv, sementara Perdana Menterinya, Benjamin Netanyahu, segera menghubungi Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump dan meminta keduanya menentukan sikap dan serius memperhatinkan perkembangan ini. Netanyahu juga menyatakan kepada keduanya bahwa Israel tidak menghendaki eskalasi dan perang total. Tindakan Netanyahu ini tak pelak memperkuat asumsi terbukanya babak baru dan perubahan keseimbangan kekuatan regional.

Israel kena batunya, dan dunia Arab dan Islampun mulai merangkak keluar dari kolong keterhinaannya dan siap meraih kembali hak dan kehormatannya sesegera mungkin.

Sistem pertahanan udara Kubah Besi andalan Israel gagal menyergap rudal-rudal Suriah, dan dapat dipastikan bahwa negara Zionis ini sangat rentan menghadapi hujan rudal dari kelompok pejuang Hizbullah di Lebanon selatan dan maupun dari kelompok-kelompok pejuang Palestina di Jalur Gaza.

Dikembangkan bagaimanapun juga kubah itu tidak akan efektif melindungi para imigran Zionis yang menduduki negeri Palestina, sebab tekad para pejuang semakin membaja, tekad yang dipertajam luka sekian lama, tekad untuk mengubur era keterhinaan.

Kehebatan rudal Suriah yang merontokkan pesawat tempur secanggih F-16 telah mendongkrak mentalitas bangsa-bangsa Arab dari keterpurukannya selama ini, melejitkan nyali mereka dalam menyorot Israel, dan memilukan imperium media dunia yang selama ini terbiasa dengan tarian penyesatan informasi dan opini.

Kubu Resistensi yang telah sekian lama menanggung kesabaran dihujat, dihina, dan diperolok berbagai pihak kini telah beralih dari tahap penggalangan kekuatan ke tahap strategi serangan balik terhadap Israel dengan berbagai metode mutakhir dan matang.

Sejak Israel beralih menggunakan rudal daripada jet tempur dalam melancarkan serangan ke Suriah telah terjadi transformasi pertahanan di Suriah setelah sekian lama meringkuk dalam keterhinaan, dan kini terjadilah reaksi telak yang menghempaskan rudal dan jet tempur Israel sekaligus menjungkir balik semua teori arogansi dan dominasi yang berlaku selama ini.

Netanyahu semula telah mengingatkan Hizbullah dan Suriah untuk tidak bermaksud menjajal kekuatan kekuatan militer Israel, tapi ternyata sekarang peringatan itu telah direspon sedemikian telak dan memalukan di medan tempur.

Dengan demikian, Suriah semakin berbeda dengan beberapa rezim Arab yang telah menggadaikan kehormatan negaranya kepada Israel dan terjerumus pada gerakan normalisasi hubungan dan bahkan persekutuan dengan Israel di siang bolong tanpa rasa malu, setelah mereka gagal total menjalankan proyeknya untuk menundukkan Suriah dan mengoyaknya menjadi beberapa bagian.  Suriah bersama Kubu Resistensi dan kaum terhormat umat Arab dan Islam telah bangkit di tengah puing dan reruntuhan konspirasi besar musuh-musuh mereka. (mm/rayalyoum/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*