palestina-skandal UEALiputanIslam.com – Asumsi yang berkembang selama ini bahwa bangsa Palestina bukan saja ditindas oleh kaum Zionis, melainkan juga ditelikung dan ditikam dari belakang oleh sebagian pihak Arab sendiri ternyata bukan isapan jempol. Belakangan ini terungkap sebuah skandal besar yang melibatkan rezim Uni Emirat Arab (UEA), begitu pula Mesir, terkait gejolak Palestina-Israel. Misi spionase puluhan agen UEA di Jalur Gaza untuk kepentingan Israel terbongkar secara memalukan oleh para pejuang Palestina. Segera setelah skandal ini terungkap, pemerintah Abu Dhabi mencoba melobi berbagai pihak terkait untuk mengendalikan keadaan agar skandal tidak semakin terbongkar dan mendedah belang penguasa UEA.

Sebagaimana dilansir al-Alam Selasa (23/7/2014), beberapa narasumber Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) di Gaza telah mengkonfirmasikan kebenaran informasi yang beredar mengenai megaskandal tersebut. Dalam wawancara eksklusif dengan Aljomhoor mereka menyebutkan, sebuah tim yang terdiri atas 50 relawan kesehatan UEA telah memasuki Gaza secara tiba-tiba tanpa ada koordinasi sebelumnya dengan alasan mendirikan rumah sakit lapangan. Mereka lolos masuk dan meninggalkan semua barangnya di Mesir melalui pintu perbatasan Rafah pada hari Ahad pagi (20/7/2014) tanpa mendapatkan kesulitan apapun dari pemerintah Mesir.

Menurut sumber-sumber tersebut, ketika seorang agen dari UEA itu tiba-tiba hengkang dari Jalur Gaza, badan keamanan Hamas segera memastikan bahwa semua anggota tim berkedok relawan kesehatan UEA adalah para agen yang menjalankan misi spionase untuk kepentingan Israel. Tugas utama mereka ialah menghimpun data dan informasi seputar Brigade Ezzedin al-Qassam, terutama menyangkut titik-titik lokasi peluncur roket sayap militer Hamas ini untuk kemudian diserahkan kepada Israel.

Dari hasil penyelidikan secara intensif yang dilakukan oleh badan keamanan Hamas terungkap bahwa beberapa agen spionase itu adalah para perwira tinggi badan keamanan Abu Dhabi.

Sumber-sumber tersebut menambahkan bahwa segera setelah tersiarnya kabar mengenai megaskandal ini Abu Dhabi mencoba mengendalikan kasus ini dengan melobi para petinggi Hamas. Disebutkan bahwa Ahmad Dahlan, penasehat keamanan Putera Mahkota Abu Dhabi Mohammad bin Zayed menjalin komunikasi secara intensif dengan para petinggi Hamas.

“Dahlan dan beberapa petinggi Fatah yang dekat dengan Dahlan telah menghubungi para pemimpin Hamas untuk mengendalikan skandal ini,” ujar seorang narasumber yang dekat dengan Hamas kepada Aljomhoor.

Narasumber lain mengatakan, “Sufyan Abu Zaidah, anggota senior Fatah yang dekat dengan Dahlan, telah mengontak para petinggi Hamas meminta supaya seluk beluk kasus tim Bulan Sabit Merah UEA di Gaza ini tidak diungkap.”

Baraa al-Rantisi, putera mendiang tokoh Hamas Abdul Aziz al-Rantisi membenarkan laporan Aljomhoor mengenai skandal tersebut.
“Para pejuang Palestina telah mengidentifikasi adanya jaringan spionase UEA. Satu agen UEA yang berkedok relawan kesehatan segera meninggalkan Gaza setelah mendapatkan sinyal peringatan dari pihak-pihak terkait di Gaza,” ujarnya.

“Sekarang kami yakin bahwa tim dari UEA itu adalah komplotan mata-mata yang disengaja dibiarkan masuk ke Jalur Gaza oleh Abdel Fattah al-Sisi (Presiden Mesir) supaya menghimpun informasi untuk kepentingan Israel mengenai para pejuang dan peluncur-peluncur roket mereka,” lanjut al-Rantisi.

Ibrahim Hamami, penulis dan analis politik Palestina yang dekat dengan Hamas mengatakan, “Hamas dan semua pejuang bertekad untuk terjun ke lapangan melawan penjajah dan semua pendukungnya, baik yang Arab maupun non-Arab.”

Dia mengingatkan, “Sikap Hamas sekarang jauh berbeda dengan dulu, sebab Hamas tidak menerima undangan kunjungan ke Kairo, telah mengungkap skandal spionase UEA di Gaza, dan bersikukuh pada syarat-syaratnya untuk menerima gencatan senjata.”

Satu lagi narasumber di Jalur Gaza kepada Aljomhoor menjelaskan bahwa rumah sakit lapangan diadakan oleh “relawan kesehatan” UEA di sisi Rumah Sakit Aqsa di Deir al-Balah ternyata ditujukan untuk membangun sarang spionase terbesar di Jalur Gaza demi kepentingan rezim penjajah.

Sebelumnya, berbagai media Palestina membeberkan bahwa Brigade al-Quds, sayap militer Jihad Islam Palestina, telah menginformasikan kepada Brigade al-Qassam, sayap militer Hamas, bahwa seorang warga Palestina telah memberitahu mereka mengenai gelagat salah satu anggota tim Bulan Sabit Merah UEA yang berusaha menghimpun informasi mengenai peluncur-peluncur roket para pejuang. Dia mencoba mengeruk informasi secara detail tentang ini dari warga Palestina. Dengan demikian, ada orang-orang Palestina yang terlibat dalam kasus ini.

Mengetahui lokasi-lokasi peluncuran roket pejuang Palestina tentu sangat penting bagi Israel, terutama setelah banyak agen mata-matanya yang tertangkap dan terbunuh di tangan aparat keamanan Hamas. Menurut harian Haaretz yang bermarkas Tel Aviv, Israel kini sangat tercekik oleh minimnya informasi mengenai keadaan di Gaza.

Aljomhoor menyebutkan, krisis informasi yang dialami Israel telah membuat Rezim Zionis ini terbelalak dan kelabakan menghadapi pesatnya kemajuan teknologi dan militer Brigade al-Qassam, dan inilah sebab mengapa Tel Aviv melobi negara-negara Arab sahabatnya supaya membantu Israel mengatasi krisis informasi tersebut. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL