Israel-Palestine1LiputanIslam.com – Setelah sekitar satu bulan disuguhi adegan pembumi hangusan Jalur Gaza disertai aksi genosida oleh pasukan Israel, khalayak dunia kini digiring ke depan prakarsa gencatan senjata permanen antara kubu perlawanan (muqawamah) Palestina dan kubu antagonis Zionis Israel.

Secara faktual, khususnya terkait asumsi masing-masing pihak dalam memaknai Perang Gaza, sulit berharap prakarsa pemerintah Mesir itu akan sukses ketika masih akomodatif dengan kebersikukuhan Tel Aviv pada pendiriannya untuk mempertahankan blokade Jalur Gaza, apalagi diimbuhi dengan kelancangan untuk melucuti senjata kubu muqawamah.

Israel ingin menyudahi perang dan sudah menarik pasukannya dari Gaza sejak pemberlakuan gencatan senjata 72 jam, namun sambil mencoba memaksakan syarat-syaratnya, sementara kubu muqawamah juga sudah berulangkali menegaskan bahwa gencatan senjata permanen tidak mungkin terlaksana jika Israel tetap menampik syarat-syarat pihak Palestina. Untuk diketahui, syarat terpenting yang diajukan Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, untuk gencatan senjata permanen ialah pencabutan blokade Israel terhadap Jalur Gaza.

Menilik fakta-fakta terkini Perang Gaza serta asumsi dan ekspektasi masing-masing pihak yang bertikai dalam mengartikan perang tersebut terlihat betapa basah benang kesepakatan gencatan senjata permanen yang hendak ditegakkan. .

Asumsi Israel

Dalam operasi militernya yang bersandi “Protective Edge” dan telah berlangsung sekian minggu dengan melancarkan serangan udara, darat dan laut ke Jalur Gaza, Israel berhasil menghancurkan hampir seluruh infrastruktur perekonomian dan industri di kawasan seluas 360 kilometer persegi tersebut.

Sebagaimana dinyatakan para petinggi Tel Aviv, misi Israel dalam operasi militer ialah meruntuhkan kekuatan militer Hamas. Meski tak tercapai, dalam hal ini Israel setidaknya telah menghancurkan semua infrastruktur perekonomian Hamas sehingga faksi pejuang Palestina ini dinilai sulit untuk menggalang kekuatan militer lebih jauh, atau bahkan untuk merekondisi kekuatannya yang mungkin melemah.

Penghancuran terowongan-terowongan para pejuang Palestina yang menghubungkan Jalur Gaza dengan wilayah Israel, pembombardiran masjid-masjid, pusat-pusat perekonomian dan pemberitaan, Kampus Universitas Islam Gaza yang merupakan tempat tumbuh mekarnya intelektualitas sebagian besar anggota Hamas, dan bahkan perusakan gedung-gedung yang berada di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), semua ini menjadi bagian dari atraksi kekerasan Israel di hadapan masyarakat dunia.

Usai menggelar semua tragedi itu Israel menarik pasukannya dari Jalur Gaza sejak pemberlakuan gencatan senjata terbaru untuk jangka waktu 72 jam. Di tahap ini Israel merasa sudah mencapai tujuan jangka pendeknya, yakni menghancurkan sebagian kekuatan militer dan perekonomian Hamas sehingga cukup alasan untuk mengakhiri pertempuran, walaupun tujuan jangka panjang mereka berupa perlucutan senjata pejuang Palestina dan pembasmian kubu muqamawah tetap jauh panggang dari api akibat kerasnya resistensi kubu ini .

Asumsi Kubu Muqamawah

Badai serangan Israel memang telah menjatuhkan ribuan korban tewas dan luka serta kehancuran yang dahsyat di Jalur Gaza. Namun demikian, ini tidak menyurutkan mental pejuang Palestina. Mereka terlihat tetap teguh dan percaya diri untuk terus melawan militer Israel yang tergolong angkatan bersenjata yang paling modern di dunia. Nyali mereka bahkan kian berkobar setelah berhasil memberikan serangan-serangan telak terhadap pasukan negara Zionis tersebut.

Di sisi lain, mereka menangkap realitas betapa sebagian penguasa negara Arab seperti Mesir dan Arab Saudi terindikasi bermain mata dengan Israel dan mengabaikan aspirasi bangsa Palestina. Hal ini praktis menumbuhkan kesadaran bahwa Palestina tidak akan bisa berbuat apa-apa kalau bukan mereka sendiri yang bertekad dan solid di hadapan Zionis.

Dari dua aspek ini kondisi pejuang Palestina sekarang terlihat lebih solid dibanding keadaannya di masa lalu, sementara Israel masih menerapkan tradisi lamanya memaksakan kehendak pada kubu muqamawah. Hamas berulangkali bersumpah tidak akan berhenti mengangkat senjata jika target-targetnya belum tercapai.

Kubu pejuang tahu persis bahwa menyerah pada gencatan senjata seperti yang diinginkan Israel dan sekutu regional dan globalnya tidak menjamin Israel berhenti mengulangi agresi militernya ke Jalur Gaza, apalagi rekam jejak Israel sudah terlampau sarat dengan inkonsistensi pada janji-janjinya.

Lebih jauh, kesepakatan apapun dengan Israel tidak akan ada artinya bagi kubu muqawamah jika tidak menghasilkan perubahan bagi kondisi warga Palestina di Jalur Gaza. Sudah sekian tahun penduduk Gaza mendekam dalam sangkar raksasa dan terasing dari hak-haknya yang paling asas akibat blokade Israel. Karena itu, seandainyapun kesepakatan Palestina-Israel tercapai tanpa mengindahkan aspirasi pencabutan blokade, apalagi ketika sudah banyak jatuh korban dan kehancuranpun terjadi di mana-mana, kondisi rakyat Palestina dalam penjara raksasa itu tetap saja mengenaskan.

Pengkhianatan sebagian penguasa Arab Timur Tengah terhadap aspirasi Palestina atau minimal ketidak kompakan dunia Arab juga turut menunjang tekad kubu muqawamah untuk meraih cita-citanya melalui medan laga. Keterlantaran mereka di dunia Arab justru menumbuhkan keyakinan bahwa berdamai dengan Israel tanpa meraih konsesi dari Tel Aviv tak ubah dengan menyuburkan nyali kaum Zionis untuk bertindak sewenang-wenang dan agresif lagi terhadap Palestina di masa mendatang. Atas dasar ini pejuang Palestina tetap akan resisten sampai mereka mendapatkan setidaknya konsesi berupa penuntasan blokade Jalur Gaza.

Kesimpulan

Meskipun kini sudah ada gerakan regional dan global untuk menghentikan serangan Israel ke Jalur Gaza, prakarsa gencatan senjata tetap sulit diterima oleh kubu Palestina jika tetap mengabaikan tuntutan penghapusan blokade Jalur Gaza. Karena itu, perjuangan dengan mengangkat senjata tetap akan dipandang kubu muqawamah sebagai satu-satunya resep ampuh untuk membendung antagonisme kaum Zionis terhadap bangsa Palestina. Dengan demikian, prakarsa apapun untuk menggalang gencatan senjata permanen akan cenderung sia-sia jika mengabaikan realitas yang ada. (mm)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL