keragaman-irak

Para pejuang Irak mengekspresikan solidaritas dan persatuan Kurdi, Yazidi, Turkmen, Syiah, Sunni, dan Kristen.

Pasca tergulingnya rezim diktator Sadam Hossein, Irak seharusnya berubah menjadi negeri yang tentram dan aman di bawah sistem demokrasi  yang memayungi semua komponen bangsa yang heterogen di Negeri 1001 Malam ini, tak terkecuali kelompok yang paling minoritas sekalipun. Ironisnya, di situ ada banyak aktor internal dan eksternal yang bermain sehingga mimpi indah bangsa ini sontak berubah menjadi mimpi buruk yang tak kunjung usai dan terus menghantui kehidupan mereka sampai sekarang.

Adalah slogan “bela Sunni” yang menjadi sebab utama kegagalan bangsa Irak menjadi masyarakat yang damai dan bernaung di bawah nilai-nilai agama, kemanusiaan, dan nasionalisme. Kartu inilah yang dimainkan oleh Amerika Serikat (AS) bersama beberapa rezim regional serta para mantan kroni mendiang Saddam Hossein, kelompok-kelompok takfiri, dan sebagian kalangan Sunni yang terpedaya oleh permainan asing.  Mereka sengaja menyulut krisis di provinsi-provinsi yang mayoritas penduduknya bermazhab Sunni.

keragaman-irak2

Tulisan warga Syiah kepada saudaranya yang Sunni di Irak: “Saudaraku yang Sunni, aku rela berkorban dengan darah dan jiwaku demi engkau, dan aku menuntut hak-hakmu sebelum hak-hakku sendiri, Dari saudaramu yang Syiah.”

Isu Sunni-Syiah menjadi andalan AS dalam menapakkan kakinya di Timteng untuk melenyapkan kesempatan bagi bangsa-bangsa Arab menggalang kerukunan hidup, perdamaian, perkembangan dan kemajuan. Berbekal isu ini, AS berhasil membuat energi serta anugerah kekayaan alam bangsa-bangsa Muslim ini terhambur sia-sia, dan memorak porandakan konstruksi nasional dan sosial mereka, yang semuanya adalah demi memenuhi kepentingan Israel, rezim Zionis yang menjadi musuh bagi semua pihak Arab yang bertikai, baik Sunni maupun Syiah, dan bahkan bagi Arab non-Muslim sekalipun.

Di saat yang sama, ada rezim-rezim Arab berbasis dinasti dan klan yang gamang menyaksikan terbukanya kesempatan bagi bangsa Irak untuk membangun kehidupan bernegara berbasis demokrasi, nasionalisme, kebebasan, HAM, dan partisipasi politik.  Mereka kuatir transformasi ini menimbulkan pengaruh yang dapat menggerogoti sistem monarki yang menjadi surga dunia mereka selama ini. Mereka tidak ingin rakyatnya melihat ada bangsa lain di negara jiran dapat menghirup udara kebebasan dan demokrasi, sementara singgasana mereka bergantung penuh pada despotisme dan penindasan.

Kepanikan ini mendorong mereka untuk mencari ketenangan dengan cara mengusung klaim bela Sunni Irak.  Mereka ikut menggempur Irak dengan isu Sunni-Syiah agar eksperimen politik dan proses kehidupan berdemokrasi di Negeri 1001 Malam ini menguap sia-sia. Sepak terjang rezim-rezim monarki Arab ini menuai banyak hasil berkat kekuatan dana mereka dalam membeli para aktor bayaran dan menggerakkan kaum beringas takfiri untuk membunuhi orang-orang Irak di jalanan, rumah-rumah ibadah, gedung-gedung sekolah, dan tempat-tempat pesta perkawinan.  Semua ini dilakukan dengan judul “bela Sunni.”

Di sisi lain, para eks partai Baath Irak dan loyalis Saddam rupanya tidak puas dengan pesta kejahatannya selama berkuasa selama empat dekade di Irak, bukan hanya terhadap warga Syiah dan suku Kurdi, tapi juga banyak kalangan Sunni sendiri.

Ketika berhala mereka yang bernama Saddam ambruk pada tahun 2003, mereka bersembunyi dan menghilang bak ditelan bumi karena takut menjadi sasaran amuk massa.  Tapi di belakang hari mereka muncul setelah pemerintahan baru Irak berkomitmen untuk memperlakukan mereka secara manusiawi.

Mereka semula tampil dengan kedok “sekular” tapi kemudian berubah menjadi “sektarian”, dan dari “toleran” berubah menjadi  “jihadis”. Dalam proses ini mereka juga mengusung isu “bela Sunni.”  Mereka mengobarkan isu ini di mana-mana, terutama di provinsi-provinsi Sunni agar warga Sunni menolak dan memerangi realitas baru yang sedang berproses di Irak.

Demi ini mereka bahkan rela apabila semua provinsi Sunni jatuh ke tangan gerombolangan teroris al-Qaeda dan ISIS, sebagaimana diakui oleh gembong mereka, Izzat al-Douri, mantan komanda tinggi militer rezim Saddam . Tragedi pembantaian massal di pangkalan Speicher di Tikrit, provinsi Salahuddin (Saladin), hanyalah bagian kecil dari sepak terjang “para yatim Saddam” itu untuk menggenangi Irak dengan darah dengan kedok “bela Sunni.”

Dari kalangan sipil Irak, ada orang-orang yang mudah terpedaya oleh isu itu dan tak dapat mencerna situasi politik yang ada. Mereka seolah merasa tidak seharusnya dominasi Sunni atas Irak digeser. Mereka menuntut kekuasaan melebihi porsi yang seharusnya tertakar dengan sendirinya dalam sistem demokrasi. Mereka menuntut kekuasaan yang sama besarnya dengan Syiah, padahal Syiah menempati posisi yang mendekati mayoritas mutlak. Sistem demokrasi yang berjalan secara alami ini mereka sebut sebagai pembagian kekuasaan berbasis sektarianisme.

Bayangkan, apa jadinya seandainya tuntutan demikian juga berlaku di negara-negara lain. Di Mesir atau Indonesia, misalnya, pihak Kristen harus  memiliki kekuasaan yang sama besarnya dengan pihak Muslim tanpa mengindahkan kaidah demokrasi supaya kekuasaan tidak dianggap berbasis sektarianisme.

Tak pelak, slogan mereka menjadi sangat berbahaya. Mereka meneriakkan yel-yel balas dendam atas Syiah yang mereka anggap telah merebut dominasi Sunni. Mereka mengumandangkan slogan yang intinya ialah “Irak milik kita, atau bukan milik siapapun”, dan inilah antara lain gelegar yang berkecamuk di provinsi-provinsi Sunni.

Tentu, tidak semua Sunni Irak merestui paradigma itu. Masih banyak Sunni Irak yang berpikir secara sportif, fair, dan obyektif. Hanya saja, mereka terusir dari kubu pengobar dendam tanpa alasan yang masuk akal itu, dan tak dapat berbuat banyak.

Kubu yang kemudian sejalan dan berbaur dengan ISIS itu terus beraksi dengan hasil yang justru menimbulkan banyak kerusakan di provinsi-provinsi Sunni akibat konflik-konflik berdarah yang diaktori oleh para ekstrimis dan teroris. Di kawasan itu bendera demi bendera berkibar silih berganti.

Parahnya, gerakan bela Sunni yang di kemudian hari berada di bawah komando ISIS itu juga dibunyikan oleh pemerintah Turki menjelang operasi pembebasan Mosul dari tangan ISIS. Di situ terlihat betapa kuat persekongkolan negara-negara regional, loyalis Saddam, dan kelompok-kelompok takfiri untuk tetap mempertahankan kawasan Sunni Irak sebagai ajang perang dan pertumpahan darah.  (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL