LiputanIslam.com –   Seorang narasumber Barat yang belum lama ini berkunjung ke Arab Saudi dan bertemu dengan Putera Mahkota Pangeran Mohammad bin Salman (MbS) mengatakan bahwa MbS sangat kecewa dan marah terhadap kinerja militer Saudi dalam Perang Yaman. Dia bahkan berkata, “Salah satu prestasi utama perang ini ialah terungkapnya kenyataan bagi kita bahwa kita tidak memiliki pasukan yang menunjang obsesi dan rencana-rencana di masa mendatang untuk bertransformasi menjadi kekuatan militer besar regional yang dapat menghadapi berbagai tantangan krusial.”

Sumber itu menyinggung perombakan yang dilakukan Raja Salman bin Abdulaziz pada puncak piramida Angkatan Bersenjata Saudi pada Selasa dini hari di mana dia mencopot kepala staf umum Angkatan Bersenjata serta para kepala staf Angkatan Udara dan Angkatan Darat. Menurut sumber itu, perombakan ini mencerminkan keinginan Saudi melakukan perubahan mulai dari pucuk hingga bawah piramida militernya agar merambah faktor manusia dan bukan hanya menyentuh faktor penghamburan dana puluhan miliar USD untuk belanja senjata-senjata terkini berupa jet tempur dan tank.

Tak ada penjelasan resmi mengenai sebab perombakan masif yang menerjang jajaran perwira tertinggi militer  Saudi tersebut. Namun, Perang Yaman yang akan memasuki tahun keempat di saat Saudi gagal mencapai sebagian besar tujuannya memperlihatkan keterkaitan perang ini dengan perombakan tersebut, apalagi para pemimpin Saudi merasa bahwa mereka sedang menjalani perang proksi melawan Iran di sebagian besar front pertempurannya melawan gerakan Ansarullah (Houthi).

Selama ini raja demi raja Saudi tidak begitu mementingkan penguatan faktor personil pasukannya yang tergolong lemah di antara negara-negara besar regional, terutama pada dekade 1960 dan 1970, yaitu ketika berbagai aksi kudeta militer terjadi di kawasan. Mereka enggan melakukan berbagai upaya besar untuk memperbaharui pasukan karena kuatir terjangkit wabah kudeta.

15 tahun silam, Pangeran Bandar bin Sultan baru membunyikan alarm ketika dia menjabat sebagai Dubes Saudi untuk Amerika Serikat. Saat itu dalam sebuah pertemuan dengan sejumlah pengusaha Saudi yang berkunjung ke Washington dan sebagian isi pembicaraannya bocor ke salah satu media Inggris Pangeran Bandar mengritik kondisi militer Saudi dan kinerja Menhan yang dijabat oleh ayahnya sendiri mendiang Sultan bin Abdulaziz. Bandar menekankan keharusan rekonstruksi dan pembaharuan secara menyeluruh dengan pengutamaan kelayakan daripada faktor-faktor lain.

Instruksi penyelenggaraan seremoni yang dikeluarkan Raja Salman belum lama ini, terutama untuk perombakan pucuk piramida militer, dilakukan sesuai permintaan Menhan yang tak lain adalah anaknya sendiri, MbS, sosok yang dijuluki “Badai Mematikan” terkait dengan Perang Yaman demi apa yang disebutnya “perang pencegahan” beberapa minggu setelah dia menjabat Menhan manakala dia juga sudah dinobatkan sebagai Putera Mahkota.

Menariknya, dalam seremoni tersebut Jenderal Abdulrahman bin Salih bin Abdullah al-Bunyan dicopot dari jabatannya sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata dan diganti dengan wakilnya, Jenderal Fayyad bin Hamid bin Raqad al-Ruwaili. Kemudian, Jenderal Mohammad Awwad bin Mansour bin Sahim dicopot dari jabatannya sebagai Kepala Staf Angkatan Udara, dan Jenderal Fahd bin Turki bin Abdulaziz al-Saud juga diberhentikan dari jabatan Kepala Staf Angkatan Darat meskipun dia baru diangkat ke posisi ini pada tahun lalu. Tiga orang ini jelas merupakan orang-orang yang dianggap paling bertanggungjawab atas kegagalan dalam perang Yaman.

Pemberhentian generasi kedua keturunan Raja Abdulaziz dari kedudukan mereka dengan cara demikian dan digantikannya mereka dengan orang-orang di luar keluarga besar kerajaan mencerminkan suatu perubahan yang berani dan serius terkait dengan mekanisme pengelolaan urusan badan-badan militer sesuai pandangan orang-orang yang mengetahui seluk beluk urusan resmi negara ini.

Di sisi lain, MbS yang bersiap-siap mengadakan kunjungan ke beberapa negara, termasuk Inggris, bermaksud memperkuat dominasinya atas lembaga militer dengan cara menempatkan para kroninya di pucuk-pucuk komando, persis seperti yang dia lakukan terhadap badan keamanan dan Garda Nasional.

Hanya saja, pertanyaan yang mengemuka terkait Perang Yaman tetap sama, yaitu apakah perombakan ini akan menghasilkan perubahan di medan tempur, terutama di wilayah perbatasan yang selalu berkobar di mana gerakan Ansarullah mencapai kemajuan signifikan meskipun kemampuan persenjataannya terus dilemahkan? Apakah perombakan ini juga akan menyurutkan kecaman internasional terkait banyaknya korban jiwa dan materi akibat serangan udara dan blokade yang telah menyebabkan kemiskinan dan kelaparan pada lebih dari 23 juta penduduk Yaman?

Sulit untuk menjawabnya, apalagi perubahan ini baru saja berjalan. Hanya saja, cara militer yang sudah dijajal selama tiga tahun terlampau sulit untuk menuntaskan perang dan membebaskan Saudi dari belitan dilemanya, meskipun perombakan yang diharapkan akan menghasil perbaikan keadaan ini bisa jadi merupakan kartu untuk mencapai solusi diplomatik melalui negosiasi, mengingat perombakan ini terjadi bersamaan dengan diangkatnya tokoh dari Inggris untuk menggantikan posisi Ismail Ould Cheikh Ahmed sebagai Utusan Khusus PBB untuk Yaman. (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*