LiputanIslam.com –  Militer rezim Zionis tiba-tiba mengaku pernah melancarkan serangan udara yang disebutnya telah menghancurkan sebuah situs yang diduga sebagai reaktor nuklir Suriah di al-Kubar dekat Deir-al-Zor pada 2007, sembari mengklaim bahwa operasi serangan “Operation Out of the Box” itu berhasil menghapus ancaman besar bagi Israel dan Timteng.

Pengakuan Israel itu disusul dengan publikasi beberapa foto dan video kokpit untuk menunjukkan bahwa serangan udara itu telah menghancurkan fasilitas di al-Kubar.

“Pesan dari serangan terhadap reaktor nuklir pada 2007 adalah bahwa Negara Israel tidak akan mengizinkan terbentuknya kemampuan yang mengancam eksistensi Israel… Ini adalah pesan kami pada tahun 2007, ini tetap pesan kami hari ini dan akan terus menjadi pesan kami di masa depan yang dekat dan jauh, ” ungkap kepala militer Israel, Letjend Gadi Eizencot, Rabu (21/3/2018), seperti dikutip Reuters.

Disebutkan pula bahwa serangan itu dilancarkan dengan mengerahkan jet tempur F-15 dan F-16 serta menyasar fasilitas yang diklaim Israel sebagai reaktor nuklir yang dikembangkan Suriah dengan kerjasama Korut.

Pemerintah Suriah tidak menepis adanya serangan itu, namun membantah klaim Israel bahwa sasarannya adalah fasilitas nuklir. Menurut Damaskus, sasaran serangan itu adalah bagian dari pangkalan militer yang sudah tak terpakai.

Terlepas dari klaim dan bantahan itu, hal yang mengundang tanda tanya tentunya ialah mengapa baru sekarang Israel berkoar tentang serangan yang dilakukan 11 tahun silam itu? Jawabannya dapat disimpulkan dalam beberapa poin sebagai berikut:

Pertama, Israel bermaksud memberikan peringatan kepada Iran bahwa Israel juga dapat sewaktu-waktu menyerang fasilitas nuklir Iran. Menteri Intelijen Israel Yisrael Katz  di halaman Twitternya mencuit: “Serangan ini merupakan pesan bahwa Israel tidak akan membiarkan negara lain mengancam eksistensi Israel, termasuk Iran, dengan memiliki senjata nuklir.”

Kedua, tersiar beberapa laporan bahwa telah ada kesepakatan rahasia antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat (AS) dalam kunjungan Netanyahu dua pekan lalu ke Washington. Keduanya sepakat untuk menurunkan level ancaman yang membayangi Israel dengan cara menyerang Iran dan Suriah setelah pada bulan Mei mendatang AS membatalkan perjanjian nuklir Iran.

Ketiga, publikasi serangan Israel tersebut merupakan bagian dari perang urat saraf Israel terhadap Poros Resistensi dengan tujuan menutupi kelemahannya. Sejak jet tempur F-16 miliknya rontok diterjang rudal Suriah buatan Rusia pada 10 Februali lalu, Israel belum pernah bertindak apapun meskipun sudah banyak melontarkan ancaman untuk melancarkan operasi militer di Suriah dan Lebanon.

Israel tak berani melancarkan serangan udara lagi setelah para petinggi Moskow dan Damaskus menyatakan bahwa  Suriah akan meladeni serangan udara Israel, dan tersiar pula kabar bahwa sistem pertahanan udara Suriah kini dilengkapi rudal mutakhir yang dapat memberikan kejutan dengan lampu hijau Rusia.

Mengenai peringatan Israel terhadap Iran, sebagaimana diketahui, Iran bukanlah negara yang mudah digertak oleh Israel maupun AS. Sebaliknya, Iran siap meladeni serangan Israel, dan fasilitas nuklir Iran umumnya terletak di daerah pegunungan tinggi, termasuk di Arak dekat kota Qum, dilindungi dengan rudal-rudal canggih.

Apa yang pernah terjadi di masa lalu semisal serangan udara Israel ke al-Kubar pada tahun 2007 sekarang tidak akan semudah itu terulang, sebab resikonya adalah perang besar regional dan bahkan bisa jadi perang dunia, karena reaksi Iran akan sengit. Ratusan ribu rudal Iran siap menghujani Israel dari Suriah, Lebanon, dan Iran sendiri.

Apalagi, Presiden Rusia Vladimir yang bisa jadi telah mengantongi informasi intelijen mengenai rencana AS dan Israel menyerang Suriah, Lebanon, dan mungkin juga Iran, menegaskan pihaknya akan bereaksi keras terhadap serangan nuklir terhadap Rusia maupun negara sekutunya.

Israel sedang terjepit perkembangan situasi regional yang meruntuhkan supremasi militernya. Rezim penjajah Palestina ini tak dapat menciutkan nyali Poros Resistensi yang bukan hanya memiliki tekad resistensi yang membaja melainkan juga menyandang senjata mematikan.

Layak diingat pula bahwa bukan baru sekarang Israel mengancam akan menyerang fasilitas nuklir Iran, melainkan sudah sejak 20 tahun silam. Sampai detik ini Israel tak pernah berani membuktikan ancamannya, sebab negara Zionis ilegal ini tahu persis besarnya resiko kerugian materi dan jiwa yang akan menimpanya, karena reaksi Iran akan sengit dan telak.  (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL