LiputanIslam.com –  Kawasan selatan dan tenggara Suriah sedang terancam konfrontasi militer besar dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam perang di negara ini. Amerika Serikat (AS)  mengerahkan pasukan di sebuah kawasan Yordania dekat perbatasan Suriah.

Hal ini terjadi setelah Suriah dan sekutunya mulai mengerahkan pasukan di kawasan Badia sehingga AS terlihat bermaksud menghalangi tentara Suriah dan sekutunya mendekati perbatasan Irak. Sabtu pekan lalu tentara Suriah mengumumkan pelaksanaan operasi militer besar-besaran di kawasan al-Badia Suriah dengan tujuan mencapai perbatasan Irak.

Para pengamat perkembangan situasi militer di Suriah memperkirakan dalam jangka waktu empat hari tentara Suriah dapat menguasai kawasan sekira 2000 kilometer persegi. Yakni sekira sepertiga luas kawasan yang memisah pasukan Suriah di kawasan Qalamoun Timur ( bagian timur laut provinsi Damaskus) dari perbatasan Irak – Suriah dari arah pintu perbatasan al-Tanf (al-Tanaf) di kawasan segi tiga perbatasan Suriah – Irak – Yordania.

Kelompok-kelompok pemberontak Suriah yang didukung oleh AS beberapa hari lalu mendirikan barak-barak militer di pos terdepan perbatasan di jalur Damaskus – Baghdad.   Di pihak lain, tentara Suriah dalam pengumumannya mengenai dimulainya operasi militer di kawasan tersebut memperlihatkan adanya dukungan tentara Rusia terhadap operasi ini.

Alhasil, pasukan lokal, regional dan internasional telah terkerahkan di dua front yang saling berhadapan, dan masing-masing bermaksud menguasai kawasan perbatasan Suriah – Irak, atau sebagian di antaranya, dan pada gilirannya masing-masing jelas memiliki tujuan-tujuan lain di sana.

AS bermaksud membuat sabuk keamanan di bagian selatan dan timur Suriah dengan tujuan menekan Damaskus di lapangan dan perundingan mendatang, mencegah propaganda resistensi Damaskus selama beberapa tahun peristiwa pemberontakan dan terorisme, dan menghalangi pembukaan jalur darat Damaskus – Baghdad yang pada giliran akan meluas menjadi jalur Beirut – Teheran.

Pengerahan pasukan AS dan sekutunya dilakukan dengan kedok latihan perang berkala dengan sandi “Eager Lion” di dalam wilayah Yordania. Tapi kubu resistensi (Suriah, Hizbullah dan Iran) menyingkap kedok itu dan menemukan gelagat tak beres di baliknya. Karena itu, belum lama ini Media War (al-I’lam al-Harbi)  yang berafiliasi dengan  pasukan sekutu Suriah merilis foto-foto pencitraan dari angkasa yang memperlihatkan adanya pengerahan pasukan di wilayah Yordania.  Perilisan foto-foto ini secara tidak langsung merupakan pesan dari dari kubu resistensi bahwa apa yang dilakukan oleh kubu AS terpantau jelas dan dapat direaksi sewaktu-waktu.

Dalam publikasi foto-foto itu Media War juga menyertakan pernyataan ancaman dari sumber  Hizbullah terhadap AS.  Sumber anonim itu menegaskan, “Suriah dan semua sekutunya memantau dari dekat apa yang hendak diupayakan oleh AS dari keberadaannya di wilayah perbatasan Yordania – Suriah, meneropong pergerakan mereka di kawasan ini, dan telah memantau pergerakan pasukan AS, Inggris dan Yordania menuju wilayah Suriah.”

Dia menambahkan, “Latihan perang yang dilaksanakan dewasa ini di perbatasan Yordania – Suriah mencurigakan, dimaksudkan untuk menyembunyikan rencananya menyerbu dan menduduki tanah-tanah Suriah dengan dalih memerangi ISIS yang dewasa ini justru tidak ada di perbatasan itu. AS dan para sekutunya akan membayar mahal dan akan menjadi sasaran serangan jika mereka menghalalkan tanah Suriah.”

Menurut sumber ini, latiha perang di Yordania merupakan kedok untuk menghimpun pasukan multinasional Barat dan Arab di kamp militer al-Zarqa. Di kamp ini sekira 4500 orang bersenjata telah dilatih sekian lama untuk persiapan operasi anti Suriah, dan situ pula dikerahkan pasukan asing dari berbagai negara untuk tujuan menduduki sebagian wilayah Suriah dengan dalih membangun lingkar-lingkar pengaman.

Statemen ini dirilis beberapa jam setelah Menlu Suriah Walid Moallem dalam sebuah konferensi pers menegaskan prioritas Suriah dalam perang di kawasan al-Badiah. Dia juga mengingatkan Yordania agar tidak mencoba masuk ke dalam wilayah Suriah. Bersamaan dengan ini, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan niatnya untuk menggalang koordinasi dengan Israel untuk melakukan tindakan “melawan ancaman Iran dan para sekutunya.”

Pada kesimpulannya, wilayah selatan dan timur Suriah sangat berpotensi menjadi medan pertempuran besar. Dalam waktu dekat ini akan terlihat apakah konfrontasi itu masih akan tetap menjadi sebatas angan-angan AS dalam perang Suriah, atau justru akan berubah menjadi kobaran perang yang akan mengembalikan peta Timteng kepada kondisinya semula. (mm)

Sumber: al-Akhbar

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL