iran and 5+1LiputanIslam.com – Perundingan nuklir Iran dengan negara-negara anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) plus Jerman atau yang lazim disebut Kelompok 5+1 di Wina, Austria, telah memasuki babak keempat. Namun, berbeda dengan babak-babak sebelumnya, di babak terbaru ini optimisme terhadap kemajuan negosiasi itu terlihat meredup dan bahkan suram.

Namun demikian, sebuah artikel di media Fars News Agency (FNA) yang berbasis di Iran justru menganggap “tidak adanya kemajuan” dalam negosiasi babak keempat itu layak “disambut baik”. Mengapa? Artikel yang dimuat FNA tanggal 20 Mei 2014 itu menjawabnya sebagai berikut;

Ada beberapa faktor mengapa para pengambil keputusan dan perancang agenda perundingan nuklir itu membuat desain dan kerangka baru sehingga babak keempat berakhir demikian.

Pada Perundingan Wina 3 yang berlangsung April lalu proses pencapai kesepakatan menyeluruh antara Teheran dan Kelompok 5+1 mengenai program nuklir Iran sebenarnya mencapai fase baru yang krusial dan dapat disebut sebagai fase transisi dari rencana pengambilan langkah kolektif untuk mencapai kesepakatan komprehensif.

Para wakil menteri luar negeri Iran dan negara-negara yang tergabung dalam Kelompok 5+1 telah mengadakan pertemuan dengan tujuan menuangkan sikap masing-masing lalu memperdekat pandangan yang ada untuk kemudian masuk ke tahap penyusun draft kesepakatan final.

“Perundingan berakhir dengan senyum,” demikian disebutkan oleh banyak media saat menggambarkan Perundingan Wina 3. Saat itu berkembang optimisme untuk penyusunan kesepakatan komprehensif nuklir Iran yang dicanangkan untuk Perundingan Wina 4 pada bulan Mei 2014.

Namun demikian, apa gerangan yang terjadi dalam kurun waktu antara Perundingan Wina 3 hingga Wina 4 sehingga Perundingan Wina 4 tidak lagi menghasilkan keceriaan dan senyum? Pertama tentu perlu dicermati lagi pernyataan para pejabat dan anggota tim perundingan Wina.

Ketua badan Tenaga Atom Iran Ali Akbar Salehi dalam sebuah wawancara usai seremoni peresmian prestasi-prestasi nuklir Iran menyebutkan bahwa masalah reaktor air ringan Arak antara Iran dan Barat boleh dikata sudah terselesaikan. Menurut dia, Iran sudah mengajukan suatu usulan kepada Kelompok 5+1 mengenai desain ulang instalasi Arak dan enam negara itupun sudah menyetujuinya.

Sejak awal perundingan nuklir itu reaktor Arak dipandang sangat krusial dan sensitif sehingga selalu mendapat sorotan khusus dari pemerintah Iran dan negara-negara Barat. Karena itu, cukup mengejutkan ketika masalah yang menjadi salah satu kendala utama negosiasi nuklir itu tiba-tiba dinyatakan beres. Nyatanya, di kemudian hari terungkap bahwa masalah itu masih menjadi salah satu tema yang diperselisihkan oleh kedua belah pihak.

Dari sisi lain, sesuai rencana langkah bersama yang telah disepakati pada November tahun lalu kedua pihak seharusnya menempuh beberapa tindakan langkah demi langkah secara sukarela. Namun, dari proses penerimaan angsuran Iran serta pernyataan-pernyataan kontradiktif Barat menyangkut aset Iran yang dibekukan Barat terlihat bahwa Barat ternyata tidak konsisten dan enggan mengimbangi komitmen-komitmen Iran pada janjinya.

Di saat yang sama, media dan para pejabat Barat sempat berulangkali menunjukkan apresiasinya atas komitmen Iran pada perjanjian Jenewa. Komitmen ini bahkan diakui oleh Badan Tenaga Atom Internasional (AIEA), dan seolah mengikuti media Barat beberapa media dalam negeri Iran terlihat bangga menyaksikan kegembiraan pihak Barat. Semua ini menjadi indikasi kuat bahwa Iran memang konsisten pada janji-janjinya, sekaligus mencerminkan adanya tendensi Barat yang hendak diusung secara cerdik.

Kemudian, pasca Perundingan Wina 3 para pejabat Iran menyatakan bahwa kerisauan dan perselisihan kedua pihak berhasil ditekan hingga titik terendah sehingga memungkinkan dimulainya penyusunan draft kesepakatan komprehensif pada Perundingan Wina 4. Rusiapun, terkait dengan keterlibatan perundingan senior nuklirnya, Sergei Ryabkov, menyatakan bahwa perundingan ini mengagendakan pembahasan semua rincian materi kesepakatan final proyek nuklir Iran.

Alhasil, banyak indikasi yang menunjukkan bahwa pihak Barat sebenarnya sudah puas terhadap proses dan isi perundingan untuk memulai penyusunan draft kesepakatan komprehensif. Tapi di saat yang sama, dari berbagai pernyataan dan reaksi media Barat dalam selang waktu antara Perjanjian Wina 3 dan Perjanjian Wina 4 kentara sekali bahwa Barat ternyata justru mencoba mendulang kesempatan di tengah situasi yang sudah kondusif dengan cara mengangkat isu-isu lain yang menjadi “garis merah” bagi Iran.

Seminggu menjelang Perundingan Wina 4, Amerika Serikat (AS) tiba-tiba mengangkat isu rudal balistik Iran dan berkoar bahwa isu ini harus dibahas dalam negosiasi nuklir Iran dan dimasukkan dalam kesepakatan komprehensif. Selain isu rudal, ada beberapa masalah lain yang sensitif dan dicemaskan oleh banyak kalangan di Iran, termasuk masalah sentrifugal, level pengayaan uranium, riset dan pengembangan program nuklir, mekanisme pencabutan sanksi dan periode kesepakatan nuklir jangka panjang.

Dengan demikian ada agenda-agenda berlebihan di meja Gedung Putih dan para sekutunya. Mereka tidak sebatas mengincar program nuklir Iran, melainkan juga memburu ambisi-ambisi lamanya terhadap Iran.

Menurut FNA, sesuai argumentasi tersebut, seandainya instruksi perundingan nuklir disusun dan berjalan mengikuti arus Perundingan Wina 3 maka taruhannya adalah kedaulatan, keamanan dan wibawa Republik Islam Iran. Jika masalah rudal balistik Iran menjadi salah satu materi negosiasi tak pelak segala sesuatu yang dimiliki Iran terkait kekuatan militernya yang perahasiaannya menjadi salah satu titik kekuatan negara ini di kawasan Timur Tengah akan sirna, informasi militer Iran akan menjadi trending topic dengan berbagai analisis dan penafsiran yang berbeda di tengah media regional dan global, kekuatan nasional Iran yang menjadi salah satu kebanggaan Republik Islam Iran akan tergadaikan, dan terjadi pula adegan penelanjangan informasi keamanan nasional Iran, khususnya di bidang program nuklir Iran.

Serangkaian faktor ini mendorong para pengambil keputusan dan pembuat garis kebijakan dalam negosiasi nuklir Iran untuk membangun kerangka baru yang kemudian menentukan nasib Perundingan Wina 4. Dalam konteks ini bentuk-bentuk pengindahan terhadap garis merah dan rambu-rambu peringatan Iran menjadi semakin jelas dibanding sebelumnya dan sangat membantu tim perunding nuklir Iran dalam berlaga di gelanggang diplomatik.

Kerangka baru itu meningkatkan daya tahan dan resistensi tim negosiator Iran dalam Perundingan Wina 4 di depan upaya pemaksaan kehendak negara-negara Barat, khususnya AS. Dengan paradigma demikian maka tidaklah berlebihan ketika kemacetan dalam perundingan nuklir Iran justru mendapat sambutan di dalam negeri Iran. Pada hakikatnya, yang disambut tentu bukanlah kebuntuan atau tidak adanya kemufakatan itu sendiri, melainkan kesolidan dan konsistensi tim perunding Iran pada prinsip serta keberhasilan mereka melintasi zona-zona penuh resiko. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL