ekstrimis di suriahLiputanIslam.com –  Belakangan ini perkembangan situasi di Suriah diriuhkan oleh kecamuk “perang saudara” antarsesama kawanan teroris di kawasan Ghouta Timur yang bersebelahan dengan Damaskus, ibu kota Suriah.  Mereka saling tuding kafir, berkhianat, penebar fitnah dan lain sebagainya. Dahsyatnya lagi, sebagaimana terlihat dari media-media mereka, mereka saling bantai sambil mengumandang slogan yang sama; “Perang melawan Khawarij dan Anjing Jahannam.”

Gemuruh dan kecamuk perang saudara itu dapat dibayangkan dari laporan lembaga Observatorium Suriah untuk HAM. Lembaga yang berbasis di London dan dekat dengan kalangan oposisi Suriah ini menyebutkan bahwa dalam kurun waktu 20 hari, aksi saling bantai itu telah merenggut nyawa sedikitnya 300 orang yang sebagian besar adalah anggota Jaish al-Islam dan Jabhah al-Nusra. (baca: Dalam 20 hari, 300-an Orang Terbunuh Di Pinggiran Damaskus )

Teroris asal Arab Saudi Abdullah al-Mohaisany mengklaim bahwa kecamuk perang sesama musuh pemerintah Suriah itu dipicu oleh “pemenggalan hukum syariat” sehingga harus dilawan dan ditumpas demi “menolong agama Allah”.  Klaim bermotif agama ini tentu saja absurd karena memang tak sesuai dengan latar belakang di balik kemunculan mereka dan merebaknya fenomena terorisme di Suriah.

Arab Saudi dan Qatar sejak awal atau bahkan sebelum Suriah dilanda krisis pada tahun 2011 sudah terjun ke lapangan untuk menggalang pemberontakan terhadap pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad tersebut. Hanya saja, apa yang terjadi belakangan ini di Ghouta Timur menjadi indikator ketatnya persaingan dua negara Arab Teluk Persia itu di Suriah.

Segi tiga Arab Saudi, Qatar dan Turki sudah mengerahkan segenap upayanya untuk mencegah tercatatnya kelompok Jaish al-Islam dan Ahrar al-Sham dalam daftar organisasi teroris. Mereka juga berusaha keras mencegah kebertenggeran Rusia di atas angin Suriah.  Tapi yang menjadi kendala besar bagi mereka adalah ketidak mampuan mereka mempertahankan perjanjian gencatan senjata antarkelompok ekstrimis dukungan masing-masing. Perjanjian gencatan senjata sangat rentan bagi mereka yang selama ini hanya menjadi eksekutor kebijakan dan agenda pihak-pihak asing di Suriah.

Dengan banyaknya jumlah korban yang tewas dan luka di masing-masing pihak ekstrimis yang terlibat pertempuran, dapat dipastikan mereka tidak akan berhenti memuaskan hasrat dominasi satu sama lain. Hasrat demikian terlihat berapi-api terutama pada pihak Jaish al-Islam yang dibeking rezim Arab Saudi.

Kecamuk perang sesama ekstrimis di Ghouta Timur sudah pasti menguntungkan pasukan pemerintah Suriah, Pasukan Arab Suriah (SAA).  Kondisi itu memudahkan gerak maju dan pembebasan mereka atas sejumlah kawasan di sana, dan ini terjadi bersamaan dengan sepak terjang pemerintah Suriah untuk melancarkan proses rekonsiliasi nasional Suriah di berbagai kawasan.

Nasib para ekstemis dan teroris pada akhirnya hanya akan berujung pada perang mereka melawan SAA. Perilaku khalayak dunia terkait isu Suriahpun dewasa ini tampak sudah lebih menyesuaikan diri dengan realitas ini.

Kesepakatan Amerika Serikat (AS) dengan Rusia pada 10 Mei untuk menggalang gencatan senjata hingga batas tertentu menandai penolakan khalayak dunia terhadap berlanjutnya atraksi jurus mabuk Riyadh, Ankara dan Doha selaku penggerak terorisme di Suriah, apalagi kesepakatan itu mendapat sambutan dan apreasi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). PBB menilainya sebagai satu langkah maju dalam upaya menciptakan perubahan yang positif bagi krisis Suriah.

Pengaruh Rusia sedemikian solid di Suriah sehingga meskipun ulah destruktif Arab Saudi dan Turki di Alpedang kemenangan putineppo mendapat kecaman keras dari Iran, namun sebagian besar negara regional Timteng, termasuk sekutu AS, kini terpaksa menyesuaikan diri dan bahkan merapat ke Rusia yang notabene sekutu utama Iran dan Suriah, demi menjaga interes mereka di masa mendatang. Iran dan Rusia sama-sama mendukung pemerintah Suriah demi mencegah berubahnya negara ini menjadi Libya jilid kedua.

Adaptasi dengan Rusia dapat ditengarai antara lain dari penganugerahan “pedang kemenangan” oleh Raja Hamad bin Isa al-Khalifa dari  Bahrain kepada Presiden Rusia Vladimir Putin beberapa waktu lalu. Dan banyak kalangan di AS sendiri mengakui bahwa pedang kemenangan sekarang memang ada di tangan Rusia dan kubu sekutu Bashar al-Assad.  (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL