LiputanIslam.com –  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menyatakan sikap dan strateginya yang didasari berbagai tuduhan miringnya terhadap Iran. Dalam pidato pada Jumat (14/10/2017) dia mengumumkan strategi baru pemerintahannya dalam menghadapi Iran.  Lagi-lagi dia mengecam perjanjian nuklir Iran dengan enam negara terkemuka dunia, termasuk AS sendiri, dan menyebutnya perjanjian terburuk dalam sejarah AS.

Strategi baru yang dimaksudkan untuk memberikan tekanan lebih keras terhadap Iran ini segera disusul dengan sambutan baik dari sebagian rezim Arab,  yaitu Arab Saudi yang notabene sekutu terdekat AS, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Sebagaimana Israel, mereka mendukung pendirian Trump.

Namun demikian, khalayak dunia justru menentang isi pidato Trump. Negara-negara Eropa bahkan menekankan komitmen mereka untuk tetap menerapkan perjanjian nuklir bernama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tersebut. Mereka mengecam pidato Trump dan mendukung sikap Iran terkait dengan JCPOA.

Lantas ,mengapa tiga negara Arab itu justru mendukung Trump, sementara khalayak dunia menentangnya dan mendukung kontinyuitas JCPOA? Jawabannya dapat ditelusuri dari kondisi dan tahap sebelum perjanjian ini diteken.

Rezim-rezim Arab kaya minyak ini sejak awal memang menentang perjanjian nuklir lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (AS, Rusia, Inggris, Perancis, dan Cina) plus Jerman dengan Iran. Dalam berbagai pertemuan formal maupun informal mereka telah meminta presiden AS saat itu, Barack Obama, tidak menjalin perjanjian nuklir dengan Iran karena mereka merasa dirugikan oleh perjanjian ini.

Rezim-rezim Arab hanya akan menyambut baik apa saja yang dapat membendung pengaruh regional Iran yang mereka nilai berseberangan dengan kepentingan mereka. Karena itu berbagai upaya sudah mereka tempuh untuk menggagalkan JCPOA, tapi selanjutnya mereka frustasi setelah mereka mencium tekad pemerintahan Obama untuk meneken JCPOA.

Sekarang Saudi merasakan angin segar sejak Obama diganti oleh Donald Trump.  Saudi lantas mengerahkan segenap kemampuannya untuk melakukan apa yang disebutnya “perlawanan terhadap Iran di Timteng.” Pemerintahan baru AS menjadi tempat bagi Riyadh untuk menambatkan harapannya setelah semua sepak terjangnya di Suriah, Irak, dan Yaman menguap sia-sia.  Saudi berharap sedapat mungkin bisa menebus kekalahan demi kekalahan ini.

Hanya saja, karena Trump adalah sosok pengusaha sehingga memandang semua isu ini dengan kacamata bisnis dan kalkulasi untung-rugi maka jelas tak kecil biaya yang harus ditanggung Riyadh dalam menggantungkan harapan kepada Gedung Putih. Dalam rangka ini, transaksi pembelian senjata dari AS dengan nilai yang fantastis menjadi andalan Riyadh untuk mengambil hati sosok Trump. Gayungpun bersambut, Trump bahkan mengelus Saudi dan sekutunya serta menohok Iran dengan cara menyebut Teluk Persia dengan nama baru “Teluk Arab” sehingga berbagai media dunia menyebutnya dengan “perang kosakata.”

Negara Arab Teluk itu gelisah menyaksikan besarnya pengaruh regional Iran serta perkembangannya di berbagai bidang, terlebih militer, yang terjadi justru di saat Iran dihantam badai embargo sewenang-wenang.

Saudi dan sekutunya di kawasan juga kecewa berat karena meskipun sudah menghamburkan dana besar-besaran untuk mendukung para teroris di Suriah, pemerintahan Bashar al-Assad ternyata tetap bertahan solid, sementara Hizbullah yang bermarkas di Lebanon kian hari kian menguat di kawasan sekaligus menjadi salah satu pemain utama di ranah politik Lebanon.

Di Irak, pemerintah dan rakyat negara ini berhasil mengalahkan gerakan terorisme yang direpresentasikan oleh kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). ISIS di  Negeri 1001 Malam sekarang sedang  menghirup nafas-nafas terakhirnya.

Di Yaman, kelompok Ansarullah masih menguasai sebagian besar wilayah negara ini dan terus bertahan solid menghadapi agresi Saudi dan sekutunya. Kelompok ini belakangan mengajukan beberapa syarat kepada Saudi untuk masuk ke meja perundingan.

Negara-negara Arab memandang semua ini tidak mungkin terjadi karena kebetulan, melainkan karena Iran bertanggujawab di baliknya, dan menganggap Iran melakukan campur tangan dalam urusan internal negara-negara Arab.

Di saat yang sama Trump merasa perlu membendung  dan menyurutkan pengaruh Iran karena dia memandangnya sangat merugikan Israel dan Saudi, dua sekutunya di Timteng. Dalam rangka inilah Trump menyoal persenjataan Iran. Dari sini mulai jelas realitas di balik kemarahan negara-negara itu terhadap IRGC.

Dalam pidato Jumat pekan lalu, Trump memasukkan IRGC dalam daftar organisasi teroris yang layak dikenai sanksi di saat semua orang mengetahui IRGC justru andil besar dan bekerjasama dengan sejumlah negara Timteng dalam penumpasan teroris.  Tindakan ini sejalan dengan pernyataan terbaru Menlu Uni Emirat Arab Anwar Qarqash bahwa semua upaya regional harus dikerahkan untuk membendung pengaruh Iran.

Iranphobia terus didengungkan oleh rezim-rezim Arab sekutu AS sembari mengabaikan bahaya Rezim Zionis Israel yang notabene musuh besar dunia Arab dan Islam. Mereka bahkan menjalin hubungan bisnis dengan rezim penjajah Palestina ini.

Iran sendiri yang sekian lama dihantam badai embargo justru menghasilkan kemajuan yang memukau di berbagai bidang, termasuk sains dan militer. Hal ini terjadi seiring dengan merebaknya slogan-slogan perjuangan Iran hingga menerjang batas-batas geografis dan merebut simpati banyak orang di negara-negara regional.

 

Tindakan rezim-rezim Arab menyesuaikan diri dengan Trump demi membendung pengaruh Iran hanya akan sia-sia belaka. Di saat mereka sendiri tak akur, Iran justru tak pernah berhenti berjuang melawan para neo-imperialis serta terorisme yang menjadi alat mereka. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL