LiputanIslam.com –  Menjauhkan  Suriah dari Iran, baik secara damai melalui penawaran dana miliaran Dolar AS ataupun melalui perang yang melibatkan militan dari puluhan negara serta dipersenjatainya kubu oposisi Suriah dan kelompok-kelompok ekstremis adalah salah satu pemicu krisis dan perang Suriah yang kini telah memasuki tahun ke-9.

AS sekarang mencoba menerapkan skenario serupa dalam upayanya menjauhkan Irak dari Iran, dan inilah kemungkinan motivasi di balik kunjungan Menlu AS Mike Pompeo ke Timteng, termasuk Kuwait dan Israel. Lebanonpun bisa jadi juga diincar AS dengan skenario yang sama.

Strategi AS menjauhkan Suriah dari Iran itu gagal total meskipun investasi untuk ini menelan lebih dari 90 miliar Dolar AS, dan malah menguatkan pengaruh Rusia di Suriah dan kawasan. Bukan tak mungkin nasib negara arogan itu akan lebih buruk lagi berkenaan dengan Irak, dan dapat menamatkan riwayat eksistensi AS di Negeri 1001 Malam.

Pertemuan para kepala staf angkatan bersenjata Suriah, Irak dan Iran di Damaskus belum lama ini telah menegaskan satu realitas yang luput dari bena rezim AS yang telah menelan kerugian sebesar 7 triliun Dolar dalam menginvasi dan menduduki Irak. Realitas itu ialah keluarnya Irak dari poros AS dan bergabungnya Baghdad dengan Poros Resistensi yang dipimpin Teheran, yang kini bersiap memasuki babak krusial untuk mengakhiri keberadaan Pasukan Demokrasi Suriah (SDF), sekutu AS, di kawasan timur Sungai Eufrat dan bagian timur laut Suriah.  Poros Resistensi juga bermaksud membuka pintu perbatasan Suriah-Irak, dan pengamanan jalur logistik darat Iran menuju kawasan pesisir Lebanon di Laut Mediteranian.

Akibat kegagalan demi kegagalan itu, pemerintah AS kini hidup dalam keadaan waspada, main hantam kanan kiri dengan penuh histeria, dan menjadi ibarat harimau sempoyongan menahan luka, sementara  Israel sudah kehilangan pamornya sebagai rezim rendudukan di Dataran Tinggi Golan, Tepi Barat, dan Jalur Gaza.

Fase kedua sanksi terhadap Iran rencananya akan diterapkan AS pada 3 Mei mendatang dengan tujuan menekan volume ekspor minyak Iran hingga ke titik nol.

AS juga memperketat blokade keuangan Hizbullah dan gerakan Hamas, menghentikan keterbukaan negara-negara Arab Teluk terhadap Suriah dan kemungkinan kembalinya Damaskus ke pangkuan Liga Arab, menekan Arab Saudi agar mengurungkan rencana pembukaan kedutaan besarnya di Damaskus, mendesak pemerintah Kuwait agar menangkap Mazen al-Tarazi, pengusaha Suriah yang dekat dengan Presiden Bashar al-Assad, dengan tuduhan pencucian uang dan mengirim bantuan finansial kepada Hizbullah, memerintahkan bank-bank Lebanon agar memblokir semua nomor rekening resmi maupun non-resmi Hizbullah, dan menghentikan rencana pemerintah Lebanon untuk memfasilitasi kepulangan pengungsi Suriah.

Setelah mencantumkan Hizbullah dalam daftar organisasi teroris, langkah AS selanjutnya adalah mencatat kelompok relawan Irak al-Hashd al-Shaabi pada daftar yang sama, mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan, dan mengumumkan pasal-pasal Deal of The Century yang dicanangkan untuk menggulung berkas persoalan Palestina yang tersisa, yaitu dengan menggabungkan kawasan-kawasan permukiman Zionis ke dalam wilayah Tepi Barat, menyokong pembangunan sinagog di komplek Masjid al-Aqsa,  dan mencabut hak kepulangan pengungsi Palestina.

Semua itu hanya tinggal menunggu waktu, yakni setelah pemilu legislatif Israel pada 9 April mendatang, dan tentu akan menjadi racun dan deklarasi perang Netanyahu dan Trump di kawasan.

Kunjungan mendadak Menhan Rusia Sergey Shoygu ke Damaskus dan pertemuannya dengan Presiden Bashar al-Assad di istana presiden juga tidak kalah pentingnya dengan kunjungan Pompeo ke wilayah itu. Kunjungan Shoygu itu bahkan bisa jadi memang bertujuan mematahkan agenda Pompeo.  Jenderal Rusia itu datang ke Damaskus atas perintah atasannya, Presiden Vladimir Putin, untuk menyerahkan “pesan militer” kepada presiden Suriah.

Minim sekali bocoran informasi mengenai kunjungan Menhan Rusia itu, namun dengan mencermati  waktunya yang terjadi dua hari setelah pertemuan segi tiga petinggi militer Iran, Irak dan Suriah di Damaskus, dan kemudian berbagai statamen resmi Rusia dan Suriah, tampak bahwa kunjungan itu menyorot situasi di kawasan timur Sungai Eufrat dan kota Idlib, yang berarti bahwa dalam waktu dekat ini akan terbuka dua front pertempuran.

Sepak terjang AS dan Israel dan tekanan hebat keduanya terhadap Iran dan sekutunya telah menghadapkan Poros Resistensi pada dua pilihan; mati kelaparan atau berlaga di medan tempur.  Dari kesolidan Suriah dan Irak selama delapan tahun, dan keteguhan Poros Resistensi selama 30 tahun, serta keberhasilan Hizbullah mematahkan ambisi Israel dalam dua perang di Lebanon selatan tampak bahwa Poros Resistensi tidak akan memilih opsi pertama. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*