LiputanIslam.com –  Gebrakan demi gebrakan intifada al-Quds selalu membuat Rezim Zionis Israel tercengang dan panik, baik dari segi keamanan dan militer maupun politik. Jumat pekan lalu tiga pemuda Palestina dari dalam wilayah pendudukan Palesina 1948 telah melancarkan operasi serangan di halaman Masjid al-Aqsa hingga menewaskan dua polisi Israel. Kepanikan merebak sehingga Israel tak segan-segan menutup Masjid Baitul Maqdis untuk pertama kali selama 50 tahun terakhir hingga tahap melarang azan dan shalat di dalamnya.

Tiga pemuda itu berasal dari kota Umm al-Fahm yang terletak di Israel alias Palestina pendudukan tahun 1948. Mereka adalah Mohammad Hamid Jabarin, 19 tahun, Mohammad Ahmad jabarin, 29 tahun, dan Mohammad Mufdal Jabarin, 19 tahun. Dengan gagah berani mereka melancarkan serangan di dalam komplek Masjid al-Aqsa hingga menewaskan dua polisi Zionis sebelum mereka sendiri gugur sebagai syahid ditembak pasukan Zionis.

Operasi para pemuda ini tak pelak mendobrak suasana yang belakangan ini terlihat tenang di kota al-Quds sehingga otoritas keamanan Zionis mengira intifada sudah berakhir. “Operasi al-Quds” ini menegaskan bahwa intiafada masih berlanjut dan tidak akan berhenti dalam jangka waktu pendek.

Hebatnya lagi, operasi ini menjadi tamparan keras bagi otoritas keamanan dan intelijen Israel, karena seperti yang dinyatakan oleh kepolisian Israel, tiga pemuda itu sama sekali tidak memiliki rekam jejak keamanan dalam data dinas keamanan umum Israel Shin Bet. Ini menandakan bahwa para pemuda itu berada di luar pantauan.

Juru bicara kepolisian Israel Micky Rosenfeld mengatakan bahwa tiga pemuda itu melepaskan tembakan ke polisi di salah satu gerbang Masjid al-Aqsa kemudian kabur ke dalamnya setelah dikejar dan ditembaki oleh polisi hingga mereka gugur.

Beberapa lama kemudian Rezim Zionis menerapkan sistem keamanan ekstra ketat terutama dengan melarang pendirian shalat di dalam Masjid al-Aqsa. Mereka menutup gerbang-gerbang komplek Masjid al-Aqsa sampai pemberitahuan selanjutnya, tindakan yang belum pernah dilakukan sejak kaum Zionis menduduki al-Quds pada tahun 1967.

Jubir Rezim Zionis Ofir Gendelman mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu segera menggelar rapat keamanan bersama sejumlah menteri dan pejabat keamanannya untuk menentukan sikap pasca operasi al-Quds. Dia juga mengatakan bahwa aparat keamanan Israel telah membongkar rumah duka keluarga tiga pemuda Palestina tersebut.  Dari rapat itu kemudian diambil keputusan penutupan Masjid al-Aqsa untuk sementara waktu.

Menteri Palestina Urusan al-Quds, Adnan al-Husaini, mengatakan bahwa komunikasi terus dilakukan demi menekan Israel agar segera membuka kembali Masjid al-Aqsa. Yordania juga memberikan desakan yang sama dan menyeru Israel agar tidak melakukan tindakan yang dapat mengubah status sejarah Baitul Maqdis.  Jubir resmi pemerintah Yordania Mohammad al-Momani mengatakan pihaknya melakukan komunikasi intensif untuk menekan Israel agar membuka kembali Masjid al-Aqsa.

Menteri Luar Negeri Mesir juga mengungkapkan keprihatinanya yang mendalam atas indisen kekerasan yang terjadi di halaman al-Aqsa dan menyerukan upaya regional dan global untuk memulihkan perundingan damai Palestina-Israel. Dia meminta kedua belah pihak menahan diri dan tidak tergelincir pada kekerasan yang akan memicu ketegangan bernuansa keagamaan di al-Aqsa.

Belakangan Israel membuka kembali komplek al-Aqsa, namun dengan memasang metal detector di setiap pintu masuk. Tindakan ini menjadi penghinaan bagi warga Muslim Palestina dan bahkan umat Islam secara umum. Karena itu, ribuan jemaah Palestina memrotesnya dengan menggelar shalat Isya’ di luar komplek untuk menandai penolakan mereka terhadap pemasangan alat keamanan tersebut.

Menteri Keamanan Publik Israel Gelad Erdan menyebut para pelaku serangan terhadap polisi Israel itu sebagai pelanggaran terhadap garis merah.

Bersamaan dengan ini, sesuai keinginan AS, untuk pertama kalinya Ketua Otorita Palestina Mahmoud Abbas mengontak Netanyahu dan mengungkapkan kecaman dan penolakannnya terhadap penembakan oleh para pemuda Palestina tersebut, namun juga mendesak supaya Israel segera membuka kembali komplek Masjid al-Aqsa dan menghindari segala tindakan yang dimaksudkan untuk mengubah status sejarah dan keamanan tempat-tempat suci.

Betapapun demikian, Erdan malah menuding Abbas telah memotivasi orang-orang Palestina hingga operasi serangan para pemuda itu terjadi.

“Patut kami ingatkan bahwa selama sekian bulan terdapat provokasi bukan hanya di media sosial saja, melainkan juga secara resmi,” kata Erdan.

Abbas sendiri memang menyerukan rakyat agar membela Masjid al-Aqsa karena, menurutnya, ada orang-orang Yahudi yang berusaha menistakan tempat suci ini sehingga terjadi serangan para pemuda Palestina tersebut.  Selanjutnya, polisi Israel membubarkan majelis di rumah duka keluarga para pemuda Palestina itu di kawasan Jabarin, Umm al-Fahm, di bagian selatan Palestina pendudukan 1948.

Sebagaimana ditegaskan oleh Brigade Izz al-Din al-Qassam, bangsa Palestina tidak akan pernah tunduk kepada ketamakan kaum Zionis Israel.

“Operasi al-Quds merupakan penegasan atas opsi bangsa kami berupa muqawamah (resistensi), meskipun ada banyak upaya untuk menundukkan mereka. Dan Masjid al-Aqsa adalah ikon dan temanya,” tegas sayap militer Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) ini. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL