irak ummu qasa1LiputanIslam.com –   Seorang ibu berusia lanjut dengan kaki gemetar memasuki makam Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib ra, cucu Nabi Muhammad saw, di Karbala, Irak, sementara beberapa anggota pasukan relawan tersohor Irak, al-Hashd al-Shaabi mengawalnya. Bibirnya wanita yang mengenakan selendang hijau itu terlihat bergerak seperti membacakan sesuatu setiap kali memandang anak-anak muda di sekitarnya, namun tidak ada yang tahu apa yang dibacanya. Orang hanya menduga dia membaca doa seorang ibu untuk anak.

Wanita yang mendapat panggilan Ummu Qasha itu menjadi sosok yang masyhur di Negeri 1001 Malam karena sebanyak 25 mahasiswa lolos dari sergapan maut kebengisan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) berkat kepedulian dan bantuannya. Sebutan “Pahlawan Irak” bahkan disematkan banyak orang untuk dirinya.

Dia bergerak mendekati makam Imam Husain ra dengan bibir yang terus bergerak seakan tak berhenti membaca zikir dan doa.  Dia adalah bagian dari warga Sunni Irak yang juga seperti warga Syiah remuk redam menyaksikan negaranya diacak-acak oleh gerombolan teroris besar yang dibidani dan dipelihara oleh banyak kekuatan dan negara ambisius.

Seperti dilansir IRNA, Rabu (6/8), makam putera Ali ra dan Fatimah ra tersebut pekan ini kedatangan “Sang Singa Betina Sunni” dari provinsi Salahuddin (Saladin) di utara Baghdad tersebut. Dialah orang yang tahun lalu telah menyelamatkan jiwa 25 mahasiswa dari tragedi pembantaian massal ISIS terhadap lebih dari 1,500 mahasiswa di pangkalan Spiecher dekat Tikrit, ibu kota provinsi Salahuddin, pada Juni 2014.

Meski beresiko besar, dengan tindakan itu dia telah membuktikan bahwa permusuhan antara Sunni dan Syiah tak lain adalah sesuatu yang diada-adakan oleh musuh-musuh Islam melalui para ekstrimis takfiri.

Ummu Qasha menapakkan kaki dan memasuki makam Imam Husain ra juga diiringi oleh anak-anak muda yang telah ia selamatkan tersebut. Kaum Muslim Syiah Irak menyebutnya sebagai “Tau’ah Masa Kini”.  Tau’ah adalah nama seorang ibu yang pada masa kebangkitan Imam Husain ra telah menyelamatkan Muslim bin Aqil ra, utusan Imam Husain ra. irak ummu qasa2

Sebagaimana Tau’ah, Ummu Qasha tidak takut menerima resiko menjadi korban kekejaman kaum bengis dan zalim. Tau’ah berani menyembunyikan Muslim bin Aqil ke dalam rumahnya, sedangkan Ummu Qasha juga berani menyembunyikan 25 pemuda itu ke dalam rumahnya agar selamat dari kawanan bersenjata yang berdarah dingin dan haus darah. Karena itu, sebagian masyarakat Irak mengusulkan supaya tahun 2015 dinamai tahun Ummu Qasha.

Di Karbala, kedatangan Ummu Qasha disambut oleh Abdul Mahdi al-Karbalai, wakil ulama besar Syiah Irak Ayatullah Ali al-Sistani, dan berita inipun segera tersiar luas di dunia maya Irak.

Di tengah situasi yang mencekam ketika ISIS sedang menebar angkara murka dan berpesta darah, Ummu Qasha dipandang telah berani mengorbankan dirinya demi menjunjung norma agama dan nilai kemanusiaan yang dianutnya dengan sepenuh jiwa. Dia berani menyelamatkan puluhan anak muda itu meskipun dia tahu persis bahwa ISIS tak segan-segan membantai siapapun yang tak sejalan dengan ideologi horor mereka.

Saat itu ratusan mahasiswadi Spiecher diangkut dengan beberapa truk kemudian dihempaskan satu persatu dalam keadaan tangan terikat di suatu lokasi. Mereka lantas digiring ke sebuah galian besar yang sudah dipersiapkan ISIS hingga  kemudian diberondong dengan peluru lalu dikubur secara massal.

Meski sangat mengerikan, namun tragedi pembantaian massal tersebut saat itu luput dari sorotan media yang tenggelam dalam hiruk-pikuk ekspansi ISIS di Irak utara. Tragedi itu bahkan juga tidak mengemuka dalam retorika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ummu Qasha adalah warga daerah Alam yang berpenduduk Sunni. Celakanya, sebagian besar pelaku pembantaian massal itu juga berasal dari daerah tersebut. Karena itu jelas butuh keberanian ekstra ketika dia berani melindungi sedikitnya 25 orang yang sedang diburu ISIS tersebut. Dan sebagaimana tragedi itu sendiri, tindakan berani mati Ummu Qasha saat itu tentu juga terjauh dari sorotan media dan perhatian publik.

Ummu Qasha yang belakangan ini namanya menjadi sandi operasi para pejuang Sunni Irak anti ISIS pekan ini juga mengadakan pertemuan dengan Ammar al-Hakim, Ketua Dewan Tinggi Islam Irak. Dalam pertemuan ini al-Hakim meminta kepada semua pihak yang menginginkan kehancuran Irak supaya memandang wanita gagah berani Ummu Qasha yang rela berkorban dengan sepenuh jiwa dan raga demi menyelamatkan anak-anak muda Irak.

“Sejarah Irak mengukir nama Ummu Qasha, sebagaimana sejarah juga mengukir nama al-Hashd al-Shaabi dan para veterannya,” ungkap al-Hakim.

Perdana Menteri Irak Haider Abadi juga menyanjung Ummu Qasha dengan menyebutnya sebagai simbol nasionalisme Irak serta memberinya anugerah. Pemerintah Irak rencananya juga akan mengirim Ummu Qasha ke Tanah Suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji pada tahun ini.

Shalah Hasan, penyair kondang Irak, meminta supaya tahun ini dinamai tahun Ummu Qasha.

Di tengah gejolak situasi dan aneka tragedi yang terjadi tahun lalu, bangsa muslim Irak Sunni dan Syiah telah mengenyam pahit manisnya romantisme perjuangan melawan konspirasi kekuatan-kekuatan angkara murka, dan Ummu Qasha merupakan salah satu pematik kebangkitan rakyat Irak untuk memenuhi seruan jihad para ulama melawan terorisme ISIS dan konspirasi asing.

irak ummu moayyadSelain Ummu Qasha, ada pula Ummu Moayyad yang belakangan ini turut mengharumkan nama wanita muslim Sunni Irak. Di Ramadi, ibu kota provinsi Anbar, ibu itu telah mengangkat senjata dan ikut bertempur melawan ISIS hingga akhirnya gugur meneguk mata air syahadah.  Foto-foto Ummu Moayyad ketika mengangkat bersenjata juga beredar luas melalui jejering sosial, dan ribuan katapun tak pelak terangkai untuk menyanjung kepahlawanannya.

Dari kalangan pria Sunni Irak juga ada beberapa nama besar, salah satunya adalah Usman al-Obeidi, atlit dan juara olah raga renang. Namanya melejit sebagai pahlawan setelah pada tahun 2005 dia terjun ke Sungai Dajlah (Tigris) untuk menyelamatkan banyak warga Syiah di bawah Jembatan al-Aimmah yang menjadi menghubungkan kawasan A’dhamiyyah yang mayoritas penduduknya bermazhab Sunni dan kawasan Kadhimain yang mayoritas penduduknya bermazhab Syiah. Saat itu ratusan warga Syiah peziarah Kadhimain yang terjebak di atas jembatan dalam sebuah peringatan keagamaan menceburkan diri ke sungai setelah mereka tiba-tiba dikejutkan oleh rumor serangan teror bom terhadap jembatan tersebut.

Al-Obeidi gugur akibat kewalahan berenang setelah berhasil menyelamatkan banyak nyawa saudara-saudara seagama dan sebangsanya dari kalangan Syiah. Foto-fotonya juga dipajang sebagai pahlawan oleh masyarakat Irak, terutama di dua kawasan Sunni dan Syiah tersebut. Saat itu sekitar seribu orang meninggal dunia menjadi korban kelicikan pihak-pihak yang terdera oleh gencarnya seruan persatuan Islam Sunni dan Syiah.irak usma al-obeidi

Altruisme dan kepahlawanan para wanita dan pria Sunni Irak ini, demikian pula banyak relawan Sunni dan Syiah lainnya, tentu tidak sekedar menjalankan kewajiban agama dan kebangsaannyanya, melainkan juga menjadi bukti di hadapan khalayak dunia bahwa kelompok-kelompok teroris takfiri sama sekali tidak ada kaitannya dengan Islam sebagai agama penebar rahmat dan kasih sayang. Terorisme yang mengatasnamakan Islam pada hakikatnya adalah ujung tombak gerakan konspirasi besar untuk menghancurkan agama dan umat Islam, dan Irak menjadi salah satu ajang konspirasi terkutuk itu. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL