Pintu perbatasan Nasib antara Suriah dan Yordania

LiputanIslam.com –  Kejutan demi kejutan muncul silih berganti dalam riwayat krisis Suriah belakangan ini dan menandai terjadinya banyak perubahan fundamental. Setelah menguasai kota al-Sukhnah di provinsi Homs, Pasukan Arab Suriah (SAA) sekarang menguasai kawasan pintu perbatasan Nasib antara negara ini dan Yordania untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir dan setelah perbatasan itu ditutup secara total selama itu.

Otoritas Suriah semula membentuk, mempersenjatai, dan melatih kelompok-kelompok pasukan adat untuk mengisi kevakuman akibat penarikan mundur SAA dari kawasan itu. Amman menyatakan bahwa pasukan adat itu dibentuk untuk memerangi kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), dan kini pasukan itu ditarik dari posisi-posisi mereka sesuai keputusan resmi agar SAA kembali berkuasa di sana.

Terlepas dari faktor mengapa dan siapa sebenarnya yang berperan kunci  di balik perkembangan ini, keberhasilan SAA menguasai kembali pintu perbatasan Nasib merupakan satu prestasi strategis yang menggaris bawahi realitas bahwa pemerintah Suriah mulai menguasai sebagian besar pintu utama perbatasannya.

Tidak tertutup kemungkinan perkembangan ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain meredanya ketegangan di wilayah selatan Suriah sebagai hasil implementasi beberapa memo kesefahaman dalam perundingan Astana antara pemerintah dan kubu oposisi Suriah, kemudian kepastian Yordania untuk segera cuci tangan setelah Amerika Serikat (AS) menghentikan dukungan dana dan senjatanya kepada oposisi Suriah. Sekarang Yordania praktis telah menyerahkan sepenuhnya urusan Suriah kepada Rusia demi meringankan beban kekalahan dan sekaligus pengakuan secara implisit atas kekalahan ini.

Sejauh ini pintu perbatasan al-Hawa antara Suriah dan Turki di provinsi Idlib masih berada di luar kendali pemerintah dan tentara Suriah. Pos perbatasan vital di bagian barat laut Suriah ini dikuasai oleh pasukan Hayat Tahrir al-Sham alias Jabhat al-Nusra setelah mereka berhasil merebutnya dari tangan pasukan Harakat Ahrar al-Sham melalui pertempuran berdarah-darah.

Kuat dugaan bahwa operasi militer untuk pembebasan pintu perbatasan al-Hawa dan bahkan seluruh wilayah provinsi Idlib tak lama lagi akan dimulai, karena Jabhat al-Nusra adalah kelompok yang tercantum dalam daftar teroris versi AS dan Rusia sehingga, sebagaimana ISIS, tidak terlibat dalam kesepakatan de-eskalasi.

Hal yang pasti ialah ditutupnya Pusat Operasi Militer yang didirikan AS bersama para sekutunya di Yordania untuk mengawasi suplai senjata dan pelatihan milisi oposisi serta mengelola perang di Suriah.  AS sudah berlepas tangan dan menelantarkan nasib kubu oposisi.

Di sisi lain, kembalinya SAA ke wilayah selatan Suriah bisa menjadi alamat buruk bagi Rezim Zionis Israel dan kabar baik bagi para pengungsi Suriah di Yordania.  Alamat buruk bagi Israel karena tentara Suriah akan berhadapan langsung dengan tentara Zionis di Quneitra dan Golan, dan kabar baik bagi pengungsi Suriah karena jalan akan terbuka bagi mereka untuk pulang ke kampung halaman dan terbebas dari derita hidup di kamp pengungsian.

Kekuasaan pemerintah Suriah semakin lekas memulih berkat kesolidan pasukannya dan dukungan sekutunya selama krisis, dan ini tentu saja layak mendapat porsi perhatian karena mengakhiri suatu babak dan membuka babak baru.

Bukan tak mungkin kejutan selanjutnya ialah normalisasi hubungan Yordania dengan Suriah di bidang keamanan, politik, dan ekonomi, kembalinya duta besar Suriah ke Amman, dan terlihatnya para pejabat Yordania di Damaskus. (mm)

Sumber: Ray al-Youm

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL