LiputanIslam.com –   Sejak meninggalnya pemimpin Mesir Gamal Abdel Nasr pada Juli tahun 1970 belum pernah publik Arab antusias menyimak pidato seorang pemimpin Arab kecuali setelah Sayid Hassan Nasrallah tampil sebagai pemimpin sebuah kelompok pejuang Hizbullah di Libanon.

Nasrallah memukau khalayak Arab bukan hanya karena dia adalah sosok orator yang pernyataan-pernyataannya didukung data dan analisis yang akurat dan faktual, melainkan juga karena tampilannya yang gagah berani dan selalu fokus pada urusan nompor wahid dunia Arab dan umat Islam, yaitu cita-cita pembebasan Palestina dan tanah suci al-Aqsa dari tangan kaum Zionis Israel serta perlawanan sengit terhadap hegemoni AS atas Timur Tengah.

Baca: Nasrallah: Saya Akan Shalat di Masjid Al-Aqsa

Wawancara Nasrallah dengan saluran al-Manar milik Hizbullah Jumat pada 12 Juli lalu juga telah mendapat perhatian dari jutaan orang di Timur Tengah, baik yang pro maupun yang kontra, termasuk para pemimpin politik dan komandan militer Israel.

Hal yang paling mengerikan orang-orang Israel dalam pernyataan Nasrallah kali ini ialah peta Palestina pendudukan serta pesisir Barat Laut Mediteranian yang ditunjukkan Nasrallah. Dia menyebut kawasan yang padat penduduk dan sarat kepentingan vital itu sebagai bank sasaran gempuran Hizbullah jika terjadi perang. Peta yang ditunjukkan Nasrallah sebagai reaksi atas tindakan serupa oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu itu menghiasai halaman pertama semua surat kabar dan headline televisi Israel.\

Baca: Pemimpin Hizbullah: Iran Siap Bombardir Israel Jika Terjadi Perang

Memang, Nasrallah telah berbicara mengenai kemampuan rudalnya, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, serta kemajuan besar yang diraihnya dari pengalaman perang di Suriah. Namun, poin terpenting dalam wawancara itu ialah pernyataannya bahwa Hizbullah tidak memerlukan senjata nuklir ataupun kimia, karena satu rudal saja yang menimpa tangki amonia Israel di pelabuhan Haifa sudah cukup untuk menghancurkan Israel dan membunuh puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu orang Israel.

Pengaruh wawancara Nasrallah bagi nyali orang-orang Israel membuat Netanyahu angkat bicara dan tak lagi cuek seperti biasanya. Dia balik melontarkan pernyataan pedas dengan mengancam akan memberikan serangan mematikan terhadap Hizbullah dan Libanon jika Hizbullah melakukan apa yang disebutnya “tindakan bodoh menyerang Israel.”

Ancaman Nasrallah untuk mengembalikan Israel ke jaman batu bukan berarti bahwa Israel yang usianya baru seumur jagung pernah mengalami era itu dan bahwa Israel memiliki jejak kultural di Palestina dan kawasan sekitarnya. Sebaliknya, itu juga merupakan reaksi atas kebiasaan Netanyahu sendiri menggunakan metode yang sama. Nasrallah bermaksud mendorong mereka agar membayangkan betapa masa lalu kaum Zionis di bumi Palestina hanyalah ilusi belaka.

Baca: Kenapa Hizbullah Begitu Yakin akan Menang di Perang 33 Hari?

Nasrallah kemudian mengaku optimisi dan bertekad untuk shalat di Masjid al-Aqsa, seakan mengingatkan umat Islam dan Arab bahwa cita-cita itu tak mungkin terwujud kecuali dengan pembebasan seluruh wilayah pendudukan.

Optimisme itu bukanlah sesuatu yang mustahil dan tanpa alasan. Jurnalis senior Inggris John Simpson di saluran televisi BBC bahkan menutup reportasenya dalam peringatan setengah abad berdirinya Israel dengan keraguan dan tanda tanya “apakah perayaan seabab berdirinya Israel akan dapat dilakukan kelak di tengah perpecahan dalam tubuh Israel sendiri dan dinamika situasi sekitarnya?”

Baca: Hamas Nyatakan Hubungan dengan Suriah Belum Terjalin, Tapi dengan Iran Sangat Baik

Ancaman Netanyahu untuk menghancurkan Hizbullah dan Libanon bukan sesuatu yang menakutkan orang-orang Libanon, sebab tentara Israel sudah tiga kali kalah perang di Lebanon di tangan para pejuang Hizbullah dan Palestina.

Nasrallah maupun Netanyahu mungkin tidak menghendaki perang. Tapi perang diyakini pasti akan terjadi dan tak terelakkan di masa mendatang. Pertanyaannya, mungkinkah kaum Zionis dapat hidup normal dan tentram di tengah belantara rudal yang mengepungnya dari semua sisi di saat teknologi dan pasukan AS belakangan tak sanggup lagi memberikan perlindungan kepada Israel dengan performa seperti sebelumnya? Jelas tak mungkin.

Untuk melihat bagaimana ketakutan yang melanda Israel, cukuplah kiranya orang melihat reaksi Netanyahu atas ancaman kelompok pejuang Hamas dan Jihad Islam untuk membalas darah anggota Hamas Mahmoud al-Adham yang gugur diterjang peluru pasukan Zionis di dekat perbatasan Jalur Gaza belum lama ini. Netanyahu kali ini meminta maaf atas kejadian itu dan menyebutnya kejadian di luar kesengajaan serta berharap mediasi Mesir secepatnya akan dapat mencegah pembalasan dari para pejuang Palestina.

Padahal, kapan Netanyahu sebelumnya pernah meminta maaf kepada Palestina, dan berbicara mengenai tindakan di luar kesengajaan? Dan kapan pula dia menyatakan mediasi Mesir akan positif untuk mencegah pembalasan berupa hujan rudal dari para pejuang Palestina di Jalur Gaza? Sama sekali belum pernah.

Baca: Israel Minta Rusia Jauhkan Hizbullah dari Golan

Alhasil, rasa percaya diri yang memancar dari keimanan sosok semisal Sayid Hassan Nasrallah seperti terlihat jelas dalam berbagai pernyataan dan wawancaranya telah menjadi momok paling mengerikan bagi Israel, serta menebar keyakinan lintas batas di Libanon, Suriah, Irak, dan Jalur Gaza di mana kubu resistensi semakin eksis dan solid. Situasi sudah berubah. Israellah yang kini hidup dirundung ketakutan terhadap perang dan bergetar nyalinya ketika mendengar kata perang. (mm/raialyoum)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*