LiputanIslam.com –  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan penerapan tahap pertama embargo ekonomi anti Iran, Selasa (8/8/2018). Embargo ini meliputi transaksi keuangan, impor bahan baku, suku cadang otomobil dan pesawat komersial. Sedangkan embargo tahap kedua yang akan diterapkan pada November mendatang mencakup semua ekspor minyak dan gas.

Apa yang dilakukan Trump ini merupakan pernyataan perang yang dapat menimbulkan kekacauan di tingkat global. Sebab, berbagai negara, terutama anggota Uni Eropa, serta Cina, India, dan Turki secara resmi menyatakan menolak embargo tersebut.

Uniknya, sebelum mulai menerapkan embargonya Trump mengaku siap berdialog dengan Iran tanpa syarat demi mencapai perjanjian nuklir baru dan tambahannya. Media Israel melaporkan bahwa di sela sidang Majelis Umum PBB di New York, AS, bulan depan bisa jadi dialog itu akan diselenggarakan jika Presiden Iran Hassan Rouhani bersedia memenuhi ajakan dialog Trump. Namun, sejauh ini belum ada tanda kesediaan Rouhani.

Trump berobsesi memaksa Iran menyerah sepenuhnya kepada AS melalui perjanjian baru yang mengharuskan Iran menutup secara permanen semua aktivitas pengayaan uraniumnya, membongkar semua fasilitas nuklirnya, menyudahi program rudalnya, menghentikan segala bentuk dukungannya kepada kelompok-kelompok pejuang semisal Hizbullah di Lebanon dan al-Hashd al-Shaabi di Irak, membubarkan pasukan elit Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan menarik pasukannya secara total dari Suriah.

Hanya saja, Trump jelas menyadari bahwa tuntutan itu tak mungkin diterima Iran, dan seandainyapun Iran bersedia menjalani perundingan, baik tertutup maupun terbuka, maka ini tak lain hanya untuk menggali kesempatan dan memperbaiki raihan.

Presiden Rouhani sudah pernah menolak delapan kali tawaran pertemuan dengan Trump, sehingga tawaran kesembilanpun jelas sulit diharap akan terima. Dia mengatakan bahwa Iranlah yang serius berminat kepada perdamaian, tapi jika perdamaian tak tercapai maka yang akan terjadi adalah apa yang disebut Reouhani sebagai “induk peperangan.”

Senada dengan ini, komandan Pasukan Quds IRGC Jenderal Qasim Soleimani mengancam akan menutup Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandeb di Yaman, memerangi 50,000 tentara AS yang bercokol di Irak, Suriah, dan Afghanistan, dan menggempur kapal perang Saudi dekat Bab al-Mandeb dengan rudal pasukan Ansarullah (Houthi). Semua ini menandai seriusnya ancaman yang ada.

Target Trump bukanlah mengubah perilaku Teheran melainkan menggulingkan pemerintahan Republik Islam Iran. Penasehat Keamanan Nasional AS John Bolton berusaha menerapkan pada Iran skenario yang pernah dibuat AS dalam invasi ke Irak dan intervensi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) ke Libya.  Dan ini pula yang dijanjikan oleh Penasehat Presiden AS Rudy Giuliani dalam konferensi kubu oposisi Iran, Organisasi Mujahidin Khalq, di Paris dengan bersumbar bahwa dia akan menjumpai kubu ini di Teheran tahun depan.

Penerapan embargo AS terhadap Iran menyulitkan posisi “NATO Arab” yang ingin diharapkan Trump terbentuk dari negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC) plus Yordania dan Mesir. Negara-negara ini sebagian besar, kalau bukan semuanya, terutama negara-negara GCC, tak sanggup berkata “tidak” kepada Trump. Dan ini berarti keruntuhan ekonomi negara  negara semisal Uni Emirat Arab yang volume transaksi perdagangannya dengan Iran mencapai sekira US$ miliar per tahun. Hal yang sama juga terjadi pada Qatar yang kebutuhan pokoknya banyak bergantung pada Iran sejak diboikot oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir.

Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menyebut perundingan dengan AS sebagai pekerjaaan sia-sia karena Trump tidak menghargai perjanjian. Dia menegaskan bahwa sebelum bicara mengenai pertemuan AS dengan Iran, Trump harus mencabut keputusannya keluar dari perjanjian nuklir Iran. Penegasan yang sama juga dikemukakan beberapa kali oleh Rouhani, termasuk dalam wawancara televisi pada Senin malam 6 Agustus lalu.

Presiden Rouhani dalam wawancara dengan dengan RT milik Rusia, Senin (5/8/2018) telah berkomentar untuk pertama kalinya terhadap keputusan Trump mengembargo Iran. Rouhani memastikan bahwa Rusia dan Cina berjanji tetap menjalankan kesepakatan ekonominya dengan Iran. Hal ini menjadi tamparan kuat bagi Trump dan sekutunya, terutama negara-negara Arab dan Rezim Zionis Israel yang Perdana Menterinya, Benjamin Netanyahu, berhasil mengendalikan dan mendikte Trump. Rouhani juga mengatakan tak ada peluang bagi Teheran untuk berunding dengan Washington selagi AS masih mengembargo Iran, sebab perundingan harus didasari kejujuran dan iktikad baik untuk mencapai hasil.

Selain dua kekuatan besar Rusia dan Cina, beberapa kekuatan lain yaitu India, Turki dan Uni Eropa juga berpihak pada Iran. Ini menunjukkan bahwa Iran tidak sendirian sehingga sulit pertaruhan Trump melalui embargo akan dapat melumpuhkan Iran. Dia akan gagal dan bisa jadi dia tidak akan terpilih lagi sebagai presiden AS.(mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*