LiputanIslam.com – Para menlu Liga Arab di akhir sidang daruratnya di Kairo, ibu kota Mesir, Minggu 19 November 2017 merilis resolusi antara lain berisi kutukan terhadap Hizbullah. Liga Arab bahkan menyebut kelompok pejuang yang bermarkas di Lebanon ini sebagai organisasi teroris yang berusaha mengacaukan stabilitas dan keamanan Timteng.

Menariknya, resolusi ini ditolak dan dikecam oleh faksi-faksi pejuang Palestina dengan berbagai aliran politik dan ideologi masing-masing. Penolakan ini tak pelak membawa pesan penting, terutama bahwa bangsa Palestina sudah mulai kembali ke poros resistensi anti Zionis Israel atau yang lazim disebut kubu muqawamah. Ini pertanda bahwa bangsa Palestina sedang menyorot fakta betapa musuh bangsa Arab yang sesungguhnya adalah rezim yang menduduki Palestina, setelah sekian dekade dunia Arab tenggelam dalam ilusi perdamaian dan kebohongan publik.

Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah mengapresiasi penolakan faksi-faksi pejuang Palestina tersebut dalam pidato singkatnya, Senin malam 20 November. Dalam pidato ini dia menanggapi resolusi Liga Arab dengan menepis tuduhan bahwa Hizbullah mengirim senjata semisal rudal maupun “sepucuk pistol” ke Yaman maupun  Bahrain, Irak, dan Kuwait. Sedangkan terkait dengan isu Palestina, Nasrallah justru mengakui dan bahkan bangga telah mengirim rudal Cornet kepada pejuang Palestina.

Mengenai Yaman, Sekjen Hizbullah menyebutkan bahwa sebagian rezim Arab, terutama Arab Saudi, “meremehkan” kekuatan, kemampuan dan keberanian bangsa Yaman. Pernyataan Nasrallah ini benar, akurat dan berbasis data. Di mata rezim Saudi dan semisalnya di Teluk Persia, orang Arab yang miskin hanya terlihat sebagai pengemis, hina, berkelas budak dan tak mungkin mampu mengembangkan senjata, rudal, dan amunisi, sebab kemiskinan identik dengan kebodohan dan pengangguran.

Luar biasa, satu rudal balistik yang diluncurkan oleh kelompok Houthi dengan sasaran Bandara King Khalid di utara Riyadh ternyata memancing ratusan pernyataan simpati, solidaritas dan dukungan kepada Saudi. Padahal, menurut laporan resmi Saudi, rudal itu berhasil dirontokkan di angkasa dan tak melukai barang satu jari siapapun.

Sepotong rudal Yaman ini juga telah memancing para menlu dari 22 negara Arab untuk bergegas ke markas Liga Arab di Kairo semata-mata untuk membahas “keganasan” Ansarullah tersebut. Di situ mereka lantas mengasah keterampilan paduan suara mengutuk Ansarullah.

Ironisnya, mereka belum pernah menggelar pertemuan barang sekali untuk membahas penderitaan 23 juta penduduk Yaman yang sudah dua setengah tahun diterjang badai serangan udara dan mengenyam pahitnya dampak jatuhnya ratusan ribu rudal. Mengapa demikian? Sebabnya hanyalah karena Yaman adalah bangsa miskin, sedangkan penyerangnya adalah kumpulan negara-negara Arab kaya raya dan didukung Amerika Serikat dan Eropa.

Di Jalur Gaza, desakan kebutuhan mendorong orang berkreasi sekaligus melakukan penyelundupan. Penduduk Gaza yang tercekik blokade Israel dan terzalimi bahkan sesama Arabnya selama 10 tahun berhasil membangun pangkalan rudal hebat di bawah tanah, menakutkan Israel, dan dapat menyelundupkan ratusan rudal lain.

Sebagaimana penduduk Gaza, penduduk Yaman juga terdesak oleh kebutuhan yang sama, sementara Yaman adalah bangsa yang memiliki latar belakang peradaban yang besar, mulai era Kerajaan Balqis hingga era sejumlah besar imperium, dan di abad modernpun mereka memiliki bendungan raksasa Ma’rib.

Jalan pintas untuk menghentikan serangan rudal Yaman ke Saudi adalah penghentian perang itu sendiri demi menyudahi penderitaan rakyat Yaman. Berlanjutnya perang selama bertahun-tahun sembari didiamkan dan bahkan diikuti oleh sejumlah negara Arab jelas merupakan belang di kening sejarah bangsa-bangsa Arab. (mm)

Sumber: Ray Al-Youm

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL