LiputanIslam.com –  Ketua otoritas Palestina Mahmoud Abbas alias Abu Mazen semakin gencar mengancam akan menghentikan bantuan finansial dan gaji pegawai di Jalur Gaza. Dengan cara ini dia berusaha menekan Gerakan Perlawanan Palestina, Hamas, agar menerima persyaratan otoritas Palestina yang mengemuka dalam perundingan terbaru untuk rekonsialisi. Dia juga bermaksud mengembalikan Jalur Gaza ke dalam otoritasnya di Ramallah.

Di pihak lain, Hamas malah mencetak beberapa prestasi diplomatik, terutama pemulihan hubungannya dengan Iran persis seperti yang dilakukannya di Mesir, serta meraih beberapa kesefahaman dengan anggota parlemen Palestina, Mahmoud Dahlan, yang menyempal dari dari gerakan Fatah dan pernah bermusuhan dengan Hamas.

Memang, Mahmoud Abbas beruntung dikunjungi oleh Raja Abdullah II dari Yordania, dan mengadakan pertemuan dengannya selama beberapa jam di tempat kediamannya di Ramallah, Senin (6/8/2017). Namun demikian, dia tetap semakin terkucil karena faktor usianya yang semakin lanjut, kevakuman gerakan diplomatiknya baik di level Arab maupun global, dan berbagai tindakannya yang tak bijak, terutama pemutusan gaji puluhan ribu pegawai dan terlibat pula dalam pemutusan pasokan listrik ke Jalur Gaza.

Keberhasilan intifada di al-Quds (Yerussalem) memaksa Israel menghapus sistem keamanannya di Masjid al-Aqsa, dan adanya polarisasi alternatif di luar faksi-faksi yang ada telah menimbulkan tekanan besar bagi Abu Mazen dan semakin menyingkap keterkucilannya tadi, betapapun dia telah menghubungi Israel agar menghentikan kejahatan rezim Zionis ini di kota pendudukan al-Quds sebagai bentuk solidaritas Abu Mazen dengan warga Palestina yang menggelar aksi konsentrasi di al-Quds.

Tindakan Abu Mazen terhadap Jalur Gaza justru merugikan dirinya tidak berpengaruh seperti yang dia harapkan pada kekuasaan Hamas di wilayah ini. Sebaliknya, tindakan itu semakin menambah kesengsaraan dua warga Palestina di sana sehingga praktis membangkitkan kemarahan mereka terhadap otoritas Palestina dan Abu Mazen secara pribadi di saat posisinya semakin lemah.

Hubungan Hamas Dengan Iran

Perbaikan hubungan Hamas dengan Iran tanpa mempengaruhi hubungannya yang baru terjalin baik dengan Mesir bisa jadi juga menyulitkan posisi Abbas dan otoritasnya di Tepi Barat. Sebab, pendekatan Hamas-Iran ini dimaksudkan untuk mengaktifkan resistensi (muqawamah) dengan segala bentuknya di Tepi Barat untuk menambah tekanan terhadap Israel dan mengacaukan koordinasi keamanan otoritas Palestina dengan Israel seperti yang dikehendaki oleh mayoritas rakyat Palestina.

Menariknya lagi ialah komposisi delegasi Hamas yang datang ke Teheran atas undangan pemerintah Iran untuk menghadiri upacara pelantikan Hassan Rouhani sebagai presiden Iran untuk kedua kalinya. Delegasi itu dipimpin oleh Izzat al-Rishq dan dianggotai oleh para tokoh papan atas Hamas, yaitu Usamah Hamdan, Salih al-Arouri, dan Zahir Jabarin.

Al-Arouri adalah pemimpin sayap militer Hamas di Tepi Barat yang dulu dengan lantang menyatakan bertanggungjawab atas penculikan dan pembunuhan terhadap tiga orang Israel sebagai balasan atas aksi pembakaran terhadap pemuda Palestina Mohammad Abu Khudair. Seperti diketahui, peristiwa ini kemudian menyulut perang Palestina-Israel di Jalur Gaza selama 53 hari di mana Hamas dan faksi-faksi pejuang Palestina terbukti tangguh dan semakin kuat.

Iran dalam berbagai statemen terbarunya dan dengan menjadi tuan rumah konferensi mengenai resisteni Palestina di Teheran pada Februari lalu telah menegaskan tekadnya untuk membangkitkan kembali gelora muqawamah di Tepi Barat dan al-Quds. Hal ini juga ditekankan oleh Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Karena itu bisa jadi pendekatan Hamas-Iran merupakan implementasi tekad Iran tersebut.

Al-Arouri yang kemungkinan besar tinggal di Beirut selatan di bawah perlindungan Hizbullah setelah keluar dari Turki dan Qatar akibat tekanan Amerika Serikat dan Israel bukan tidak mungkin akan menjadi ikon dan ujung tombak muqawamah di masa mendatang, mengingat dia dikenal sangat ahli, memiliki relasi yang luas dengan para para kader dan sel-sel Hamas di dalam wilayah Palestina, berani mengambil keputusan dan tampil terbuka, dan menolak segala bentuk toleransi terhadap pendudukan.

Delegasi Hamas pimpinan al-Arouri juga pernah mendatangi Kedubes Iran untuk Lebanon di Beirut pada 1 Agustus lalu. Mereka disambut oleh penasehat ketua parlemen Iran Amir Hossein Abdollahian, dan foto-foto pertemuan mereka di sana juga telah dipublikasi. Peristiwa ini menjadi pesan tegas Teheran bukan hanya kepada Israel, melainkan juga kepada otoritas Palestina pimpinan Mahmoud Abbas bahwa muqawamah akan kembali ke Tepi Barat sekaligus tanah pendudukan tahun 1948 (Israel) dengan dukungan Iran.

Banyak faktor, termasuk keinginan negara-negara “moderat” Arab untuk normalisasi hubungan dengan Iran, telah mendorong hasrat Hamas dan mungkin juga faksi-faksi pejuang Palestina lainnya untuk masuk ke atmosfir Iran. Iran sudah terlanjur menjadi kekuatan besar regional yang kian berpengaruh setelah sekutunya di Suriah, Yaman, Irak, dan Lebanon  berada di atas angin, dan apalagi sekarang juga memegang kembali kartu muqawamah Palestina.  (mm)

Sumber: Ray al-Youm

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL