LiputanIslam.com –  Hubungan Qatar dengan “tiga saudara kembarnya” sesama negara Teluk Persia terus meradang, sebagaimana juga terlihat dari perang media antara kedua pihak, hingga kemudian Kuwait mencoba pasang badan melakukan upaya mediasi, sebagaimana pernah ia lakukan dalam krisis serupa yang  tak seberap parah pada tahun 2014.

Dalam beberapa hari terakhir pemerintah Qatar memperlihatkan tiga jurus yang mencerminkan karakter dan metode politiknya yang kontroversial; pertama, eskalasi; kedua, de-eskalasi; dan ketiga, “pendinginan.” Qatar kini bermaksud mendinginkan keadaan untuk menyukseskan, atau minimal tidak mengandaskan mediasi Kuwait.

Jurus pertama, terlihat terutama dalam kontak telefon Emir Qatar Syeikh Tamim Bin Hamad al-Thani dengan Presiden Iran Hassan Rouhani setelah tak sampai 24 jam dari merebaknya kontorversi dan krisis. Pada kesempatan ini Emir Qatar mengaku mengerahkan semua lembaga pemerintahannya untuk memperkuat hubungan dengan Iran. Tindakan ini tak ubahnya dengan menabur garam pada luka perselisihannya dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Bahrain. Di sini Qatar menekankan komitmennya pada kebijakan independen dan tidak adanya hasrat mengubah pendirian ini, setidaknya dalam kondisi sekarang.

Jurus kedua, upaya de-eskalasi yang dilakukan dengan pendeportasian aktivis Saudi Abdullah al-Otaibi ke Saudi ketika dia sedang dalam perjalanan menuju Norwegia untuk mencari suaka politik. Tindakan Qatar ini mendapat kecaman dari lembaga Amnesti Internasional karena al-Otaibi tidak akan diadili secara fair dan bisa jadi akan dikenai hukuman penjara secara berlebihan.

Jurus ketiga, upaya pendinginan di mana channel Aljazeera milik Qatar menghapus sebuah karikatur yang dinilai oleh banyak pengguna Twitter Saudi sebagai penistaan terhadap Raja Saudi Salman Bin Abdulaziz. Mengomentari hal ini, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi menyebut Aljazeera telah menghapus karikatur hoax. Aljazeera sendiri mengaku tidak bermaksud menghina “Khadim al-Haraimain.” Jaringan berita ini juga mengatakan bahwa kecaman terkait dengan karikatur itu merupakan upaya sebagian orang memancing ikan di air keruh.

Tiga jurus Qatar ini belum jelas bagaimana pengaruhnya terhadap upaya media Kuwait serta kunjungan yang dilakukan oleh Syeikh Tamim ke Kuwait dalam rangka menyampaikan “ucapan selamat” kepada Emir Kuwait Syeikh Sabah al-Ahmad al-Jaber al-Sabah atas tibanya bulan suci Ramadhan.

Di pihak lain, Saudi jelas menyambut baik kesediaan Qatar menyerahkan aktivis al-Otaibi, apalagi ketika dia akan meminta suaka ke Norwegia untuk kemudian menjadikan negara Eropa ini sebagai panggung bagi kelanjutan aktivitasnya mengungkap berbagai praktik korup dan  pelanggaran HAM yang terjadi di Saudi.

Hanya saja, perselisihan Qatar-Saudi tidaklah sesederhana masalah kesediaan Doha selama ini menampung al-Otaibi di Qatar, melainkan lebih pada soal hubungan Qatar yang terus berkembang dengan Iran. Menlu Qatar Mohammad bin Abdulrahman al-Thani bahkan dianggap telah melanggar semua rambu ketika disebut-sebut telah mengadakan pertemuan dengan jenderal tersohor Iran Qassem Soleimani, komandan Brigade al-Quds Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), dalam kunjungan mendadak ke Baghdad beberapa hari sebelum kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Riyadh.

Emir Kuwait bisa jadi sangat meragukan efektivitas mediasi negaranya, mengingat tuntutan tiga negara yang menjadi lawan Qatar itu sangat besar dan pelik sehingga akan dipenuhi Qatar. Selain itu, pemerintah Saudi juga telah mengandaskan mediasi Qatar yang diteruskan oleh Menlu Kuwait Syeikh Sabah al-Khaled al-Hamad al-Sabah sesuai penugasan dari KTT Dewan Kerjasama Teluk (GCC) di Bahrain Desember lalu terkait hubungan Saudi dengan Iran. Saat itu Saudi merilis pernyataan menolak mediasi itu tepat ketika Menlu Kuwait tiba di Teheran, ibu kota Iran.

Belum lama ini, Menlu Uni Emirat Arab dalam pernyataannya melalui Twitter juga telah memojokkan Qatar, memberikan persyaratan yang memberatkan Doha, menudingnya tak jujur dan tak menghormati perjanjian. Dia menuntut Qatar melakukan perubahan sikap secara fundamental. Tuduhan dan tuntutan ini tentu tidak akan diterima oleh pemerintah Qatar.

Publik di Qatar sendiri menyatakan heran mengapa Qatar menjadi bulan-bulanan lantaran hubungannya membaik dengan Iran, sedangkan hubungan Oman yang juga anggota GCC dengan Iran sejak dulu lebih baik tapi tidak mendapat perlakuan sedemikian rupa. Hanya saja, membandingkan Qatar dengan Oman tidak sepenuhnya tepat, mengingat Oman sejak dahulu sudah dikenal sebagai negara yang selalu bersikap independen dan dapat menjaga hubungan baik dengan semua negara jirannya.

Alhasil, misi Kuwait mengendalikan kemelut hubungan Qatar dengan Saudi Cs hampir pasti akan sia-sia belaka, karena perselisihan yang ada lebih tajam dari sekedar urusan kembalinya para dubes Qatar yang telah ditarik pulang dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Bahrain. Sebaliknya, Qatar dibebani berbagai tuntutan fundamental terkait kebijakan politiknya selama ini, terutama hubungannya dengan Iran, Hamas, dan Ikhwanul Muslimin. (mm)

Sumber: Ray al-Youm

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL