LiputanIslam.com – Kelompok teroris takfiri Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) semakin melemah di Irak maupun di Suriah. Lantas apa yang akan terjadi jika ISIS tumbang?

ISIS semula mencoba mengurangi tekanan terhadapnya di Suriah dan Irak dengan cara melancarkan serangkaian operasi teror di negara-negara Eropa. Mereka menantang badan-badan kontra-terorisme Eropa.

Para imigran dan pengungsi adalah sasaran yang paling diincar dalam rekrutmen kelompok-kelompok teroris di berbagai kawasan yang dilanda krisis di Timteng. Rekrutmen dilakukan melalui berbagai cara antara lain;

  1. Peran pertemanan (54%); 2. Keluar masuk masjid-masjid yang dikelola para ekstrimis (48%); 3. Pengaruh para da’i penebar kebencian dan radikalisme (27%); 4. Pengaruh propaganda terorisme dan rekrutmen melalui internet (44%).

Belakangan ini, berbagai data yang terhimpun di kantor Koordinator Kontra-Terorisme Uni Eropa Gilles de Kerchove menunjukkan terjadinya penurunan drastis jumlah warga keturunan Arab dan Muslim di negara-negara Eropa ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan ISIS dan Jabhat al-Nusra (Fath al-Sham), yaitu dari 1500-2000 orang menjadi hanya 200 orang/bulan.

Koran Jerman Die Welt mengutip keterangan sumber-sumber pemerintah negara ini bahwa ISIS telah kehilangan daya magnetnya di mata para ekstrimis Jerman. Adanya perubahan taktik dan modus teroris belakangan ini ditengarai sebagai indikasi keberhasilan badan-badan keamanan dan intelijen dalam mengantisipasi serangan teror besar.

Washington Post mengutip pernyataan Wakil Pusat Jenewa untuk Kebijakan Keamanan Mohamed Mahmoud Ould Mohamedou bahwa jaringan-jaringan teroris mulai mendapat kesulitan besar dalam perencanaan operasi-operasi teror besar.

Bagaimana Dengan al-Qaeda?

Pertanyaan yang kini mencuat ialah apakah al-Qaeda akan melejit lagi setelah ISIS tumbang? Beberapa laporan dari Barat mengemukakan potensi kembalinya al-Qaeda pasca ISIS, termasuk laporan lembaga intelijen swasta Strategic Forecasting, Stratfor, yang berbasis di Amerika Serikat (AS), demikian pula laporan Samuel Marrero, pejabat eksekutif Near East South Asia (NESA) Center for Strategic Studies, Kemhan AS, Pentagon.

Berbagai laporan yang ada menyebutkan realitas semakin melemahnya ISIS di kancah pertempuran. Letjen Sean MacFarland, komandan pasukan koalisi internasional anti-ISIS, memperkirakan jumlah kombatan ISIS sekarang menyusut  menjadi sekitar 15,000 – 20,000 orang. ISIS juga kehilangan banyak komandan terkemukanya.

Di sisi lain, para pakar strategi menyebutkan potensi kembalinya al-Qaeda sebagai panglima “jihad global” jika ISIS tersungkur dan tumbang. Tentang ini mereka menyebutkan beberapa penjelasan sebagai berikut;

  1. Al-Qaeda lebih waspada; Lepasnya kota Mosul yang notabene markas utama ISIS sejak 2014 dari pendudukan kelompok ini berdampak pada menguatnya posisi al-Qaeda, sementara pola baru “jihad” yang dikembangkan ISIS berbeda dengan strategi al-Qaeda yang lebih mengandalkan kehati-hatian.
  2. Jaringan ISIS berpotensi mengalami erosi akibat penarikan baiat dari kelompok-kelompok di Afrika yang dulu telah membaiatnya, termasuk Boko Haram dan gerakan al-Shabab Somalia, seiring dengan melemahnya dukungan dana dan logistik ISIS kepada mereka.
  3. ISIS tidak akan terbasmi secara total, melainkan akan tetap bertahan dalam berbagai bentuk lain sehingga mereka masih menjadi bahaya dan bagian dari fenomena radikalisme yang melanda dunia. ISIS kehilangan kendalinya atas fenomena ini tapi selanjutnya mereka akan beradaptasi dengan krisis yang menimpanya untuk kemudian berusaha bangkit lagi dengan aksi-aksinya yang lebih berbahaya.
  4. ISIS akan mundur ketika al-Qaeda kembali berpengaruh. Kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan ISIS akan menarik diri manakala pengaruh al-Qaeda kembali membesar. Hal ini dapat dilihat dengan mudah di Afghanistan dan Pakistan, dua negara yang berbagai kawasannya terbayangi pengaruh komando pusat al-Qaeda.
  5. Karakter al-Qaeda yang tak seekstrem ISIS. Al-Qaeda lebih fleksibel dalam operasi-operasinya, lebih bisa berinovasi dan beradaptasi dengan keadaan sehingga lebih bisa bertahan eksis. Al-Qaeda juga lebih mengerti kondisi berbagai negara dan komunitas-komunitas masyarakat regional serta celah-celah politik Barat. Karena itu al-Qeada masih dapat mempertahankan eksistensinya pasca tragedi teror 11/9 2001. Tak seperti ISIS, mereka juga lebih berkemampuan menggalang koordinasi dengan kelompok-kelompok radikal lain semisal Taliban di Afghanistan, atau di Irak dan Suriah.
  1. Al-Qaeda lebih lihai dalam berinteraksi dengan masyarakat dan penduduk lokal. Komando pusat Al-Qaeda bahkan pernah menyayangkan dan mengecam serangan al-Qaeda cabang Irak pimpinan Abu Musab al-Zarqawi terhadap tempat-tempat ziarah warga Muslim Syiah dan tindakannya membunuh warga sipil dengan motif sektarian dan lain-lain. Kecaman ini bahkan dinyatakan secara terbuka dalam rekaman tokoh al-Qaeda Ayman al-Zawahiri pada Oktober 2005 serta berbagai dokumen dan pernyataan pemimpin al-Qaeda mendiang Osama bin Laden saat itu. Hal ini menjadi keunggulan al-Qaeda jauh di atas ISIS.
  1. Prioritas musuh di tempat jauh; Abu Musab Al-Zarqawi dan penerusnya, Abu Bakar al-Baghdadi, berkonsentrasi pada wacana “daulah” (state/negara) dan pendirian negara “kekhalifahan” serta membidik musuh-musuh politik, aliran, dan lain-lain di lingkungan sekitar mereka, sebagaimana terlihat dalam aksi-aksi ISIS. Tindakan ini merupakan pemberontakan terhadap citra al-Qaeda dan ide “globalisasi jihad” yang diusungnya dengan penekan pada serangan terhadap musuh di tempat jauh sebelum musuh di daerah sekitar. Runtuhnya ide “daulah” memungkinkan melejitnya kembali rencana strategis al-Qaeda yang memrioritaskan serangan terhadap musuh di tempat jauh daripada musuh di tempat dekat. (mm/alahed)
DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL