LiputanIslam.com – Negeri kecil namun kaya raya Qatar belakangan menjadi bulan-bulan sejumlah negara. Dari Amerika Serikat (AS), beberapa pejabat mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap Qatar dan memindah pangkalan militer AS dari Qatar ke Uni Emirat Arab (UEA).

Edward Royce, ketua komisi urusan luar negeri Dewan Perwakilan Rakyat AS, misalnya, mengatakan bahwa negaranya bisa jadi akan memindah pangkalan militernya dari Qatar ke negara lain jika Doha tak berhenti menyokong kelompok-kelompok radikal. Contoh lain ialah tuduhan Dennis Ross, diplomat kawakan AS yang pernah menjadi utusan khusus negara ini untuk Timteng, bahwa Qatar menyokong radikalisme.

Statemen-statemen panas ini dilontarkan dalam sebuah forum di Washington yang membahas peranan Qatar dan hubungannya dengan kelompok Ikhwanul Muslimin.

Dari Saudi dan UEA serangan media dan politik terhadap Doha juga berhembus kencang yang bukan hanya mengangkat tuduhan bahwa Qatar menyokong teroris dan ekstremis, tapi juga menuding Qatar mengacaukan barisan negara-negara Arab Teluk karena telah melakukan pendekatan dengan Iran. Saudi dan UEA lantas mendesak Doha agar mengubah perilakunya.

Dari Mesir, Presiden Abdel Fattah el-Sisi angkat bicara mengenai sebuah negara yang disebutnya sebagai pendukung dan donatur teroris. Dia kemudian mengirim jet tempurnya ke Libya untuk menggempur para ekstremis. Selanjutnya, dia mengonfirmasi bahwa para ekstremis itu sebagian besar mendapat dukungan dari Qatar.

Semua ini tak pelak mengundang beberapa pertanyaan, utamanya ialah sebagai berikut;

Pertama, apakah permainan Qatar sekarang sudah berakhir?

Sebagian orang optimis pada besarnya keterbukaan AS kepada Arab Saudi. Mereka berpendapat bahwa Saudi merebut kembali peran kepemimpinan sehingga Qatar melorot ke posisi nomor dua di bawah Saudi. Mereka juga mengatakan bahwa dalam dua tahun terakhir Doha memilliki reputasi bagus di mata Barat karena Qatar bersikap terbuka kepada Israel sekaligus menampung para pemimpin pergerakan Islam dari Aljazair hingga Palestina untuk menjinakkan dan mengendalikan mereka dengan iming-iming bantuan.

Kemudian, besarnya kekayaan Qatar dan kepemilikannya atas jaringan berita raksasa Aljazeera yang telah mengoyak segala ketabuan yang ada telah mengesankan bahwa negara ini akan memimpin perjuangan perubahan sosial dan politik di dunia Arab melalui slogan keragaman pendapat (al-ra’y wa al-ra’y al-akhar).

Sekarang sebagian besar negara Arab, termasuk Saudi, sudah mengarah kepada keterbukaan dan kompromistis terhadap Israel, namun Ikhwanul Muslimin justru berubah dari kelompok yang berpotensi sebagai mitra Barat menjadi kelompok yang berpotensi sebagai teroris bagi agenda AS dan negara-negara Teluk. Akibatnya, permainan mengenai radikalisme, takfirisme, dan terorisme menjadi sangat berbahaya bagi Barat. Karena itu permainan di wilayah ini sekarang sudah tak boleh dilanjutkan lagi, dan dengan demikian peran Qatar sudah tak diperlukan lagi.

Kedua, bagaimana kaitan Iran dengan krisis ini?

Inilah justru pokok persoalannya. Bukan berita yang baru bahwa Qatar mendukung kaum radikal di negara-negara Arab, dan ia juga bukan satu-satunya negara yang berbuat demikian. Hal yang baru ialah kembalinya Iran menjadi poros kejahatan di mata AS sejak Trump menghuni Gedung Putih. Karena itu jelas bermasalah besar jika Qatar malah mendekati Iran, apalagi keduanya sama-sama pemilik ladang gas terbesar di dunia.

Qatar di mata AS juga jangan sampai bekerjasama dengan Iran dalam masalah Suriah, sebagaimana juga tidak boleh terus menyokong Hamas yang dari jantung kota Doha telah mendeklarasikan dokumen politik baru yang masih menganut prinsip pembasmian Israel, meski menerima perbatasan 1967.

Ketiga, apakah Qatar terlibat dalam upaya kudeta di Saudi dan UEA?

Beberapa informasi menyebutkan demikian, tapi sampai saat ini tak ada yang dapat dikonfirmasikan. Ini sama halnya dengan beredarnya tuduhan dahulu bahwa pemimpin Libya mendiang Moammar Ghaddafi berencana menghabisi Raja Abdulllah dari Saudi, dan lalu Qatar dikaitkan pula dengan rencana ini. Semua isu ini sulit diverifikasi walaupun seandainya kemarahan Riyadh dan Abu Dhabi tampak lebih besar dari sekedar reaksi terhadap pernyataan kontroversial Emir Qatar.

Keempat, apakah kekayaan Qatar diincar?

Ya, tanpa diragukan lagi. Setelah mengeruk kekayaaan Arab Saudi, Trump mengincar harta kekayaan Qatar, UEA dan Kuwait. AS akan tetap berusaha bermain paradoks dan menggunakan jurus “stick and carrot”. Karena itu tidaklah aneh seandainya nanti akan ada transaksi ratusan juta USD antara AS dan Trump, sebab hanya inilah penyelesaiannya di mata Washington.

Qatar tampaknya tidak akan tergulung begitu saja. Negara ini akan tetap bertahan pada pendirian, meskipun untuk sementara waktu harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Sekarang Qatar boleh mengalah, tapi di lain kesempatan bukan tak mungkin akan menyerang lagi. (mm)

Sumber: Sami Kleib

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL