LiputanIslam.com –  Kunjungan Sayyid Moqtada Sadr, salah satu tokoh Syiah Irak, ke Kerajaan Arab Saudi mengundang perhatian banyak orang di kawasan Timteng, baik karena momennya maupun karena reaksi pro dan kontranya terkait dengan krisis hubungan Saudi-Iran.

Kunjungan ini menarik karena terjadi atas undangan Putera Mahkota Saudi Pangeran Mohammad Bin Salman sebagai manifestasi awal perhatian Saudi kepada kekuatan-kekuatan politik dan keagamaan Syiah Irak dengan tujuan sedapat mungkin mengimbangi pengaruh Iran di Negeri 1001 Malam.

Faksi Sadr di parlemen Irak menempati sekira 34 kursi serta memiliki milisi tangguh bernama “Brigade al-Salam” dengan jumlah personil puluhan ribu orang sehingga menjadi komponen utama pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi yang membantu pasukan Irak dalam perang melawan kelompok teroris ISIS, ketika media Saudi tak henti-hentinya menebar propaganda anti pasukan relawan ini dengan tuduhan bahwa mereka adalah milisi sektarian yang mengancam hak warga Sunni Irak.

Sebelumnya Saudi juga menerima kunjungan terpisah Mendagri Irak Qasim al-Araji dan Perdana Menteri Irak Haeder Abadi.  Ada kemungkinan mantan perdana menteri Irak Ayyad Alawi dan para politisi Irak lainnya juga akan berkunjung ke Saudi.  Kecuali mungkin al-Araji, mereka bukanlah orang yang sepenuhnya sepakat dengan Iran sehingga mereka mendapat perhatian dari Saudi yang ingin merenggangkan hubungan Baghdad dengan Teheran  setelah Irak terbebas dari ancaman ISIS.

Kunjungan Sadr ke Saudi dengan segala daya tariknya juga tak lolos dari kritikan para pejabat dan politisi Irak serta media Iran, dan peristiwa ini terjadi bersamaan dengan penindasan rezim Saudi terhadap warga Syiah di Ahsa’, bagian timur Saudi, di mana sejumlah orang dihukum mati dan lima orang lainnya terbunuh diterjang peluru di kawasan Awamiyah  dan Qatif belum lama ini.

Para pendukung Sadr menentang campurtangan Saudi dalam urusan internal Irak tapi juga menolak “perwalian” Iran atas Irak sehingga pada gilirannya kelompok Sadr bisa menengahi krisis hubungan Iran-Saudi, sekaligus menengahi pergesekan antara rezim Saudi dan para pemimpin Syiah yang beroposisi di Qatif, sementara pihak yang kontra- Sadr di Irank dan Iran menilai kunjungan ini berpotensi menambah polarisasi di Irak sehingga mengusik proses persatuan nasional dan pemulihan kondisi fisik, moril, dan politik di Irak di masa mendatang.

Mohammad Bin Salman menyoraki ketegangan antarkelompok suku dan lain-lain di Irak karena dia bermaksud melawan apa yang disebutnya keinginan Iran menebar pengaruh di Irak dengan motif sentimen sektarian. Namun demikian, peluang Bin Salman sangat kecil untuk dapat mengikis pengaruh Iran di Irak karena rerotika politiknya selama ini justru bermuatan sektarian anti Syiah sebagai mazhab yang dianut mayoritas umat Islam di Iran dan Irak maupun banyak orang di Yaman dan Suriah.

Media dan para da’i terkemuka Saudi umumnya gemar mencaci kaum Muslim Syiah dan menyebut mereka musuh Sunni, sesat, murtad, rafidhah, Majusi, dan lain-lain, namun sekarang malah mengundang salah satu tokoh Syiah Irak dan menyambut kedatangannya dengan penuh kehormatan sehingga terlihat kontradiktif dan menunjukkan betapa kepentingan politik selama ini begitu larut dalam kenaifan sektarianisme, sementara beralih dari kebijakan politik sektarian kepada semangat keterbukaan dan toleransi tidak semudah membalikkan tangan.

Pertemuan antara Moqtada Sadr dan Bil Salman dengan sendirinya menuntut orang-orang Saudi dan negara-negara Arab Teluk lainnya berhenti melontarkan tuduhan dan stigma buruk terhadap kaum Muslim Syiah, dan balik menjadikan mereka sebagai saudara seagama yang dapat hidup rukun dengan mereka. Peristiwa ini juga mengesankan betapa Saudi sudah seharusnya menghentikan perang yang dikobarkannya di Suriah, Irak dan Yaman dengan motif sektarian dan telah menelan biaya miliaran USD, untuk kemudian membuka pintu dialog politik dan pemikiran yang mendalam demi mencapai titik penyelesaian yang mendatangkan era baru rekonsialiasi dan kerukanan hidup semaksimal mungkin.

Memang, tidak mudah orang percaya bahwa undangan rezim Riyadh kepada tokoh Syiah Irak itu bertolak dari faktor hakiki yang berbuah  perubahan kebijakan dan aliansi. Tapi kecerdasan berpolitik setidaknya menuntut strategi yang solid, berjangka panjang, dan tidak sebatas mengikuti selera dan kepentingan sesaat.

Dunia Arab sudah terseret ke jurang malapetaka dan kehancuran akibat perpecahan dan konflik sektarian yang bibitnya menyebar akibat intervensi Amerika Serikat di kawasan ini selama setengah abad terakhir.

Saudi bertualang dengan operasi “Badai Mematikan” di Yaman, menyulut perang Suriah, terlibat dalam konflik di Libya, dan menyokong serangan dan pendudukan atas Irak, tapi hasilnya justru menjadi bumerang bagi Saudi dan kawasan secara umum. Karena itu, sekareang tiba saatnya bagi negara kerajaan ini untuk mencoba menikmati indahnya rasionalitas serta dialog dan kerukunan hidup. (mm)

Sumber: Ray al-Youm

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL