LiputanIslam.com –  Kantor berita Reuters menurunkan laporan yang menepis klaim berulang kali pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi, terutama Uni Emirat Arab (UEA), bahwa pasukannya berhasil menguasai Bandara Internasional, Hudaydah, Yaman.

Kantor berita yang berbasis di Amerika Serikat (AS) ini menyatakan pasukan koalisi Arab gagal mewujudkan obsesinya dalam pertempuran di kawasan pesisir barat Yaman yang tercatat sebagai pertempuran terbesar antara tentara Yaman dan pasukan Ansarullah (Houthi) di satu pihak dan pasukan loyalis mantan presiden Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi yang didukung pasukan koalisi Arab di pihak lain.

Seperti dikutip al-Alam, Rabu (11/7/2018), Reuters melaporkan bahwa pasukan koalisi Arab gagal mengusai pelabuhan laut maupun udara Hudaydah, dan ini praktis juga membuatnya gagal mencapai supremasi militer yang dapat mengatasi kelompok Ansarullah dalam upaya penyelesaian di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Menurut Reuters, koalisi Arab berjanji melancarkan operasi militer dalam tempo yang singkat untuk menguasai pelabuhan laut dan udara Hudaydah tanpa memasuki pusat kota demi menghindari terhentinya aktivitas pelabuhan yang menjadi urat nadi bagi jutaan penduduk Yaman. Namun, pasukan koalisi Arab ternyata gagal meraih kemajuan dalam serangan masifnya yang diklaim oleh Arab Saudi maupun UEA bertujuan memutus jalur logistik utama Ansarullah dan memaksanya duduk ke meja perundingan.

Koalisi Arab pada 20 Juni lalu mengumumkan pihaknya berhasil menguasai Bandara Hudaydah, namun pasukan lokal dan kelompok-kelompok penyalur bantuan mengatakan kepada Reuters bahwa pasukan koalisi tidak mengusai sepenuhnya bandara itu dan kawasan sekitarnya yang berjarak 20 kilometer dari kedua sisinya.

Reuters juga mengutip pernyataan Kepala Komisi Tinggi Revolusi Yaman Mohammad Ali al-Houthi bahwa pasukan koalisi “sama sekali tidak menguasai Bandara Hudaydah.”

Sementara itu, sumber pasukan pro mantan presiden Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi yang didukung koalisi Arab mengatakan bahwa Ansarullah menguasai sisi utara kawasan tersebut, sedangkan pasukan yang didukung koalisi berusaha mempertahankan posisi-posisinya di sisi selatan.

Seorang pejabat lembaga penyalur bantuan yang meminta namanya dirahasiakan mengatakan bahwa pasukan koalisi semula memang berhasil menerobos pagar Bandara Internasional Hudaydah, “tapi hal itu hanya berlangsung selama 24 jam karena mereka kemudian didesak keluar dari sana.”

Reuters menyebutkan bahwa Ansarullah yang mengusai berbagai kawasan Yaman yang lebih padat penduduk, termasuk Sanaa, ibu kota negara ini, juga menggunakan metode perang gerilya. Pasukan yang berada di bawah komando Uni Emirat Arab di dekat Bandara dan di jalur pesisir yang digunakan oleh pasukan koalisi untuk memulihkan penyaluran logistik pasukannya dari pangkalan-pangkalan militer di pesisir barat mendapat serangan-serangan kecil dari Ansarullah.

Uni Emirat Arab sempat mengumumkan penghentian operasi militer untuk sementara waktu, dan setelah itu pertempuran berkobar lagi. Pada Jumat dan Sabtu lalu pasukan yang didukung koalisi berusaha menekan Ansarullah agar menjauh dari pesisir demi mengamankan jalur pesisir selatan Hudaydah.

Direktur Program Timteng dan Afrika Utara untuk Kelompok Krisis Internasional, Joost Hilterman, mengatakan, “Sulit untuk melihat kelompok Ansarullah segera kalah di Hudaydah, walaupun seandainya pasukan koalisi mengaktifkan apa yang disebutnya resistensi lokal.”

Pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi yang didukung Barat mulai terlibat dalam perang Yaman pada Maret 2015 dengan dalih demi memulihkan pemerintahan Abd Rabbuh Mansour Hadi. (mm/alalam)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*