aleppo-dan-tragedi-sanaLiputsanIslam.com – Ada yang terasa ganjil dalam hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Arab Saudi di tengah geger tragedi Sanaa. Negeri Paman Sam itu tak menunggu waktu lama untuk mengarahkan tuduhannya kepada Arab Saudi sebagai pelaku tragedi pembantaian ratusan pelayat di ibu kota Yaman tersebut. Tak kurang, juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS Ned Price mengatakan, “Kerjasama keamanan AS dengan Arab Saudi bukanlah cek kosong. Menyusul peristiwa ini dan berbagai peristiwa lain yang terjadi belakangan, kami segera mulai meninjau ulang dukungan kami yang sejauh ini sudah banyak berkurang kepada koalisi pimpinan Arab Saudi.”

Pernyataan ini tentu menjadi tamparan keras bagi Riyadh, terlebih karena saat itu penyelidikan masih belum dilakukan, dan apalagi Riyadh membantah pihaknya berada di balik pembantaian massal itu,  dan kemudian membuat statemen untuk memulai penyelidikan dengan melibatkan para ahli dari AS.  Hubungan Washington-Riyadh belakangan memang keruh. Pangeran Turki al-Faisal, mantan kepala badan intelijen Saudi, beberapa waktu lalu bahkan sempat mengatakan, “Masa saling percaya antara Washington dan Riyadh sudah berlalu.”

Hanya saja, hal yang menarik sekarang ialah kebersamaan sikap AS tersebut dengan kontroversi di Dewan Keamanan (DK) PBB antara Perancis dan sekutunya di satu pihak, dan Rusia di pihak lain mengenai Perang Aleppo yang berujung kandasnya draft resolusi DK PBB usulan Perancis akibat veto Rusia.

Di tengah suasana pertumpahan darah di Yaman dan Suriah, suhu pergesekan antara AS dan Rusia terus memuncak terkait Suriah. Terjadi saling tuding antara keduanya pada level yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Suriah dilanda krisis. Retorikanya bahkan menimbulkan kekuatiran banyak orang akan resiko ketergelinciran keduanya pada kesalahan fatal, atau spekulasi yang menjurus pada konfrontasi militer.

Rusia meningkatkan level peringatannya dengan menegaskan akan merontokkan “obyek terbang” (pesawat atau rudal) yang ditujukan untuk menyerang pasukan Suriah atau markas pemerintah Suriah. Jubir Kemhan Rusia Mayjen Igor Konashenkov menegaskan bahwa serangan terhadap kawasan yang dikuasai oleh pasukan Suriah merupakan ancaman bagi nyawa tentara Rusia di Suriah, dan karena itu dia mengisyaratkan pengaktifan sistem pertahanan udara andalannya,  S-400 dan S-300 yang sudah dikerahkan di Pangkalan Hmeimim dan Tartus, Suriah, yang menjadi basis militer Rusia.

Tampak bahwa kalangan garis keras di Pentagon dan sebagian pendukungnya dari kalangan pelobi dan politisi mencemooh keseriuan pemerintahan Presiden AS Barack Obama mengupayakan solusi politik. Mereka menganggap Rusia sebagai bahaya yang akan terus menggelembung apabila eksistensinya kian menguat di Suriah. Karena itu, disebut-sebut pula bahwa penyingkiran kepala Badan Intelijen Pertahanan Michael Flynn dan tekanan kepada Kepala Staf Gabungan Martin Dempsey agar segera dipensiunkan adalah dalam rangka melicinkan kebijakan garis keras AS, sebab dua orang ini tidak menghendaki peningkatan opsi militer untuk mengguling Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Dari komentar yang mewarnai media Israel juga terlihat bahwa rezim Zionis ini memandang penempatan sistem S-300 Rusia di Suriah  mengacaukan sistem pertahanan Israel di depan pasukan Suriah dan Hizbullah, dan secara tidak langsung menambah kekuatan Iran. Yedioth Ahronoth menyebutkan, “Penyebaran sistem canggih S-300 di pangkalan-pangkalan laut di Suriah akan mengubah percaturan di Suriah.” Sedangkan situs Walla menyebutkan, “Perang Aleppo bisa juga akan mencetak wajah baru dunia.”

Di pihak lain, Rusia, Suriah, Iran dan Hizbullah memandang situasi sekarang sebagai momentum untuk melanjutkan pertempuran hingga tuntas dan sampai Aleppo timur dapat dikuasai sepenuhnya oleh pasukan Suriah.

Masalah ini tampak berkejaran dengan waktu yang tersisa sebelum tampilnya pemerintahan baru AS, dan terlihat pula betapa Tragedi Sanaa menguatkan spekulasi ini.

Sebenarnya, apa yang terjadi belakangan di Aleppo kembali kepada duduk persoalan awal Suriah di mana Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Israel tidak menghendaki kemenangan militer Rusia, Suriah dan Iran, karena dampaknya bisa jadi akan sangat besar dalam perimbangan kekuatan internasional dan regional di Timteng.

AS dan NATO kian ketar-ketir menyaksikan tekanan tentara Suriah sekutunya di Aleppo, dan apalagi ditambah dengan kian merapatnya Turki dengan Rusia menyusul kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Turki di tengah kekesalan Ankara terhadap AS dalam isu Kurdi dan agamawan oposisi Turki Fethullah Gulen.

Perancis belakangan memang disebut-sebut sebagai pemegang inisiatif agenda perlawanan terhadap Rusia, karena dalam banyak hal inisiatif itu berkaitan dengan hubungan Perancis dengan Saudi dan negara-negara Arab Teluk Persia lainnya. Namun demikian, tindakan Perancis juga tak lepas dari arena lebih luas yang landasannya di bangun oleh komunitas-komunitas multinasional di Berlin beberapa waktu lalu yang melibatkan delegasi Kemlu AS, Inggris, Perancis, Italia, dan Jerman. Negara-negara ini merupakan eksekutor utama perang Suriah dengan komando AS dari pusat kerajaan Yordania, setelah dari wilayah Turki.

Pasca Tragedi Sanaa

Pecahnya tragedi Sanaa membuat suasana sontak berubah. Jika Paris dan sekutunya dalam mengusung draf resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB bersikukuh pada isu “pembantaian massal” di Aleppo, lantas apa yang dapat mereka lakukan sekarang terkait tragedi yang terjadi di siang bolong dan menimpa warga yang sedang menjalani tradisi keagamaan dan sangat simbolik tersebut? (Baca: Korban Meninggal Serangan Saudi cs di Sanaa Jadi 140 Orang, PBB dan AS Angkat Bicara)

Di pihak lain, apa pula yang akan dilakukan Iran yang mengantongi sederet tuduhan terhadap Saudi dan sekutunya, termasuk peledakan kedubes Iran di Beirut, pembunuhan jemaah haji Iran di Mekkah, pembunuhan ulama Syiah Saudi Syeikh Nimr al-Nimr, hingga serangan terhadap Husainiyah di Sanaa? Jika keadaan tak memungkinkan Iran untuk bertindak secara langsung maka opsi yang tersedia ialah bertindak bersama Rusia secara lebih masif  dan cepat di Aleppo.

Timteng dihadapkan pada dua konflik kekuatan raksasa militer dan politik dunia, yakni Rusia dan AS. Rusia yang memveto draf resolusi usulan Perancis tidak berada dalam posisi yang kuat di DK PBB, terutama ketika Cina menyatakan abstein, berbeda dengan sikap-sikap Beijing sebelumnya yang selalu menyokong Moskow dalam isu Suriah.

Serangan Barat terhadap Moskow di DK PB tidak melulu berasal dari Perancis, melainkan juga Inggris dan lain-lain. Pemasokan rudal-rudal anti pesawat tempur dan senjata-senjata baru Barat kepada kawanan bersenjata di Suriah juga menambahkan tekanan terhadap Rusia. Sedangkan AS, pemerintahan Obama terlihat sudah menitipkan perang Suriah dalam kondisi yang paling runyam, terjerumus pada keadaan yang menyerupai Perang Dingin dengan Rusia, dan nyaris kehilangan Turki dan Saudi, dua sekutunya dalam Perang Suriah.

Tidaklah kebetulan ketika AS menyatakan berlepas tangan dari Saudi pasca pengesahan undang-undang JASTA dan tuduhan-tuduhan Obama sendiri terhadap Saudi dan negara-negara Teluk lainnya melalui majalah Atlantic di tengah polemik di Kongres AS mengenai terorisme, Wahabisme dan Arab Saudi. (Baca: Saudi Kecam UU AS Anti Pendukung Terorisme)

Kunjungan Putin ke Turki tentunya juga bersentuhan dengan strategi Moskow untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi di Suriah. Putin yang menangkap kuatnya gelagat NATO untuk mengepung Rusia di Suriah ingin mendapatkan kepastian dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebelum Moskow membuat keputusan final untuk menuntaskan perang Aleppo. Hal ini praktis menghadapkan Erdogan pada satu di antara dua pilihan; melanjutkan pendekatan dengan Moskow dan bersedia menyudahi petulangannya di Aleppo, atau bermanuver dengan menunggu pemerintahan AS mendatang yang diduga akan dekat lagi dengan Turki.

Adapun Saudi, tragedi Sanaa telah membuatnya mengalami tekanan hebat skala dunia, regional dan Yaman, meskipun pasukan koalisi pimpinan Saudi tidak mengakui serangan licik itu dilakukan olehnya. Karena itu, Saudi dan sekutunya akan berusaha mengalihkan perhatian ke arah front utara Suriah karena setiap langkahnya di Yaman sejak sekarang dan seterusnya akan sangat rawan keamanan, politik dan finansial bagi Saudi.

Semua gambaran tadi melukiskan betapa Aleppo akan menjadi satu-satunya isu yang tersisa dalam beberapa pekan menjelang pemerintahan baru AS. Perkembangan ini bukan tidak mungkin akan menjurus pada konfrontasi militer AS-Rusia, meskipun keduanya sama-sama tidak menghendakinya, dan bisa pula situasi militer di kota terbesar kedua Suriah itu akan tuntas dan dimenangi oleh pasukan Suriah dan sekutunya dengan bantuan Rusia.

Dengan demikian, dalam beberapa hari ke depan Aleppo akan menjadi ajang reaksi dan dampak tragedi Sanaa. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL