DzuriyatLiputanIslam.com — Tujuh bulan sejak Arab Saudi telah menginvansi Yaman, dan hingga kini belum ada tanda-tanda bahwa serangan brutal ini akan dihentikan. Invansi ini telah menewaskan sedikitnya 6.579 warga Yaman, termasuk ratusan perempuan dan anak-anak.

Menurut pemimpin pejuang revolusioner Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik Badr al-Din al-Houthi, Arab Saudi, Amerika Serikat, dan entitas Zionis semakin menunjukkan tiraninya. Dalam pidatonya untuk menyambut Tahun Baru Islam, ia berkata, “Apakah AS, Israel dan Arab Saudi akan membawa kemerdekaan/ kebebasan untuk dunia, atau sebaliknya, mereka justru memperbudak dunia?”

“Apakah realitas takfiri dan rezim Saudi berbeda dengan realitas Zionis?”

Ia menambahkan, baik rezim Saudi dan Zionis adalah dua sisi (wajah) yang berbeda dari satu koin/ uang yang sama. Menurutnya, ketika Zionis telah mengirim rudal ke pangkalan militer Arab Saudi di wilayah Khamis Mushayt, hal itu menunjukkan bahwa rezim Saudi bekerjasama dengan Israel.

Beberapa waktu yang lalu dilaporkan, pesawat Israel yang mengangkut senjata, rudal, dan berbagai peralatan militer lainnya untuk membantu koalisi Arab Saudi dalam agresinya ke Yaman, telah mendarat di pangkalan Khamis Mushait, di wilayah Asir, selatan Arab Saudi, sebagaimana dilaporkan Alalam, yang mengutip dari media lokal setempat, (3/10/2015).

Karena itulah, Sayyid Abdul Malik mendesak rakyat Yaman untuk bersama-sama memikul tanggung jawab dalam membela negara menghadapi invansi dari koalisi Arab.

“Kami akan mengusir dan menghentikan mereka (agresor), sebagaimana orang-orang Lebanon dan Irak yang telah mengusir Israel dan AS dari negara mereka. Hari ini, kita harus menghadapi dan melawan invansi ini dengan segala kemampuan. Ini adalah tugas dan jihad suci,” serunya, sebagaiamana dilansir Almanar, (14/10/2015)

“Hari ini kita harus mengkonsolidasikan kemerdekaan kita karena pendudukan berarti perbudakan,” tegasnya.

Arab Saudi menyatakan bahwa mereka hanya mengebom basis-basis militer, namun nyatanya, pesawat tempur mereka meratakan daerah pemukiman dan infrastruktur.

***
Israel pernah mengklaim sebagai negara yang memiliki kekuatan militer mumpuni, yang bahkan tak mampu dikalahkan oleh tetangga-tetangganya bangsa Arab dalam tiga kali perang yaitu Perang Arab Israel 1948, Perang Enam Hari 1967, dan Perang Yom Kippur 1973. Namun ternyata, Israel bertekuk lutut ketika harus berhadapan dengan Hizbullah, yang ‘hanya’ sebuah kelompok perlawanan. Bahkan, Sayyid Hasan Narullah mengatakan bahwa Israel lebih rapuh daripada jaring laba-laba.

Sejarah selalu berulang. Jika sebuah kelompok perlawanan mampu membendung agresi Israel, maka hal itu pula yang diyakini oleh Sayyid Hasan Nasrallah terkait konflik Yaman. Ia mengatakan, bahwa Arab Saudi akan mendapatkan pukulan telak di Yaman. Ia menekankan, bahwa kemenangan akan diraih oleh rakyat Yaman.

Dalam wawancaranya dengan Al-Ahvaz, Kamis, (8/10/2015), Sayyid Nasrullah menuding Arab Saudi telah menghancurkan Yaman. “Mereka merampas kekayaan alam Yaman dari tangan rakyatnya. Penduduk Yaman menjadi begitu miskin dan membutuhkan Arab Saudi. Dengan cara ini, Arab Saudi memaksakan doktrin mereka terhadap Yaman.”

“Saya masih meyakini bahwa Arab Saudi akan mendapatkan pukulan yang berat di Yaman. Kemenangan untuk rakyat Yaman, Allah yang memutuskan bagaimana dan kapan hal itu akan terjadi.

Bagaimana dengan isu bahwa revolusi Yaman bergantung terhadap Iran?

“Arab Saudi ingin publik percaya bahwa revolusi Yaman bergantung pada Iran. Ini merupakan kebohongan besar dan tidak adil.”

Di sisi lain, Arab Saudi kini dalam kondisi sulit. Jatuhnya harga minyak membawa dampak buruk bagi kondisi perekonomian negara tersebut (selengkapnya bisa dibaca di sini). Namun yang tak kalah penting, saling sikut antar Pangeran di internal Kerajaan Arab Saudi juga terus menjadi bahan pergunjingan. Ketegangan terjadi antara Pangeran Mohammad bin Nayef (Putra Mahkota) dengan Pangeran Mohammad bin Salman (Wakil Putera Mahkota-sekaligus putra Raja Salman).

Perang Yaman juga menjadi topik panas di internal kerajaan. Bagaimanapun juga, perang ini membutuhkan biaya yang sangat mahal, dan kendati serangan diintensifkan, belum ada tanda-tanda bahwa Yaman akan menyerah. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL