LiputanIslam.com –   Menlu Aljazair Abdelkader Messahel dalam sebuah pernyataan yang disampaikan kepada TV RT milik Rusia  ketika mewakili negaranya dalam pertemuan Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, menyerukan kembalinya Suriah ke pangkuan Liga Arab.

Seruan ini akan lebih relevan jika terbalik, yakni kembalinya Liga Arab kepada Suriah dan meminta maaf kepada Damaskus karena telah mengambil salah satu keputusan terburuk dalam sejarah organisasi negara-negara Arab ini.  Keputusan ini tak lain ialah pembekuan keanggotaan Suriah dalam Liga Arab hanya lantaran di awal krisis Suriah terdapat tekanan dari sejumlah negara Arab Teluk Persia yang memang mensponsori pemberontakan di Suriah untuk menggusur pemerintahan di Damaskus.

Suriah sendiri hampir pasti tak segalau negara-negara tersebut dalam masalah ini. Selama enam tahun terakhir sejak keanggotaan Suriah di Liga Arab dibekukan tak ada satupun pejabat Suriah menyebutkan nama Liga Arab, apalagi memohon untuk kembali kepadanya.

Liga Arab telah melakukan tiga kesalahan besar yang sulit dilupakan begitu saja;

Pertama, mempercepat keberadaan banyak tentara Amerika Serikat (AS) di daratan Semenanjung Arabia sehingga memuluskan invasi dan pendudukan terhadap Irak.

Kedua, menyalakan lampu hijau bagi serangan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terhadap Libya dan campurtangannya untuk menumbangkan rezim di sana pada tahun 2011 sesuai konspirasi Perancis dan Inggris yang didukung AS.

Ketiga, pembekuan keanggotaan Suriah dalam Liga Arab lalu pemberian tempat kepada oposisi Suriah pimpinan Moaz al-Khatib dalam Pertemuan Puncak Liga Arab tahun 2013.

Citra Liga Arab justru semakin runyam dan memalukan bangsa-bangsa Arab. Sidang ke-148 para menteri luar negeri Liga Arab di Kairo dua pekan lalu diwarnai ketegangan dan dialog yang tak lagi menggunakan bahasa diplomatik antara Qatar dan empat negara lawannya.

Di pihak lain, pemerintah dan tentara Suriah telah terbukti solid selama hampir enam tahun, meskipun pada sebagian waktu di antaranya telah bertempur di lebih dari 100 front sekaligus melawan konspirasi yang didukung oleh berbagai kekuatan raksasa regional dan dunia yang telah menggelontorkan miliaran Dolar AS, puluhan ribu alat tempur, mempersenjatai dan memfasilitasi kedatangan para kombatan Arab dan lain-lain ke Suriah.

Dengan pamor sedemikian rupa, rakyat dan pemerintah Suriah tentu terlampau gagah untuk merunduk mengemis keanggotaan lagi dalam Liga Arab, apalagi statusnya sebagai anggota lembaga ini tak memberi apa-apa bagi mereka.

Terlepas dari itu, apa yang diserukan oleh Menlu Aljazair tetap layak dihargai  karena bertolak dari upaya dan iktikad yang baik. Abdelkader Messahel adalah sedikit di antara para sejawat Arabnya yang berani berkunjung ke Damaskus dan mengabaikan boikot terhadap Suriah.  Tak hanya itu, sejak awal krisis Suriah Aljazair sebenarnya juga berada di kubu pemerintah Suriah melawan oposisi dukungan asing.

Aljazair sendiri sudah mengalami perang saudara yang berdarah-darah selama delapan tahun hingga merenggut nyawa lebih dari 200,000 orang Aljazair. Negara ini pada akhirnya dapat berlabuh dengan aman dari samudera krisis dan menggapai rekonsiliasi nasional. Keberhasilan Aljazair ini bisa jadi juga merupakan preseden baik bagi pemerintah Suriah untuk tetap resisten, pantang menyerah, dan optimis mencapai rekonsiliasi nasional untuk kemudian mengenyam pengalaman hidup secara lebih demokratis sebagaimana terjadi di Aljazair atau bahkan lebih bermutu lagi. (mm)

Sumber: Ray al-Youm

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL