suriah rusia3LiputanIslam.com – Belakangan ini Rusia tiba-tiba pasang badan di Suriah. Moskow yang semula tampil kalem akhirnya blak-blakan dan kontinyu berbicara mengenai bantuan militernya kepada Suriah untuk penumpasan teroris. Moskow juga menegaskan legitimasi Bashar al-Assad sebagai presiden Suriah dan menekankan peran kunci tentara Suriah dalam penumpasan teroris.

Banyak kalangan terkejut menyaksikan pemandangan ini, meskipun Damaskus sejak dulu memang cukup rapat dengan Moskow. Ceritanya, menurut situs al-Manar yang berbasis di Lebanon, ternyata dimulai dari insiden yang terjadi pada bulan April lalu. Saat itu, untuk pertama kalinya, kawanan bersenjata di Suriah berhasil menembak jatuh jet tempur Mig-29 ketika pesawat buatan Rusia ini baru lepas landa dari bandara militer Khalkhali dalam penerbangan dari Damaskus menuju Suwayda.

Dua hari setelah tersiarnya berita kejadian ini dan sesudah ada konfirmasi atas peristiwa ini, sebuah tim pakar dari Rusia datang ke Suriah untuk melakukan penyelidikan atasnya. Dalam penyelidikan, tim khusus ini menemukan barang bukti berupa serpihan rudal Stinger buatan Amerika Serikat (AS). Hebatnya lagi, pada serpihan itu juga tertera nomor khusus perlengkapan militer AS yang telah dijual kepada negara lain.

Dalam penyelidikan selanjutnya diketahui bahwa rudal itu merupakan senjata yang telah dibeli Qatar dari AS dan tergolong senjata yang tidak boleh diberikan atau dijual Qatar kepada pihak ketiga. Moskow lantas menghubungi Washington dan menyerahkan hasil penyelidikannya, namun Washington mengaku tidak tahu menahu soal tindakan Qatar ini.

Selanjutnya, Rusia mengancam akan membekali tentara Suriah dengan senjata supercanggih, termasuk jet tempur khusus serangan malam hari dan sistem radar baru. Tapi AS membalasnya dengan ancaman akan segera membekali kelompok bersenjata di Suriah dengan roket Stinger generasi baru.

Menurut al-Manar, informasi-informasi yang ada tentang ini berasal dari sumber-sumber yang telah mengikuti proses dialog Rusia dengan AS soal ini.

Pasca insiden Mig-29, Rusia mengambil keputusan untuk terlibat langsung di Suriah dan membantu tentara negara ini. Hal ini terjadi satu tahun setelah AS masuk ke Suriah di bawah payung koalisi internasional dan melalui penyaluran bantuan negara-negara Arab Teluk Persia kepada kaum takfiri bersenjata. Negara-negara Teluk menyuplai kelompok-kelompok militan takfiri di Suriah dengan senjata-senjata canggih dalam jumlah besar, sementara AS tidak menunjukkan upaya pencegahan.

Bersamaan dengan ini Rusia juga meneropong gerakan badan-badan keamanan dan intelijen Turki di negara-negara Asia Tengah yang berdekatan dengan Rusia, terutama setelah Turki pada tahun lalu berhasil merekrut ribuan orang Turkestan dan mengirim mereka ke Suriah untuk berperang. Ribuan petempur Turkestan ini terlibat dalam perang di bagian utara Suriah dan memainkan peran utama dalam perang kelompok Jaish al-Fath untuk menduduki sepenuhnya provinsi Idlib.

Pada konteks yang sama, sumber-sumber papan atas Perancis mengatakan bahwa isu mengalirnya imigran ke Eropa merupakan faktor krusial dan determinan bagi Rusia dalam membuat keputusan untuk masuk ke Suriah. Pasca merebaknya isu mengalirnya imigran dari kamp-kamp pengungsi Suriah di Turki menyusul keputusan Ankara untuk mengosongkan kamp-kamp itu dan mengalirkan para pengungsi ke Eropa, jelaslah bahwa yang menjadi tujuan ialah merangkai alasan untuk campurtangan langsung AS di Suriah dengan label “intevensi kemanusiaan”. Gempita isu imigran ini membahana bersamaan dengan keputusan Perancis untuk terlibat dalam serangan udara terhadap posisi-posisi ISIS di Suriah sehingga menambah kecurigaan Rusia.

Sumber-sumber Perancis menambahkan bahwa Rusia yang berkordinasi dengan Jerman dalam Perang Ukraina berada di balik keputusan Kanselir Jerman Angela Merkel mundur dari kesediaan untuk menerima ratusan ribu imigran Suriah. Menurut mereka, tertutupnya pintu Jerman bagi kedatangan gelombang imigran baru memancing kesadaran Rusia bahwa keputusan AS untuk terlibat di Suriah dengan kedok kemanusiaan berpotensi untuk berubah sewaktu-waktu menjadi intervensi Washington untuk menggulingkan pemerintah Damaskus.

Rusia pada dasarnya sudah menangkap obsesi dan agenda AS sejak satu dekade silam untuk menggulingkan pemerintah Damaskus, dan dengan menduduki Irak pada tahun 2003 terungkap pula di mata Moskow peran para neo-konservatif AS untuk mengubah pemerintahan di Suriah, Iran dan Irak. Hanya saja, fakta militer dan besarnya kerugian yang dialami tentara AS di Irak memaksa Washington untuk mengubah strategi, namun tidak menyebabkan penghapusan agenda itu.

Sumber-sumber Perancis memastikan bahwa badan intelijen Rusia mengendus gelagat AS untuk menciptakan realitas baru di Suriah melalui izin Ankara bagi AS untuk melancarkan operasi pemboman di Suriah dengan menggunakan pangkalan udara Incirlik milik Turki. Kecurigaan Rusia juga terus membengkak menyusul keterlibatan Inggris, Australia dan Perancis dalam operasi pemboman daratan Suriah. Di tahap inilah Rusia akhirnya mendeklarasikan keterlibatannya dalam Perang Suriah dan eksistensinya di daratan negara pimpinan Bashar al-Assad ini.

Kecurigaan Rusia terhadap agenda AS di Suriah semakin kentara dalam statemen-statemen terbaru Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. Dalam wawancara dengan TV pemerintah Rusia Minggu lalu dia mengungkapkan kecurigaan terhadap niat AS di balik campurtangannya di Suriah dengan kedok urgensi penumpasan kelompok teroris takfiri ISIS.

“Sebagian mitra kami dalam koalisi terkadang memberikan informasi mengenai posisi-posisi dan tempat-tempat konsentrasi ISIS, tapi AS yang memegang komando koalisi malah tidak mau membom posisi-posisi itu,” ungkap Lavrov.

Dia menambahkan, “Kami tak dapat membuat kesimpulan mengenai kinerja komando koalisi anti ISIS, tapi segala sesuatu akan segera jelas.”

Lavrov yang dikenal sebagai sosok diplomat yang sangat cermat dan berhati-hati itu dalam memilih kata dan menyusun pernyataan itu memutuskan untuk memahamkan Washington bahwa Rusia menangkap agenda AS terkait Suriah serta memantau operasi udara koalisi pimpinan AS.

Sumber-sumber Perancis menyatakan bahwa Rusia sudah mengantongi data-data yang sebelumnya selalu ditekankan oleh Iran, termasuk suplai senjata AS kepada ISIS melalui udara dan dukungan AS secara umum kepada ISIS di Suriah dan Irak. Data-data ini lantas melecut Rusia untuk segera pasang badan di Suriah dan menegaskan bahwa agenda AS sejak membentuk koalisi anti ISIS sekarang sudah berakhir. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL