SYRIA ALEPPOLiputanIslam.com –   Pesatnya pergerakan maju tentara pemerintah Suriah, Pasukan Arab Suriah (SAA), dan sekutunya dalam beberapa hari terakhir mengundang dugaan kuat bahwa kota ini akan segera bebas dari cengkraman kawanan pemberontak dan teroris.

Pembebasan Aleppo nanti tentu tidak lantas berarti sepak terjang kawanan bersenjata di Suriah akan segera reda, namun banyak pengamat percaya bahwa perang di berbagai kawasan lain yang diduduki kawanan bersenjata tidak akan serumit perang Aleppo.

Berbagai laporan yang tersiar dalam beberapa hari ini menyebutkan bahwa gerak maju SAA dan sekutunya di Aleppo timur semakin tak terbendung oleh perlawanan militan. SAA yang juga didukung serangan udara Rusia terus memberikan pukulan-pukulan telak terhadap militan, dan membebaskan  berbagai kawasan strategis dari keberadaan militan.

Setelah menguasai kawasan al-Shaar yang merupakan bagian kota lama Aleppo, Selasa (6/12/2016), SAA dilaporkan telah membebaskan dan menguasai kembali sekira 80 persen bagian timur Aleppo timur, dan kini mereka terus bertempur hingga semua wilayah kota Aleppo bebas dari pendudukan kawanan bersenjata. Militan kini terjepit di area seluas hanya 7 km persegi.  (Baca: Kian Terjepit di Aleppo Timur, Kawanan Bersenjata Dikabarkan Ingin Kabur)

Sudah lebih dari lima tahun Suriah dilanda krisis pemberontakan dan terorisme. Semula tak banyak orang yang menduga bahwa krisis ini akan berkembang sedemikian komplek hingga mengundang perhatian dan keprihatinan dunia.

Kawanan teroris yang mendapat dukungan dari beberapa negara regional dan Barat semula berhasil menduduk banyak kawasan dan bagian penting wilayah Suriah, tapi sejak satu setengah tahun lalu perkembangan konflik di lapangan berubah menguntungkan pihak pemerintah Damaskus.

SAA yang didukung Rusia, Iran dan Hizbullah bukan hanya dapat memperkuat kendalinya di Damaskus dan Latakia, tapi juga berhasil merebut kembali beberapa kota lain, termasuk Homs dan Hama. Dalam perkembangan terbaru, SAA yang memulai operasi militer secara besar-besaran untuk pembebasan Aleppo sejak November lalu ternyata juga berhasil membuka palang pintu kemenangan vital.

Disebutkan bahwa dari segi krusialitas dan tingkat kesulitan, perang Aleppo bahkan tak dapat dibanding dengan operasi-operasi militer lain sebelumnya. Karena itu wajar orang bertanya-tanya mengapa Aleppo sedemikian signifikan?

Terlepas dar status Aleppo sebagai kota kedua terbesar Suriah setelah Damaskus, atau statusnya sebagai pusat ekonomi negara ini, menguasai kota ini menjadi sesuatu yang simbolik, motivatif, dan strategis, baik di mata kawanan bersenjata maupun pasukan pemerintah.

Sejak awal krisis Suriah dan berkembangnya aktivitas kelompok-kelompok bersenjata, mereka menempatkan pendudukan atas Aleppo dalam skala prioritas. Di mata mereka, kepanikan terhadap jatuhnya Aleppo ke tangan mereka akan sangat menunjang jatuhnya kota-kota lain dan memuluskan misi pendudukan mereka.

Pertimbangan yang sama kini juga digunakan oleh SAA sehingga mati-matian berjuang membasmi kawanan bersenjata dengan asumsi bahwa pembebasan Aleppo akan menimbulkan efek domino dalam proses pembebasan berbagai kota dan daerah lain.

Beberapa kawasan lain di Suriah masih diduduki teroris, termasuk Raqqah dan Deir ez-Zor di timur, Daraa di selatan, dan Idlib di barat laut. Karena itu, pasca Aleppo nanti, kawasan itu akan mendapat giliran menjadi target operasi SAA.

“Para teroris masih ada di kawasan-kawasan lain. Walaupun kami dapat menyudahi perang di Aleppo, kami masih akan melanjutkan perang terhadap mereka,” tegas Presiden Suriah Bashar al-Assad. (Baca: Al-Assad: Mereka Mengemis Gencatan Senjata Karena Nasibnya Sudah Di Ujung Tanduk)

Mengenai krusialitas perang Aleppo dia mengatakan, “Kegagalan di Aleppo (bagi kawanan bersenjata dan para pendukungnya di luar negeri) merupakan perubahan proses perang di semua bagian Suriah, dan pada gilirannya merupakan kekandasan agenda asing, baik regional  maupun Barat,”

IRNA menyebutkan tiga poin mengenai pentingnya pembebasan Aleppo;

Pertama, besarnya kota ini sehingga baik dari segi luas maupun populasinya, tak dapat dibandingkan dengan kota-kota lain. Total jumlah penduduk Raqqah dan Deir az-Zor tak sampai sepertiga jumlah penduduk Aleppo, sementara luas Idlib hanya sekira seperdelapan Aleppo. Karena itu, perang di tempat lain tak akan sekompleks perang di Aleppo, sehingga keberhasilan membebaskan Aleppo praktis memompa mentalitas tempur pasukan Suriah untuk membebaskan kawasan lain.

Kedua, Aleppo berdekatan dengan perbatasan Suriah – Turki, sehingga pembebasan Aleppo dapat memutus suplai senjata dan hubungan kawanan pemberontak dan teroris dengan dunia luar yang selama ini dilakukan melalui wilayah Turki. Karena itu, pembebasan Aleppo menjadi kunci untuk terus melemahkan kawanan bersenjata, dan pada gilirannya SAA dan sekutunya akan lebih mudah menumpas militan di tempat-tempat lain.

Ketiga, beberapa sumber menyebutkan adanya perselisihan tajam antar kelompok bersenjata di Aleppo timur, dan ini menjadi salah satu sebab kocar-kacirnya mereka dalam menghadapi serbuan SAA. Bahkan ada laporan bahwa Jabhat al-Nusra dan Brigade Abu Imarah telah menggempur posisi-posisi kelompok Failaq Shams dan Jaish Shamd di Aleppo timur.

Pada kesimpulannya, pembebasan Aleppo yang kini sudah mendekati kepastian memang akan menimbulkan efek domino bagi kelancaran perang pemerintah Suriah melawan pemberontakan dan terorisme. Beberapa sumber di Suriah berharap pesta kemenangan dalam perang Aleppo bisa mewarnai perayaan tahun baru 2017. (mm)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL