LiputanIslam.com –  Rusia telah menenerima penyerahan jenazah pilot jet tempur Su-24 miliknya yang ditembak jatuh di kawasan Saraqib, provinsi Idlib, oleh kawanan teroris Hayat Tahrir Sham alias Jabhat Al-Nusra, cabang Al-Qaeda di Suriah. Turki berperan dibalik pengembalian jenazah tersebut, dan bisa jadi puing jet tempur itu juga akan dikembalikan sesuai permintaan Rusia.

Presiden Rusia Vladimir Putin yang menyebut pilot berusia 33 tahun itu sebagai pahlawan gagah berani karena menolak menyerah sehingga memilih meledakkan diri dengan granad setelah didatangi kawanan Al-Nusra sejauh ini masih bungkam, namun menghendaki pengembalian semua bagian serpihan jet tempur tersebut untuk diperiksa dan diketahui senjata MANPADS apa yang digunakan untuk menembaknya, apakah jenis Stinger buatan Amerika Serikat (AS) atau SAM buatan Rusia generasi lama.

Ada dua dugaan tentang ini. Pertama, senjata buatan AS yang didapat Al-Nusra melalui pihak ketiga untuk mencegah gerak maju tentara Suriah yang didukung pasukan udara Rusia menuju jantung kota Idlib, markas terakhir kubu oposisi Suriah di barat daya Suriah. Kedua, senjata lama buatan Rusia yang didapat dari arsenal Suriah yang jatuh ke tangan oposisi, atau dari Ukraina.

Sementara itu, Reuters Senin lalu melansir pernyataan seorang komandan militer aliansi yang mendukung Presiden Suriah Bashar Al-Assad bahwa tentara Suriah menyebar sistem pertahanan udara baru dan rudal-rudal anti jet tempur di beberapa wilayah Aleppo dan Idlib untuk menjangka seluruh kawasan utara Suriah.

Hal ini mengindikasikan bahwa Rusia akan melakukan pembalasan atas insiden penembak jatuhan jet tempur yang menewaskan pilotnya di Idlib tersebut. Rusia ingin menghabisi kelompok-kelompok Al-Nusra persis seperti yang terjadi di bagian timur kota Aleppo sekira satu tahun lalu.

Pertanyaan yang mengemuka kemudian ialah untuk apa tentara Suriah menebar sistem pertahanan udara baru, apalagi Jabhat Al-Nusra tidak memiliki pesawat udara untuk ditembak?

Jawabannya telah diisyaratkan dalam pernyataan Wakil Menlu Suriah Faisal Mekdad yang mengancam akan menembak jet tempur Turki yang melanggar zona udara Suriah. Ancaman ini dinyatakan sebelum Turki memulai operasi militer terhadap milisi Kurdi di kawasan Afrin dan bersamaan dengan maraknya ancaman Turki terkait milisi Kurdi.

Sejauh ini, jet tempur Turki yang melanggar zona udara Suriah di kawasan Afrin ialah jet tempur yang membom beberapa posisi milisi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) yang menguasai kawasan ini. Para pejabat setempat meminta tentara Suriah turun tangan membela kota Afrin di depan serangan Turki, tapi Rusia tampaknya meminta Suriah tidak memenuhi permintaan itu di tengah beredarnya kabar mengenai adanya kesepakatan Rusia-Turki, termasuk mengenai penarikan pasukan Rusia dari Afrin.

Tentara Suriah boleh dikata tidak mungkin mengerahkan sistem pertahanan udara tersebut tanpa koordinasi dengan Rusia yang bertekad untuk menghabisi Jabhat Al-Nusra yang menguasai Idlib dan bertengger di nomor teratas dalam daftar hitam teroris versi Rusia.  Hal merupakan peringatan bersama Rusia dan Suriah bahwa jet tempur Turki akan beresiko dihajar sistem pertahanan udara“baru” Suriah, rudal yang tampaknya mengacu pada S-300 atau bahkan S-400 buatan Rusia, sebab tak ada yang baru selain itu.

Semua penjelasan di atas memang sebatas analisis dan perkiraan semata. Hanya saja, pembalasan Rusia pasti akan terjadi tanpa bisa ditawar lagi, kecuali jika Turki bersedia menyerahkan penggalan kepala para petinggi Al-Nusra dan para sekutunya di Idlib di atas talam emas kepada Rusia. Tanpa ini Rusia tidak mungkin akan diam karena tiga faktor sebagai berikut;

Pertama, operasi militer Turki masih berjalan di tempat, tidak menghasilkan kemajuan seperti yang diinginkan akibat perlawanan sengit milisi Kurdi hingga menjatuhkan banyak korban jiwa pada tentara Turki.

Kedua, AS menolak penarikan pasukannya dari kawasan Manbij meskipun Turki gencar melontarkan ancaman untuk menyerang kota yang dikuasai Kurdi ini.

Ketiga, Turki pernah mundur di depan Rusia di Aleppo timur dan tidak turun tangan melindungi para sekutunya, termasuk Jabhat Al-Nusra dan Pasukan Kebebasan Suriah (FSA), demi menghindari kemarahan kubu Rusia. Saat itu Turki malah mendukung evakuasi kawanan militan tersebut dengan bus-bus hijau dari Idlib dengan kondisi yang hanya diperbolehkan membawa persenjataan ringan. Ini menunjukkan betapa pragmatisme telah membuat Turki menempatkan kepentingannya sendiri di atas segalanya.

Tentara Suriah sudah berhasil merebut pangkalan udara Abu Duhur dan bergerak menuju distrik Saraqib serta merebut puluhan atau bahkan bisa jadi ratusan desa di pinggirin kota Idlib. Mereka bersiap-siap melancarkan serangan mematikan ke kota ini, dan hanya tinggal menunggu lampu hijau yang akan atau bahkan bisa jadi sudah dinyalakan Rusia menyusul insiden penembakan Su-24. Kartu ini akan dipertahankan oleh Putin, dan kasabarannya sekarang adalah untuk memperoleh alasan yang lebih kuat dan membuat perhitungan yang lebih cermat. (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL