turkish-tanks

Tank-tanki yang dikerahkan pemerintah Ankara di perbatasan Turki-Suriah di dekat kota Kobane

LiputanIslam.com – Perkembangan yang terjadi di Suriah kian mencekam bukan saja karena kota Ain al-Arab atau yang disebut warga Kurdi dengan nama Kobane berada di ambang kejatuhan ke tangan kelompok teroris takfiri Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), melainkan juga karena ada gerak-gerik militer Turki yang terlihat sangat mencolok di sepanjang perbatasan Suriah tak jauh dari kota tersebut, sehingga menjadi alarm bagi Iran yang merupakan sekutu Suriah. Turki ditengarai mencoba memanfaatkan perkembangan situasi di Kobane sebagai kesempatan untuk mengganyang pemerintah Damakus.

Pakar Timur Tengah Habib Fayad menilai pesan “Poros Resistensi” dan Rusia terhadap Barat dan Turki terkait Suriah sebagai pesan yang sangat serius dan dapat menjurus pada perang yang tidak akan jelas hasilnya.

Poros Resistensi (Axis of Resistence) adalah istilah politik yang popular dan diluncurkan pertama kali oleh koran Libya Al-Zahf Al-Akhdar sebagai respon atas istilah “Poros Kejahatan” (Axis of Evil) yang digagas oleh George W. Bush pada tahun 2002 saat dia menjabat sebagai presiden Amerika Serikat (AS) untuk menyebut Iran, Irak dan Korea Selatan yang resisten terhadap Gedung Putih. Belakangan, istilah Poros Resistensi menjadi jargon yang disandang Iran, Suriah, Lebanon dan Palestina yang resisten terhadap AS dan Israel. Rusia dan Irak terkadang juga dikaitkan dengan poros ini.

Dalam wawancara dengan TV Lebanon al-Mayadeen, saat menyinggung peringatan Iran kepada Turki mengenai campurtangan militer di Suriah, Fayad mengatakan, “Saya memiliki informasi terpercaya mengenai adanya koordinasi kuat Teheran, Moskow, Damaskus dan Hizbullah satu sama lain untuk mengantisipasi kemungkinan adanya tindakan militer terhadap pemerintah Suriah.”

Dua hari lalu Wakil Menteri Luar Negeri Iran Urusan Arab dan Afrika, Hossein Amir Abdollahian, memperingatkan negara-negara Barat dan Turki supaya jangan coba-coba melakukan upaya-upaya untuk menggulingkan pemerintahan Suriah karena hal ini akan “berdampak keras bagi koalisi AS-Zionis”. (Baca juga: ISIS Dikabarkan Kuasai Sepertiga Kota Kobane, Iran Akan Bantu Milisi Kurdi)

Fayad mengatakan bahwa peringatan Poros Resistensi kepada Barat dan Turki itu merupakan sinyalemen kuat bahwa upaya penggulingan kubu Barat terhadap pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad akan menjurus pada perang yang tak akan jelas ujung dan hasilnya.
Pernyataan Abdollahian itu sendiri menjadi berita besar dan topik utama berbagai media Timur Tengah. Apalagi, di saat Turki cenderung berharap ISIS dapat membasmi petempur Kurdi Suriah karena berafiliasi dengan Partai Pekerja Kurdi Turki (PKK) yang notabene musuh pemerintah Ankara, Teheran justru menyatakan akan mengirim bantuan kepada para petempur Kurdi Suriah.

Menurut Fayad, pergerakan militer tentara asing di Suriah merupakan garis merah di mata Teheran. Karena itu, lanjutnya, jika Turki melakukan intervensi militer di daratan Suriah untuk mengubahkan percaturan militer yang menguntungkan kubu oposisi bersenjata Suriah maka besar kemungkinan Iran juga akan melakukan intervensi militer secara langsung dengan mengirim pasukannya ke Suriah.

Saat ditanya apakah mungkin Iran akan membuktikan ancamannya itu sementara tindakan militer Turki didukung oleh AS serta Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan sejumlah negara Arab, Fayad mengatakan, “Iran memang lemah untuk kawasan Samudera Atlantik dan Eropa, tapi tidak demikian di Timur Tengah. Dalam beberapa tahun terakhir ini kita melihat bahwa AS-lah yang mundur di hadapan Iran.”

Pemerintah Ankara belakangan ini mengerahkan dan menjajar ratusan tank dan perlengkapan militernya di wilayah perbatasan Turki-Suriah setelah parlemen Turki mengesahkan draft aksi lintas batas militer negara ini.

Pengerahan ini dilakukan bersamaan dengan terjadinya situasi genting di mana kota Ain al-Arab atau Kobane, Suriah, yang terletak di dekat perbatasan Turki berada di ambang kejatuhan ke tangan kawanan teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sehingga muncul spekulasi dari para pengamat bahwa Turki sedang menantikan kejatuhan kota berpenduduk Kurdi itu untuk kemudian masuk ke kota ini dengan kedok melawan ISIS.

Menanggapi perkembangan itu harian New York Times Kamis lalu (9/10) bahkan menyebut Ankara sedang mencoba bermain api.

“Turki bermain taruhan yang berbahaya di Suriah. Di saat kelompok Negara Islam (IS/ISIS) hanya tinggal beberapa mil jaraknya dari perbatasan, Turki kini menghadapi tantangan paling parah dalam beberapa dekade terakhir. Sebagai tanggapan, pemerintah Turki berusaha untuk meraih sesuatu yang mustahil; Ankara ingin melawan IS sekaligus menciptakan perubahan rezim di Suriah dan memutar balik otonomi Kurdi,” tulis media AS ini. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL